Sampai saat ini gagal jantung masih memiliki angka mortalitas dan morbiditas yang tinggi. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menurunkan angka kematian dan kesakitan akibat penyakit ini, salah satu nya adalah melalui terapi transplantasi jantung. Namun, pilihan terapi ini masih memiliki beberapa hambatan antara lain ketersediaan donor yang jumlah nya terbatas, eligibilitas dari pasien, serta masalah biaya yang tinggi. Keberadaan dari teknologi stem cell atau yang disebut juga sel punca memberikan potensi solusi terhadap permasalahan – permasalahan dari terapi transplantasi jantung untuk pasien dengan gagal jantung. Pilihan jenis sel punca yang telah diteliti untuk digunakan dalam transplantasi jantung adalah Mesenchymal Stem Cells (MSCs), Cardiac Stem Cells (CSCs), dan Cardiosphere-derived Cells (CDCs). Meskipun kemampuan regeneratif dari sel punca memberikan harapan besar sebagai bentuk pilihan terapi dalam memperbaiki kerusakan yang terjadi pada sel otot jantung akan tetapi perlu dilakukan penelitian-penelitian lebih lanjut untuk meningkatkan keamanan, efektivitas dan efisiensi dari transplantasi jantung dengan menggunakan sel punca.
Penelitian ini merupakan sebuah studi literasi/ Literature Review yang mengevaluasi efek penggunaan terapi sel punca pada kondisi gagal jantung baik pada pasien maupun pada model hewan terutama terkait kemampuan pompa jantung. Penelitian ini melakukan review pada lima studi, dimana dua studi menggunakan subjek penelitian manusia, dan tiga studi sisanya menggunakan subjek penelitian hewan berupa tikus dan babi. Selain itu, antar studi juga mengevaluasi jenis sel punca yang berbeda dan terdapat perbedaan pada waktu follow up, mulai dari 7 hari, satu bulan, empat bulan, dan enam bulan pasca pemberian intervensi. Kelima studi menunjukkan adanya peningkatan pada kemampuan kontraksi dari bilik jantung kiri yang telah mendapatkan terapi sel punca. Sebuah studi menunjukkan bahwa pemberian sel punca tipe MSCs (Mesenchymal Stem Cells) dari donor tikus usia tua memberikan peningkatan kemampuan kontraksi yang lebih besar dibandingkan pada jantung yang mendapat sel punca MSCs dari donor tikus usia muda dan yang tidak mendapatkan terapi sel punca. Parameter jantung lain yang juga dievaluasi adalah terkait kemampuan pengembangan dan volume dari ruang bilik kiri jantung. Terkait parameter ini, kelima studi menunjukkan hasil yang cukup bervariasi. Beberapa studi menunjukkan adanya penurunan dari kemampuan pengembangan bilik jantung kiri setelah terapi sel punca berjalan beberapa bulan, Sebuah studi menunjukkan tidak adanya perubahan dari parameter fungsi jantung tersebut. Namun juga terdapat studi yang menunjukkan hal sebaliknya, dimana terjadi peningkatan dari diameter dan volume bilik kiri jantung di fase diastolik.
Meskipun terapi sel punca ini telah menunjukkan adanya berbagai manfaat positif pada kemampuan jantung yang mengalami gagal jantung, akan tetapi perlu diperhatikan bahwa terdapat efek samping yang mungkin terjadi. Sebuah studi yang menggunakan tipe sel punca CDCs melaporkan kejadian efek samping baik yang terjadi pada enam bulan pertama hingga satu tahun kedepan. Adapun efek samping berat yang dapat terjadi pada penggunaan sel punca di kasus gagal jantung adalah kejadian infark miokardial akut, gejala nyeri dada, dan terjadinya kelainan pada jantung sehingga perlu dilakukan terapi mulai dari tindakan revaskularisasi jantung hingga pemasangan defibrillator, serta gangguan ritme jantung. Pada kelima studi yang dievaluasi tidak terdapat adanya laporan kematian maupun laporan kejadian terbentuknya tumor atau kanker.
Dari kelima studi yang telah dilakukan pengkajian didapatkan kesimpulan bahwa kebanyakan sel punca berperan dalam proses perbaikan kerusakan dan pembentukan pada otot jantung. Hal ini sejalan dengan penelitian-penelitian terdahulu. Adapun kemampuan perbaikan kerusakan pada sel otot jantung oleh sel punca ini kemungkinan berkaitan erat dengan kemampuan pembentukan vaskularisasi baru oleh sel punca. Adanya kondisi kekurangan oksigen pada sel otot jantung atau yang sering disebut myocardial infarction yang kerap terjadi pada kejadian gagal jantung menunjukkan adanya kondisi kekurangan suplai darah untuk melakukan perbaikan dari kerusakan jaringan. Oleh karena itu, keberadaan sel punca yang meningkatkan jumlah pembuluh darah baru akan meningkatkan aliran darah ke otot jantung yang iskemik. Akan tetapi, meskipun sudah terdapat cukup banyak studi yang menunjukan hasil baik dari penggunaan sel punca pada terapi perbaikan ataupun penggantian otot jantung yang rusak, penulis menyadari masih belum ada keputusan yang jelas terkait jenis sel punca apa yang terbaik untuk digunakan dan juga dosis yang sebaiknya diberikan untuk memberikan hasil yang optimal pada pasien dengan gagal jantung. Selain itu, juga perlu dilakukan penelitian yang melakukan evaluasi jangka panjang dan berkelanjutan terkait efek samping dari terapi yang inovasional ini.
Penulis: Yan Efrata Sembiring, dr., Sp.B(K)TKV





