Universitas Airlangga Official Website

Prioritas Kritis Bakteria Multidrug-Resistant Organisme pada Infeksi Sekunder Diantara Pasien COVID-19

Saat dunia menghadapi COVID-19, ancaman tersembunyi yang lebih serius dengan munculnya resistensi antimikroba (AMR), tidak hanya masih adanya AMR tetapi telah memburuk. Lebih dari 29.400 orang meninggal akibat infeksi bakteri AMR yang umumnya terkait dengan perawatan kesehatan di rumah sakit selama tahun pertama pandemi. Hampir 40% dari orang-orang ini tertular infeksi bakteri saat berada di rumah sakit. AMR sebagai salah satu ancaman besar untuk kesehatan global dan ekonomi di masa lalu. Selain itu, saat pandemic COVID-19 diperkirakan akan mempercepat laju pertumbuhan AMR secara global. Selama pandemi COVID-19, jumlah pasien rawat inap meningkatkan jumlah infeksi terkait perawatan kesehatan healthcare associated infections (HAIs) dan risiko penularan multidrug-resistant organisme (MDRO). Pandemi COVID-19 muncul sebagai pedang bermata dua, dalam hal pengendalian AMR dan pembatasan penyebaran MDRO, karena memiliki kedua konsekuensi positif dan negative. Pandemi berfungsi sebagai pengingat yang gambling pentingnya prinsip dasar terjadinya infeksi, tindakan pencegahan dalam pengendalian infeksi dan Program Pencegahan Pengendalian Infeksi (PPI), termasuk mencuci tangan, membersihkan rumah sakit, peralatan dan lingkungan, serta penggunaan tentang alat pelindung diri (APD) dalam memberikan perawatan pasien untuk mencegah penyebaran MDROs di rumah sakit. Namun, pandemi menimbulkan berbagai masalah dalam hal penggunaan antibiotik baik pada tingkat masyarakat dan di rumah sakit. Peningkatan pasien COVID-19 yang rawat inap sesuai dengan peningkatan pemberian terapi antibiotic yang ditujukan untuk pencegahan infeksi sekunder yang dikhawatirkan terjadi di pasien, bertentangan dengan data yang dinyatakan bahwa dari 70% pasien COVID-19 menerima terapi antibiotik, hanya 10% saja dari mereka menderita infeksi sekunder karena bakteri. Peningkatan konsumsi antibiotik untuk mengobati atau mencegah infeksi sekunder bakteri pada pasien COVID-19 atau sebagai terapi potensial, seperti teikoplanin, azitromisin, dan hidroksiklorokuin, diperkirakan memiliki berkontribusi terhadap peningkatan AMR. Peningkatan penggunaan antibiotik dan agen biosidal seperti disinfektan meningkatkan konsentrasi agen antimikroba dalam limbah, yang memfasilitasi tekanan selektif dan memberikan kontribusi untuk mekanisme resistensi antimikroba. Pandemi COVID-19 menekankan perlunya mempertimbangkan bakteri koinfeksi dan infeksi sekunder pada pasien dengan infeksi virus terutama yang dirawat di rumah sakit. Infeksi sekunder dalam hal bakteremia, terutama yang disebabkan oleh MDROs, merupakan faktor risiko yang terkait dengan meningkatnya angka morbiditas dan mortalitas selama infeksi virus, juga terkait dengan COVID-19. Berbagai penelitian telah secara konsisten mengidentifikasi anggota ordo Enterobacterales, terutama Escherichia coli dan Klebsiella pneumoniae, sebagai yang paling umum, dan spesies non-Enterobacterales, termasuk Pseudomonas aeruginosa dan Acinetobacter baumannii. Hal ini sesuai dengan daftar kelompok prioritas patogen WHO, di mana keempat spesies ini memiliki prioritas kritis berdasarkan urgensi dan makna klinis. Terbanyak kelima patogen bacteremia Gram-negatif, Acinetobacter baumannii memiliki tingkat resistensi yang sangat tinggi hingga 71%. Oleh karena itu, penting untuk membahas keempatnya spesies Gram-negatif bermasalah di konteks bakteremia.

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan profil MDRO prioritas kritis penyebab bakteremia pada pasien COVID-19 dan non-COVID-19 selama pandemi.

Metode penelitian: studi cross sectional retrospektif berbasis rumah sakit, dilakukan pada

April 2020 hingga Desember 2021, di rumah sakit rujukan RSUD Dr Soetomo. Semua pasien rawat inap dengan kultur darah positif dianalisis dalam penelitian ini. Kelompok pasien dengan konfirmasi COVID-19 dibandingkan dengan pasien non-COVID-19 selama periode waktu yang sama. Pengujian SARS-CoV-2 dilakukan dengan uji RT PCR: Cobas SARS-CoV-2 (Roche Molecular Systems, Inc., Branchburg, NJ). Metode kultur darah dengan BACTEC system (BD). Identifikasi spesies bakteri yang tumbuh pada metode kultur menggunakan panel Gram-positif dan Gram-negatif dari BD, untuk identifikasi otomatis PhoenixTM (BD), identifikasi spesies bakteri dan resistensi atau sensitivitas terhadap antimikroba.

Hasil Penelitian dan Pembahasan: Profil Mikroorganisme Bakteremia pada pasien COVID-19 dan non-COVID-19, spesies yang paling sering terdeteksi Klebsiella pneumoniae 239/1836 (13,02%), Acinetobacter baumannii 223/1836

(12,15%), Staphylococcus aureus 211/1836 (11,49%), Escherichia coli 177/1836 (9,64%), Candida spp 124/1836 (6,75%), Pseudomonas aeruginosa 115/1836 (6,26%), Enterococcus faecalis 100/1836 (5,45%), Enterobacter cloacae 69/1836 (3,76%), Staphylococcus haemolyticus 62/1836 (3,38%), dan Staphylococcus epidermidis 61/1836 (3,32%). Mikroorganisme terdeteksi pada kultur darah berbeda secara signifikan antara dua kelompok yang diteliti (p =0,017). Acinetobacter baumannii adalah patogen dengan proporsi tertinggi pada kelompok pasien COVID-19, 59/390 (15,13%), sedangkan Klebsiella pneumoniae memiliki proporsi tertinggi pada kelompok pasien non-COVID-19, 195/1446 (13,49%). Proporsi Escherichia coli dan Pseudomonas aeruginosa diisolasi pada kelompok pasien non-COVID-19 lebih tinggi. Profil MDRO Prioritas Kritis pada Pasien COVID-19 dan non-COVID-19, proporsi total prioritas kritis isolat MDRO pada pasien COVID-19 adalah 90/390 (23,08%), sedangkan 377/1446 (26,07%) pada pasien non-COVID-19. CRAB memiliki proporsi kejadian yang lebih tinggi pada pasien COVID-19 (12,05% vs 7,05%, p 0,001). ESBL-KP, di sisi lain, memiliki proporsi yang lebih tinggi pada pasien non-COVID (7,54% vs 2,82%, p 0,001). Acinetobacter baumannii menunjukkan resistansi tinggi, dengan 149/223 (66,82%), CRABs 47/59

(79,66%) pada kelompok COVID-19 terhitung, dan pada kelompok non-COVID-19

terhitung 102/164 (62,2%; z = 2,438; p = 0,015). Pseudomonas aeruginosa menunjukkan resistensi moderat, dengan CRPA 33/115 (28,70%) pada kelompok COVID-19, dan pada kelompok non-COVID-19: 27/97 (27,84%; z =0,472; p = 0,637). Tingkat rawat inap dan kematian terkait COVID-19 bervariasi secara signifikan antar negara. Variasi ini dapat disebabkan oleh perbedaan fasilitas kesehatan dan/atau

karakteristik epidemiologi pasien. Namun, ada yang konsisten dan berbeda pola peningkatan eksponensial dalam kematian terkait usia terlepas dari regio geografis. Pasien lanjut usia adalah signifikan faktor risiko kematian akibat COVID-19. Selain itu, usia adalah juga mempengaruhi waktu dari rawat inap, kematian dan pemberantasan virus. Spesies yang paling sering terdeteksi penyebab bakteremia pada pasien COVID-19 dan non-COVID-19 termasuk Klebsiella pneumoniae, Acinetobacter baumannii, Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, Enterococcus faecalis, Enterobacter cloacae, Staphylococcus haemolyticus dan Staphylococcus epidermidis. Studi ini menunjukkan infeksi sekunder, khususnya bakteremia pada pasien COVID-19 yang disebabkan oleh MDRO, dan berbeda dari pasien non-COVID-19. Di rumah sakit, keduanya pasien COVID-19 dan pasien non-COVID-19 menghadapi hal baru risiko kesehatan: resistensi antimikroba. Mengidentifikasi patogen MDRO sebagai penyebab koinfeksi atau infeksi sekunder pada pasien rawat inap, terutama dengan COVID-19, juga menyoroti pentingnya praktik pengendalian yang tepat dan strategi pencegahan.

Kesimpulan penelitian ini, Proporsi MDRO prioritas kritis, kejadiannya tidak berbeda secara signifikan

antara pasien COVID-19 dan non-COVID-19, tetapi dinyatakan distribusi prioritas kritis pada isolate bakteria MDRO. Temuan dari penelitian ini menyoroti bahwa Acinetobacter baumannii menunjukkan tingkat tinggi resistensi, disertai CRAB yang memiliki proporsi kejadian yang lebih tinggi pada pasien COVID-19. Proporsi tinggi dan tingkat resistensi MDRO prioritas kritis, CRAB khususnya, diantara pasien COVID-19, hal ini juga menyoroti pentingnya praktik pengendalian AMR yang efektif dan strategi pencegahan selama pandemi.

Penulis: Irbasmantini Syaiful, Ni Made Mertaniasih, Lindawati Alimsardjono, Pepy Dwi Endraswari, Arie Utariani, Budi Utomo

Informasi detail riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Bali Medical Journal 2023; 12(1): 416-422 | doi: 10.15562/bmj.v12i1.3950; Irbasmantini Syaiful, Ni Made Mertaniasih, Lindawati Alimsardjono, Pepy Dwi Endraswari, Arie Utariani, Budi Utomo. 2023; Critical priority Multidrug-Resistant Organisms (MDROs) secondary infection among COVID-19 patients: hidden threat during a pandemic? A retrospective study.