Preeklampsia adalah salah satu komplikasi kehamilan yang paling berbahaya dan hingga saat ini masih menjadi penyebab utama kematian ibu di Indonesia. Kondisi ini ditandai dengan tekanan darah tinggi yang muncul setelah usia kehamilan 20 minggu dan dapat disertai gangguan berbagai organ tubuh ibu, seperti ginjal, hati, paru-paru, hingga otak. Dampaknya tidak hanya mengancam nyawa ibu, tetapi juga keselamatan janin yang dikandung.
Sebuah penelitian nasional berskala besar yang dilakukan di 30 rumah sakit di Indonesia pada tahun 2022–2023 memberikan gambaran penting mengenai kondisi ini. Penelitian ini melibatkan lebih dari 1.800 ibu hamil dengan preeklampsia dan menjadi salah satu studi terbesar tentang preeklampsia di Indonesia. Hasilnya menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 100 ibu dengan preeklampsia mengalami kematian, sebuah angka yang masih tergolong tinggi dan memerlukan perhatian serius.
Menariknya, penelitian ini menemukan bahwa faktor-faktor yang sering dianggap sebagai penyebab utama, seperti usia ibu, jumlah kehamilan, obesitas, atau riwayat penyakit tertentu, tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna antara ibu yang selamat dan ibu yang meninggal. Artinya, kematian ibu akibat preeklampsia tidak selalu dapat diprediksi hanya dari faktor risiko klasik.
Sebaliknya, kematian ibu sangat berkaitan dengan munculnya komplikasi berat selama kehamilan. Tiga kondisi terbukti paling berbahaya. Pertama adalah edema paru, yaitu penumpukan cairan di paru-paru yang menyebabkan ibu sesak napas berat. Kedua adalah gangguan ginjal akut, yang ditandai dengan meningkatnya kadar zat sisa dalam darah dan menurunnya produksi urine. Ketiga adalah sindrom HELLP, suatu kondisi serius yang melibatkan kerusakan sel darah merah, gangguan fungsi hati, dan penurunan jumlah trombosit. Ibu hamil yang mengalami komplikasi-komplikasi ini memiliki risiko kematian yang jauh lebih tinggi.
Dampak preeklampsia berat tidak berhenti pada ibu saja. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa kematian ibu berkaitan erat dengan buruknya luaran bayi. Risiko kematian janin dalam kandungan dan kematian bayi baru lahir meningkat tajam bila ibu mengalami komplikasi berat. Bayi yang lahir dari ibu dengan preeklampsia berat juga lebih sering lahir dengan kondisi lemah, ditandai oleh nilai Apgar yang rendah pada menit-menit awal kehidupan.
Temuan penting lain dari penelitian ini adalah bahwa sebagian besar kasus preeklampsia yang dirawat di rumah sakit rujukan sudah berada dalam kondisi berat sejak awal. Hal ini mencerminkan masih adanya keterlambatan dalam deteksi dini dan rujukan kasus preeklampsia dari fasilitas kesehatan tingkat pertama. Faktor geografis, keterbatasan akses layanan kesehatan, perbedaan kualitas pelayanan antenatal, serta kendala sistem rujukan nasional turut berkontribusi terhadap kondisi ini.
Padahal, pemerintah Indonesia sebenarnya telah memiliki pedoman nasional yang mewajibkan skrining risiko preeklampsia sejak trimester pertama kehamilan. Ibu hamil yang berisiko tinggi seharusnya mendapatkan pemantauan ketat dan terapi pencegahan sederhana, seperti pemberian aspirin dosis rendah. Namun, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian terapi pencegahan tersebut masih belum optimal, terutama pada kelompok ibu yang akhirnya meninggal.
Penelitian ini memberikan pesan yang sangat jelas: upaya menurunkan angka kematian ibu akibat preeklampsia tidak cukup hanya dengan mengenali faktor risiko awal, tetapi harus difokuskan pada deteksi dini komplikasi berat dan penanganan cepat. Pemeriksaan sederhana seperti tes fungsi ginjal, fungsi hati, hitung trombosit, serta kewaspadaan terhadap keluhan sesak napas, nyeri perut hebat, dan gangguan penglihatan harus menjadi bagian rutin dari pelayanan ibu hamil dengan preeklampsia.
Sebagai negara dengan kondisi geografis dan sosial yang beragam, Indonesia membutuhkan pendekatan nasional yang terintegrasi untuk menangani preeklampsia. Skrining universal, pencegahan sejak dini, peningkatan kualitas layanan antenatal, penguatan sistem rujukan, serta kerja sama lintas profesi kesehatan merupakan langkah kunci untuk melindungi keselamatan ibu dan bayi.
Melalui penelitian ini, diharapkan kesadaran masyarakat dan tenaga kesehatan semakin meningkat bahwa preeklampsia bukan sekadar “tekanan darah tinggi saat hamil”, melainkan kondisi serius yang memerlukan perhatian, deteksi, dan penanganan tepat waktu demi menyelamatkan dua nyawa sekaligus: ibu dan anak.
Penulis: Muhammad Ilham Aldika Akbar, dr.,Sp.OG
Detail tulisan ini dapat dilihat di: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/41317451/





