Universitas Airlangga Official Website

Potensi Senyawa Ostruthin dari Akar dan Batang Luvunga sarmentosa sebagai Bahan Aktif Antimalaria

Pemodelan Prevalensi Angka Kesakitan Malaria Berdasarkan Persentase Sanitasi Layak
Foto: detiknews

Morbiditas dan mortalitas akibat infeksi malaria di wilayah tropis dan subtropis masih tinggi. Saat ini, tercatat 249 juta kasus positif malaria dengan 608 ribu kematian di 84 negara endemik. Kasus malaria di Indonesia mencapai 369 ribu pada tahun 2023, wilayah Gorontalo, Nusa Tenggara Timur dan Papua mengalami peningkatan kasus malaria. Salah satu penyebab tingginya kasus malaria disebabkan adanya resistensi obat terhadap parasit Plasmodium falciparum terutama di wilayah endemik. Oleh karena itu, penemuan dan pengembangan obat antimalaria masih perlu dilakukan. Tanaman merupakan sumber bahan aktif antimalaria yang sangat potensial mengingat Indonesia merupakan negara dengan biodiversitas tanaman yang sangat tinggi.

Upaya penemuan senyawa obat dari tanaman dapat dilakukan dengan melakukan isolasi senyawa aktif antimalaria menggunakan metode bioassay-guided isolation. Salah satu tanaman yang potensial untuk dikembangkan adalah Luvunga sarmentosa, yang dikenal masyarkat Indonesia dengan nama daerah “saluang belum”.

L. sarmentosa berasal dari suku Rutacae dan merupakan tanaman asli dari hutan tropis, Kalimantan. Tanaman ini mengandung beberapa golongan senyawa seperti alkaloid, polifenol, terpenoid dan kumarin. Secara tradisional, L. sarmentosa telah digunakan oleh masyarakat Dayak sebagai penambah stamina dan mengobati demam. Masyarakat menggunakan tanaman ini dengan merebus kulit batang atau akar L. sarmentosa dengan air dan dikonsumsi sekali sehari.  

Walaupun masyarakat di Kalimantan telah menggunakan tanaman ini secara tradisional, namun penelitian terhadap aktivitas antimalaria dari tanaman ini belum banyak dilaporkan. Dengan demikian, pada penelitian ini telah dilakukan isolasi terhadap bahan aktif antimalaria yang terkandung di dalam akar dan batang L.sarmentosa dan mengevaluasi mekanisme kerja senyawa aktif hasil isolasi terhadap enzim terhadap enzim PfDHODH dan PfLDH dari parasite Plasmodium falciparum menggunakan teknik molekular docking.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak diklorometana pada bagian akar dan batang L. sarmentosa memiliki aktivitas antimalaria yang tinggi, dengan nilai IC50 masing-masing sebesar 2,14 ± 0,07 μg/mL dan 2,85 ± 0,04 μg/mL. Aktivitas antimalaria dari ekstrak diklorometan ini termasuk ke dalam kategori aktif. Ekstrak diklorometana akar selanjutnya dipisahkan menggunakan kromatografi cair vakum dengan sistem pelarut gradien menggunakan heksana-etil asetat dan kloroform-metanol sehingga didapatkan 15 fraksi (F1-F15). Delapan fraksi (F6-F13) menunjukkan nilai % hambatan antimalaria >50%. Fraksi 7 menunjukkan nilai IC50 tertinggi yaitu 0,75 ± 0,02 µg/mL, dan kemudian dilanjutkan pemisahan menggunakan kolom kromatografi dengan pelarut asetonitril-air dan didapatkan 10 fraksi (F7.1-F7.10). Fraksi (F7.8) merupakan isolat dengan bentuk serbuk amorf, berwarna kuning.  Hasil identifikasi menunjukkan bahwa Fraksi F7.8 ini merupakan senyawa ostruthin, suatu senyawa golongan kumarin, yang pertama kali dilaporkan dari tanaman Eriostemon tomentellus.

Aktivitas antimalaria ostruthin terhadap P. falciparum galur 3D7 yang sensitif klorokuin menunjukkan nilai IC50 2,65±0,07 µg/mL. Selain itu, ostruthin dapat ditemukan pada ekstrak dari batang L. sarmentosa dengan aktivitas antimalaria terhadap P. falciparum galur Dd2 yang resisten klorokuin dengan nilai IC50 3,94 ± 0,03 µg/mL.

Hasil evaluasi mekanisme kerja dengan cara in silico study dari senyawa ostruthin pada PfDHODH dan PfLDH menunjukkan nilai binding affinity masing-masing sebesar −9,94 ± 0,11 Kcal/mol dan −8,84 ± 0,11 Kcal/mol. Nilai affinitas yang dihasilkan lebih kecil dibandingkan senyawa standar yaitu klorokuin. Hal ini menunjukkan bahwa ostruthin memiliki potensi dalam menghambat enzim PfDHODH dan PfLDH. Sedangkan hasil prediksi toksisitas menunjukkan bahwa ostruthin bersifat tidak toksik dibandingkan senyawa standar ditunjukkan dengan nilai LD50 ostruthin lebih besar dari senyawa standar.

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa senyawa kumarin yaitu ostruthin memiliki aktivitas antimalaria terhadap P. falciparum galur 3D7 (sensitiv klorokuin) dan Dd2 (resisten klorokuin). Ostruthin diprediksi memiliki potensi dalam menghambat enzim PfDHODH dan PfLDH pada mitokondria dan sitosol parasit berdasarkan pendekatan secara in silico. Penelitian in vivo lebih lanjut masih diperlukan untuk menentukan aktivitas antimalaria dan toksisitas ostruthin pada hewan coba.

Penulis: Prof. Dr. apt. Aty Widyawaruyanti, M.Si.

Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Ahmad, W. ., Wicaksana, F. ., Ilmi, H. ., Tumewu, L., Faturrahman, M. ., Winarko, P. I., Rakhmawati, C. D. ., Suciati, S. ., Hafid, A. F., & Widyawaruyanti, A. (2024). Antimalarial Potential of Ostruthin Isolated from Luvunga sarmentosa Root and Stem: In Vitro and In Silico Studies. Trends in Sciences22(3), 9010. https://doi.org/10.48048/tis.2025.9010