Universitas Airlangga Official Website

Prediksi Indeks Dow Jones, Inflasi AS, dan Suku Bunga dengan Estimator Kernel dan Model Koreksi Kesalahan Vektor

Ilustrasi Visualisasi Saham (sumber; detik.com)
Ilustrasi Visualisasi Saham (sumber; detik.com)

Pasar saham memiliki peran strategis dalam perekonomian global, khususnya sebagai sarana investasi dan sumber pendanaan bagi perusahaan. Salah satu indikator utama dari kesehatan ekonomi Amerika Serikat adalah Dow Jones Industrial Average (DJIA), yang mencerminkan performa dari 30 perusahaan besar yang tercatat di bursa saham. Pergerakan DJIA sering kali dipengaruhi oleh faktor-faktor makroekonomi seperti inflasi dan suku bunga, yang keduanya merupakan indikator penting dalam pengambilan kebijakan moneter. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi pergerakan indeks DJIA, tingkat inflasi, dan suku bunga Amerika Serikat menggunakan dua pendekatan: Vector Error Correction Model (VECM), yang merupakan metode parametrik, dan Gaussian Kernel Estimator, metode nonparametrik yang tidak mengasumsikan bentuk hubungan tertentu antar variabel. Data yang digunakan merupakan data bulanan dari Mei 2009 hingga April 2024 yang diambil dari situs Investing.com, dengan total 180 observasi.

Analisis dimulai dengan pengujian stasioneritas data, seleksi lag optimal, dan uji kointegrasi untuk memastikan adanya hubungan jangka panjang antar variabel. Hasil uji kointegrasi menunjukkan bahwa terdapat hubungan jangka panjang antara indeks saham DJIA, inflasi, dan suku bunga, sehingga penggunaan VECM dianggap tepat. Namun, hasil prediksi menunjukkan bahwa metode Gaussian Kernel jauh lebih unggul dalam hal akurasi. Nilai Mean Absolute Percentage Error (MAPE) untuk VECM rata-rata sebesar 22,89%, sedangkan metode Kernel hanya sebesar 5,72%. Hal ini menunjukkan bahwa metode nonparametrik seperti Kernel Estimator lebih fleksibel dalam menangkap pola non-linear antar variabel ekonomi dibandingkan metode parametrik seperti VECM yang memiliki asumsi-asumsi ketat. Dari hasil analisis, diketahui bahwa kenaikan suku bunga memiliki dampak negatif signifikan terhadap nilai indeks saham. Selain itu, terdapat hubungan timbal balik antara inflasi dan suku bunga, yang menunjukkan pentingnya koordinasi kebijakan moneter dalam menjaga stabilitas pasar keuangan. Penelitian ini memberikan kontribusi signifikan dalam pengambilan keputusan oleh investor, pembuat kebijakan, dan analis keuangan. Bagi investor dan pembuat kebijakan, hasil ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam membuat keputusan ekonomi berbasis data. Dengan menyediakan model prediksi yang akurat, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam merumuskan kebijakan ekonomi dan strategi investasi.

Penutup: M. Fariz Fadillah Mardianto, S.Si.,M.Si

Link: https://www.researchgate.net/publication/336596754_The_associations_between_stock_prices_inflation_rates_interest_rates_are_still_persistent_Empirical_evidence_from_stock_duration_model