Universitas Airlangga Official Website

Potensi Zona Pellucida Kambing sebagai Vaksin Kontrasepsi Pengendali Populasi Monyet

Foto by Okezone News

Ketidakseimbangan ekosistem seringkali menimbulkan konflik dengan satwa liar, salah satunya dengan monyet. Kelebihan populasi monyet di habitatnya menyebabkan kerugian ekonomi yang tinggi di bidang pertanian dan gangguan bagi penduduk desa di daerah dekat hutan. Monyet merupakan salah satu hewan vertebrata hama yang menyerang tanaman hortikultura, misalnya pisang, timun, kacang panjang, nangka, dan lainnya.  Jenis monyet yang sering ditemukan menyerang pertanaman yaitu monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Dalam beberapa tahun terakhir telah terjadi beberapa kejadian serangan hama monyet di beberapa daerah dekat kehutanan, yaitu tahun 2016 di negara bagian Florida Amerika Serikat dan Thailand, tahun 2017 di India dan Indonesia (Taman Nasional Baluran, dan gunung Tidar di Boyolali). Bahkan dalam lima tahun terakhir serangan hama monyet di Kabupaten Gunung Kidul semakin masif. Demikian juga di Desa Kemiren dan Tamansuruh, Kecamatan Glagah, Banyuwangi pada bulan Nopember 2022, dan Desa Getan Kecamatan Bulu Kabupaten Sukoharjo pada bulan Januari 2023.

Metode tradisional dengan menjebak atau meracuni untuk mengendalikan populasi monyet merupakan tindakan tidak manusiawi. Lebih lanjut pencemaran racun kedalam ekosistem akan menimbulkan permasalahan tersendiri di kemuadian hari. Imunokontrasepsi adalah salah satu alternative untuk penurunan angka kelahiran monyet. Pemberian vaksin kontrasepsi dapat menginduksi respon imun adaptif yang menyebabkan hewan menjadi infertil (tidak subur) sementara untuk jangka waktu tertentu. Di antara kandidat zat imunokontraseptif, protein zona pelusida fraksi tiga (ZP3) merupakan target potensial.

Serangkaian penelitian telah dilakukan untuk mengeksplorasi potensi imunokontrasepsi zona pelusida-3 pada kambing Kacang. Studi kami pertama meneliti potensi imunokontraseptif dari crude zona pelusida kambing. Imunisasi mencit betina dengan crude zona pellucida dalam Freund adjuvant mencegah kebuntingan pada semua mencit yang dikawinkan. Penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa zona pelusida kambing (goat zona pellucida, gZP) adalah lapisan ekstraseluler pada sel telur kambing yang terdiri atas tiga konstituen, yaitu gZP1, gZP2, dan gZP3. Di antara komponen-komponen glikoprotein tersebut, gZP3 berperan penting dalam pembuahan karena berfungsi sebagai reseptor primer pengenalan spermatozoa. Protein kambing zona pelusida-3 (gZP3) telah diidentifikasi dan diisolasi, yaitu memiliki berat molekul 82 kDa dan terdiri dari 63,47% dari total protein zona pelusida kambing. Pewarnaan imunofluoresensi menunjukkan bahwa protein gZP3 mengenali membran plasma sperma kambing, sedangkan antibodi gZP3 mengenali zona pelusida kambing.

Studi fertilisasi in vitro menunjukkan bahwa suplementasi protein gZP3 dalam media kapasitasi sperma dan antibodi gZP3 yang ditambahkan dalam media pematangan sel telur terbukti menghambat pembuahan. Fakta tersebut menunjukkan bahwa gZP3 merupakan reseptor fertilisasi pada kambing. Analisis Elisa dan dot blot menunjukkan bahwa protein gZP3 dikenali oleh serum mencit betina fertil yang tidak bunting. Oleh karena itu, dapat dihipotesiskan bahwa protein gZP3 bersifat imunokontraseptif pada tikus. Imunisasi tikus dengan gZP3 membuktikan bahwa gZP3 mencegah kebuntingan dan bergantung pada dosis. Tindakan kontrasepsi gZP3 adalah reversibel setelah 14 siklus estrus. Siklus menstruasi monyet berlangsung sekitar 30 hari, dengan demikian diharapkan imunisasi monyet betina dengan gZP3 dapat menyebabkan ketidaksuburan selama 14 bulan.  Urutan nukleotida gZP3 memiliki homologi hampir 50% dari urutan ZP3 monyet (Macaca sp) dan asing secara filogenetik, sehingga sangat potensial untuk dikembangkan menjadi vaksin kontrasepsi untuk menanggulani overpopulasi monyet dan mencegah gangguan pertanian serta masyarakat pedesaan yang bermukim di daerah dekat hutan.

Artikel review ini disusun atas permintaan International Journal of Zoology and Animal Biology sebagai bentuk kontribusi Prof. Dr. Imam Mustofa, drh,. M.Kes. yang diangkat menjadi anggota Editorial Board jurnal tersebut. Naskah ditulis bersama Suzanita Utama, drh., M.Phil., Ph.D., Dr. Sri Mulyati, drh., M.Si.,  dari Laboratorium Kebidanan Veteriner, Prof. Dr. Wulina, drh., MS., dari  Laboratorium Kemajiran Veteriner, Divisi Reproduksi Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, bekerjasama dengan Prof. Lois Chidinma Ndubuisi-Ogbonna, Ph.D., dari Department of Agriculture and Industrial Technology, Babcock University, Ilishan-Remo,Ogun State, Nigeria.

Artikel ilmiah review ini sudah terbit pada International Journal of Zoology and Animal Biology, suatu jumal terindeks pada basis data intemasional. Artikel dapat di akses melalui tautan https://medwinpublishers.com/IZAB/immunocontraceptive-potential-of-goat-zona-pellucida-as-monkey-population-control.pdf

Penulis: Prof. Dr. Imam Mustofa, drh., M.Kes. (First and Corresponding Author)

Disarikan dari artikel:

Review article

Mustofa I, Utama S, Mulyati S, Wurlina and Ndubuisi-Ogbonna LC. 2023. Immunocontraceptive Potential of Goat Zona pellucida as Monkey Population Control. Int J Zoo Animal Biol 2023, 6(2): 000459. https://doi.org/10.23880/izab-16000459.