Diabetes mellitus gestasional (GDM) adalah suatu kondisi yang dapat memengaruhi ibu hamil di Asia dan di seluruh dunia. Dalam artikel ini, kami akan membahas prevalensi dan faktor risiko GDM, dengan fokus pada apa yang harus diwaspadai oleh para calon ibu di Asia selama perjalanan kehamilan mereka. GDM adalah jenis diabetes yang berkembang selama kehamilan saat usia kehamilan 24-28 minggu.
GDM tidak sama dengan jenis diabetes umumnya yang dialami oleh banyak orang lainnya. Sebaliknya, GDM terjadi selama kehamilan dan biasanya hilang setelah bayi lahir. Penelitian terbaru yang dilakukan di Asia menunjukkan bahwa GDM menjadi lebih umum di antara wanita hamil. Di beberapa negara Asia, hingga 20% wanita hamil dapat mengalami GDM. Hal ini menjadi perhatian penting karena GDM dapat berdampak pada kesehatan ibu dan bayi.
Hasil Penelitian menunjukkan prevalensi terendah di India dan tertinggi di Australia. Beberapa faktor meningkatkan risiko terkena GDM selama kehamilan. Faktor-faktor ini termasuk kelebihan berat badan, memiliki riwayat diabetes dalam keluarga, atau memiliki latar belakang DM saat kehamilan sebelumnya serta riwayat abortus. Diabetes gestasional tidak hanya menyebabkan kesakitan sementara namun, diabetes gestasional dapat menyebabkan komplikasi selama kehamilan seperti tekanan darah tinggi dan kondisi tubuh bayi yang lebih besar sehingga persalinan menjadi lebih sulit. Selain itu, baik ibu maupun bayinya memiliki risiko lebih tinggi terkena diabetes tipe 2 di kemudian hari.
Dalam beberapa kasus GDM dapat dikelola dan bahkan dicegah. Wanita hamil dapat bekerja sama dengan rutin melakukan pemeriksaan ke penyedia layanan kesehatan untuk memantau kadar gula darah dan membuat pilihan gaya hidup sehat, seperti makan makanan bergizi. Mewaspadai diabetes gestasional dan faktor risikonya sangat penting bagi ibu hamil di Asia. Dengan memahami dan mengelola GDM, ibu hamil dapat mengambil langkah-langkah untuk memastikan kehamilan yang lebih sehat dan masa depan yang lebih cerah bagi mereka dan bayinya.
Penulis: Muhammad Atoillah Isfandiari
Sumber Jurnal: https://www.publichealthinafrica.org/jphia/article/view/2583





