Universitas Airlangga Official Website

Pria dan Respons Ketika Hubungan Seks Berujung pada “Kesakitan”

Ilustrasi: Kompas TV

Selayaknya aktivitas seksual antara pasangan adalah kegiatan yang menyenangkan, namun bayangkan jika setiap momen keintiman dengan pasangan justru berubah menjadi pengalaman menyakitkan, bukan hanya secara fisik, tetapi juga emosional dan psikologis. Hal ini bisa terjadi pada pasangan wanita dengan Genitopelvic Pain/Penetration Disorder (GPPPD), sebuah kondisi medis yang menyebabkan nyeri hebat saat penetrasi seksual. Pengalaman seperti ini sering terjadi terutama di negara-negara konservatif seperti Asia dan Timur-Tengah. Namun tahukah Anda? Dampak dari kelainan ini tidak hanya dirasakan oleh perempuan. Pria sebagai pasangan juga turut merasakan dampak dari keluhan ini.

Sebuah review sistematis yang kami lakukan terhadap 25 penelitian internasional, melibatkan hampir 2.500 pasangan dari berbagai negara, mencoba mengangkat suara yang jarang terdengar: bagaimana pria merespons dan mengalami dampak dari kondisi seksual pasangan wanita dengan kelainan nyeri pada saat penetrasi. Ada kemungkinan beberapa dampak yang terjadi pada pria.

Pada saat mereka mendapati pasangan wanita mereka nyeri pada saat berhubungan, hal ini menyebabkan rasa takut menyakiti pasangan atau ditolak karena nyeri yang dirasakan wanita membuat hubungan seksual menjadi momok yang dihindari. Dampaklnya banyak pria mengalami kejadian ejakulasi dini, penurunan kekerasan ereksi, hingga penurunan hasrat seksual.

Dampak Psikologis: Antara Rasa Bersalah dan Kehilangan Diri

Dampak lain yang dapat timbul adalah psikologis. Pria merasa bersalah, mereka mengangap bahwa rasa sakit yang dirasakan pasangan mereka adalah karena dampak perbuatan mereka. Hal ini menyebabkan pria merasa kehilangan harga diri, mempertanyakan maskulinitasnya, hingga mengalami stres dan depresi. Beberapa bahkan merasa frustrasi atau bingung, terlebih ketika pasangan mereka belum mendapatkan diagnosis atau pengobatan yang efektif. Rasa bersalah karena menjadi bagian dari “penyebab” rasa sakit pasangan mereka sering menjadi beban batin tersendiri.

GPPPD juga menciptakan jarak di dalam relasi. Kombinasi aktivitas seksual yang tidak menyenangkan dengan guncangan psikologis yang terjadi menyebabkan jurang komunikasi dalam hubungan. Seks, yang seharusnya mempererat ikatan, justru menjadi sumber konflik. Banyak pasangan yang menghindari topik ini karena tabu, malu, atau tidak tahu bagaimana memulainya. Dalam masyarakat yang konservatif, tekanan budaya juga memperparah keadaan baik bagi perempuan maupun laki-laki. Keretakan komunikasi juga tidak hanya berdampak pada pasangan bahkan bisa berdampak pada keluarga besar dan relasi.

Faktor budaya dan keyakinan turut andil dalam merespon kelainan ini. Budaya yang konservatif dengan pendidikan seks yang kurang menyebabkan ketidakterbukaan pasangan dalam bercerita dan mencari pertolongan. Namun tidak semua pria memilih pasrah dalam menanggapi kondisi ini.

Prian tidak selalu memilih diam ketika pasangan mereka mengalami keluhan ini. Menariknya, hasil review kami juga menunjukkan bahwa banyak pria berinisiatif dalam menolong dan mencari jalan keluar. Mereka berusaha mencari solusi: dari terapi psikologis, konseling pasangan, hingga terapi seksual. Beberapa pasangan justru mengalami pertumbuhan relasi setelah melalui berbagai tantangan ini bersama.

Selama ini, perhatian medis dan publik lebih banyak tertuju pada wanita yang mengalami GPPPD. Itu penting. Tapi untuk benar-benar membantu pasangan, kita juga perlu memahami bagaimana laki-laki turut terdampak dan apa yang mereka butuhkan untuk bangkit. Karena relasi seksual yang sehat bukan hanya tentang tubuh, tapi juga tentang dua orang yang saling terhubung secara utuh. Keterlibatan dan memahami emosi pria dalam konteks GPPPD sangat diperlukan, karena pemahaman pria yang utuh akan membantu keberhasilan pasangan wanitanya.

Saat Seks Menjadi Tantangan, Cinta Bisa Menjadi Solusi

Kesehatan seksual adalah bagian penting dari kesehatan mental dan hubungan. Dengan membuka ruang diskusi yang jujur dan saling mendukung, pasangan yang menghadapi GPPPD bisa tetap tumbuh dan bertahan. Dan itu semua dimulai dari keberanian untuk mendengar termasuk mendengar suara hati para pria.

Informasi detail artikel:

Pakpahan, C., Lionardi, S., Putri Handini, L., Lionardi, S. K., Alvianto, S., Rinaldi, F. X., & Fontana, A. (2025). Male Responses to Female Partners with Genitopelvic Pain/Penetration Disorder: A Systematic Review of Biopsychological Impacts and Coping Strategies. International Journal of Sexual Health, 1–29. https://doi.org/10.1080/19317611.2025.2527881