Universitas Airlangga Official Website

Potensi Bakteri Bacillus subtilis Strain LS9.1 Lokal Surabaya

Nyamuk Aedes aegypti penular berbagai penyakit seperti demam berdarah dengue (DBD), demam kuning, ensefalitis virus, filariasis, dan Zika. Penyakit tersebut masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius di dunia, termasuk Indonesia. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut seperti melakukan pengendalian populasi vektor A. aegypti menggunakan bahan kimia pada daerah endemis, namun hal tersebut terbukti menimbulkan banyak dampak negatif seperti resistensi pada serangga sasaran, membunuh serangga non target, dan dampak negatif lainnya pada lingkungan. Sehingga, diperlukan alternatif lain yang lebih efektif dan ramah lngkungan.

Penggunaan bioinsektisida berbahan baku bakteri dapat menjadi solusi dari permasalahan tersebut. Bioinsektisida mempunyai keungggulan lebih ramah lingkungan dan tidak meninggalkan residu berbahaya bagi tanaman, manusia, maupun lingkungan. Beberapa peneliti telah mengembangkan penggunaan mikroorganisme, salah satunya adalah bakteri sebagai agen pengendali hayati terhadap larva nyamuk, contohnya bakteri dari kelompok Bacillus. Dalam pengembangan bioinsektisida, telah dilaporkan bahwa strain dari bakteri Bacillus thuringiensis telah diketahui memiliki toksin larvasidal terhadap A. aegipty dan sudah banyak produk bioinsektisida berbahan baku bakteri tersebut yang dijual di pasaran.

Dalam penelitian ini dilakukan pengembangan terahadap agen pengendali hayati vaktor nyamuk A. aegypti menggunakan bahan baku strain lokal Bacillus subtilis Strain LS9.1, bakteri ini diisolasi dari larva nyamuk A. aegipty di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan cara melakukan uji toksisitas larvasidal, untuk mengetahui kekuatan dan kecepatan toksisitas Bacillus subtilis Strain LS9.1 dalam membunuh larva A. aegypti. Serta umtuk mengetahui mekanisme kerjanya

Berdasarkan hasil uji, bahwa Bacillus subtilis Strain LS9.1 menunjukkan toksisitas tinggi terhadap larva instar ketiga dari larva A. aegypti. Berdasarkan penampakan morfologis larva A. aegypti yang telah mati menunjukkan adanya kerusakan pada bagian perut dan dada. Hasil pengamatan dengan Mikroskop Elektron (TEM dan SEM) tidak ditemukan toksin seperti toksin pada B. thuringiensis. Hasil deteksi pada Bacillus subtilis Strain LS9.1, melalui TEM dan SEM tidak ditemukan keberadaan toksin kristal inklusi paraspora. Hal ini mengindikasikan bahwa kematian larva A. aegypti tidak berhubungan dengan adanya toksin kristal inklusi paraspora, tetapi Bacillus subtilis Strain LS9.1 mennghasilkan metabolit sekunder yang mampu merusak membran sel ditunjukkan dengan tes hemolitik positif. Dari penelitian ini menunjukkan bahwa Bacillus subtilis Strain LS9.1 berpotensi dikembangkan sebagai agen pengendali A. aegypti yang merupakan vektor DBD yang ramah lingkungan. Namun masih membutuhkan penelitian pengembangan lebih lanjut, jika diarahkan sebagai biolarvisida terhadap A. aegypti vektor DBD.

Sumber:

Salamun, Ni’matuzahroh, Fatimah, Tri Nurhariyati1, Agus Supriyanto1, Izdihar Tsana3, Farah Aisyah Nafidiastri (2024). Prospects of Indigenous Bacillus subtilis Strain LS9.1 as a Potential Biocontrol Agent against Aedes aegypti Larvae. HAYATI Journal of Biosciences, Vol. 31 No. 2 pp. 293-299. DOI:10.4308/hjb.31.2.293-299. https://scholar.unair.ac.id/en/publications/prospects-of-indigenous-bacillus-subtilis-strain-ls91-as-a-potent