Universitas Airlangga Official Website

Potensi Bahan Herbal Ekstrak Sereh Wangi

Sereh wangi adalah tumbuhan rimpang yang banyak digunakan masyarakat sebagai obat tradisional. Tumbuhan ini banyak dijumpai dan terkadang tumbuh liar di beberapa tempat. Tanaman serai dipercaya berasal dari Asia Tenggara atau Sri Lanka. Tanaman ini tumbuh alami di Sri Lanka, tetapi dapat ditanam pada berbagai kondisi tanah di daerah tropis yang lembab, cukup sinar matahari dan memiliki curah hujan relatif tinggi. Saat ini, tanaman serai dapat ditanam meluas dalam kawasan tropika. Kebanyakan negara menanam serai untuk menghasilkan minyak atsirinya secara komersial dan untuk pasar lokal sebagai perisa atau rempah ratus. Di Indonesia terdapat dua jenis tanaman serai yaitu serai dapur (Cymbopogon citratus) dan serai wangi (Cymbopogon nardus). Tanaman serai ini banyak ditemukan di daerah Jawa yaitu di dataran rendah yang memiliki ketinggian 60-140 mdpl.

Tanaman serai wangi merupakan tanaman dengan habitus terna perennial dan disebut dengan suku rumput-rumputan. Tanaman serai wangi  memiliki akar yang besar. Akarnya merupakan akar serabut yang berimpang pendek (Arzani dan Riyanto, 1992). Batang tanaman serai wangi bergerombol dan berumbi, lunak dan berongga. Isi batangnya merupakan pelepah umbi untuk pucuk dan berwarna putih kekuningan. Namun ada juga yang berwarna putih keunguan atau kemerahan. Batangnya bersifat kaku dan mudah patah serta tumbuh tegak lurus di atas tanah.

Tanaman serai mengandung minyak esensial atau minyak atsiri yang terdiri dari aldehid isovalerik, betakariofilen, dipenten, furfural, geraniol, limonene, linalool, mircen, metilheptenon, neral, nerol, sitral dan sitronellal. Serai wangi mempunyai metabolit sekunder antara lain saponin, tanin, kuinon dan steroid. Selain itu tumbuhan ini mengandung kumarin dan minyak atsiri. Pada tanaman, senyawa metabolit sekunder memiliki beberapa fungsi, diantaranya sebagai atraktan (menarik organisme lain), pertahanan terhadap patogen, perlindungan dan adaptasi terhadap stress lingkungan, pelindung terhadap sinar ultra violet, sebagai zat pengatur tumbuh dan untuk bersaing dengan tanaman lain. Senyawa ini juga banyak digunakan oleh manusia sebagai bahan obat karena mengandung senyawa tertentu untuk pengobatan.

Sereh wangi adalah tanaman rimpang yang banyak digunakan dan terbukti karena khasiatnya. Skrining fitokimia serai wangi menunjukkan bahwa tumbuhan ini mengandung flavonoid, terpenoid, saponin dan tanin.  Flavonoid merupakan metabolit sekunder yang umum ditemukan pada tanaman. Flavonoid mengurangi senyawa yang menghambat oksidasi reaksi. Flavonoid dapat menjadi antioksidan karena dapat mentransfer senyawa radikal bebas. Flavonoid memiliki efek antioksidan biologis yang kuat yang dapat menghambat pembekuan sel darah, menghambat pertumbuhan sel kanker, dan merangsang produksi oksida nitrat.  Di sisi lain, serai wangi  memiliki kemampuan sebagai larvasida untuk Aedes aegypti. Hal ini karena tanaman serai dapat digunakan sebagai fungisida nabati untuk menghambat pertumbuhan jamur pada batang karet. Kandungan sitronela dan geraniol pada daun serai wangi dapat menghambat pertumbuhan bakteri Propionibacterium acnes.

Hasil penelitian Purnobasuki et al. (2024) juga menunjukkan aktivitas antioksidan yang signifikan dan jenis metabolit sekunder dari serai wangi. Metabolit sekunder dalam serai wangi bervariasi tidak seperti tanaman rimpang lainnya yang banyak mengandung flavonoid. Serai wangi memiliki kandungan utama komponen elemol. Elemol tertinggi ditemukan pada batang yang sering digunakan dalam kosmetik dan wewangian karena memiliki wangi yang khas. Kandungan flavonoid dalam Cymbopogon nardus juga merupakan yang tertinggi di antara Cymbopogon tratus dan Imperata Cylindrica (alang-alang), sehingga potensi radikal bebas juga tinggi. Potensi radikal bebas yang signifikan dengan kandungan antioksidan yang lebih tinggi dari Cymbopogon citratus dan Imperata cylindrical.

Cymbopogon nardus, baik serai wangi maupun jenis serai, sebagai obat atau sebagai bumbu penyedap sangat efektif karena memiliki kandungan flavonoid tertinggi dibandingkan daun atau akar pada serai wangi dan serai dan serai. Flavonoid terjadi secara alami pada tanaman dan memiliki manfaat kesehatan manusia. Studi tentang turunan flavonoid telah menunjukkan berbagai aktivitas bahan obat dalam mengurangi penyakit yang disebabkan oleh bakteri, virus, kanker, alergi, dan peradangan.

Dari hasil penelitian tersebut nampaknya memang tidak diragukan potensi herbal dari tanaman ini. Oleh karena itu diperlukan tindakan nyata untuk budidaya dan pemanfaatannya secara terprogram dan bijaksana sehingga dapat memberikan kemanfaatan yang maksimal bagi manusia.

Penulis: Hery Purnobasuki

Sumber: https://www.ijper.org/article/2223