Dewasa ini resistensi antibiotik sudah menjadi salah satu masalah global. Semakin meluasnya resistensi antibiotik mendorong masyarakat untuk mencari penemuan obat baru. Penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri masih menjadi salah satu masalah utama kesehatan di berbagai negara, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia. Tantangan terbesar adalah terjadinya resistensi yang disebabkan salah satunya adalah penggunaannya yang tidak rasional. Hal ini akan memberikan dampak negatif seperti terjadinya reistensi. Salah satu resistensi dapat terjadi adalah resistensi terhadap Extended Strain betalactamase (ESBL). Demikian juga munculnya strain bakteri Staphylococcus aureus yang resistan terhadap antibiotik yang mempersulit proses pengobatan sehingga infeksi terus menyebar. Salah satu strain Staphylococcus aureus yang resistan antibiotik adalah Methicillin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA).
MRSA dan ESBL merupakan penyebab infeksi nosokomial. Infeksi nosokomial adalah infeksi yang berasal dari lingkungan rumah sakit. MRSA ditemukan pada pasien yang transfer antar rumah sakit, pasien yang transfer dari fasilitas perawatan jangka panjang, pasien yang diketahui sebelumnya telah terinfeksi atau pasien dengan luka kronis. ESBL dan MRSA berasal dari spesimen luka, kateter urin, saluran pernapasan, dan lainnya sesuai indikasi klinik dari pasien
ESBL ditemukan pada pasien dengan penyakit berat, pasien yang telah lama dirawat di rumah sakit dengan peralatan medis yang bersifat invasif (kateter urin, kateter vena, dan endotracheal tube) untuk waktu yang lama. Hal ini yang menjadi dasar penggunaan bakteri Methicillin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) dan Extended Strain betalactamase (ESBL) dan yang berasal dari isolasi spesimen klinik dari pasien.
Buah Markisa (Passiflora edulis) adalah buah dari tanaman yang mudah dibudidayakan di daerah tropis dan subtropis. Di Indonesia terdapat 2 varietas buah markisa yang banyak dibudidayakan yaitu markisa merah dan markisa kuning. Buah markisa ini kaya akan kandungan polifenol yang dikenal mempunyai aktifitas antioksidan dan antibakteri. Kandungan senyawa golongan triterpenoid dalam ekstrak metanol dapat mencegah pertumbuhan E. coli, Enterobacter aerogenes, Klebsiella pneumoniae, Pseudomonas euginosa, dan Providencia stuartii. Minyak dari bijinya kaya akan kandungan asam lemak tak jenuh yang juga mempunyai aktivitas antibakteri terhadap Escherichia coli, Salmonella enteritidis,Staphylococcus aureus, dan Bacillus cereus.
Potensi buah markisa inilah yang akan dijadikan sumber untuk mendapatkan sumber obat baru. Untuk itu dilakukan proses fermentasi dari buah markisa. Proses fermentasi ini dilakukan untuk meningkatkan potensi dari buah markisa. Dari proses fermentasi diketahui fermentasi dengan waktu 24 jam mempunyai efektifitas antibakteri yang lebih baik untuk kedua varietas markisa.
Hasil fermentasi buah markisa selama 24 jam ini mampu menurunkan pertumbuhan MRS sebanyak 100% dan menurunkan pertumbuhan ESBL sebesar 99,99%. Hasil uji total count plate dengan sampel fermentasi fitrat markisa merah dan markisa kuning dengan konsentrasi terbaik adalah 75%. Pengujian kedua varietas merah dan kuning mampu menghambat pertumbuhan bakteri MRS di atas 100% sedangkan terhadap ESBL di atas 93%.
Dari hasil pengujian tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil fermentasi selama 24 jam kedua varietas markisa merah dan kuning keduanya mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai antibakteri terhadap MRSA dan ESBL.
Penulis: Idha Kusumawati
Laman: https://e-journal.unair.ac.id/JFIKI/article/view/40635/24497
Judul: Growth Inhibitory Effects of Red and Yellow Passion Fruits against MRSA and ESBL-producing Bacteria





