Wabah virus corona tidak hanya mengancam manusia, tetapi juga hewan. Salah satu yang menjadi perhatian dunia kedokteran hewan ialah canine coronavirus (CCoV), virus yang menyerang saluran cerna dan pernapasan anjing. Vaksinasi menjadi langkah utama pencegahan. Namun, efektivitas vaksin dapat berbeda-beda, bergantung pada kondisi sistem imun inang.
Penelitian terbaru yang terbit di Open Veterinary Journal (2026) menunjukkan kabar menggembirakan. Suplementasi probiotik yang mengandung Bifidobacterium dan Lactobacillus terbukti meningkatkan respons imun dan memperbaiki profil darah pada model hewan yang mendapat induksi vaksin CCoV.
Tim peneliti dari Indonesia, Turki, dan Pakistan menggunakan 24 ekor mencit jantan galur BALB/c sebagai model uji. Hewan dibagi menjadi empat kelompok: kontrol, kelompok induksi vaksin CCoV, kelompok vaksin plus isoprinosin, serta kelompok vaksin plus probiotik. Vaksin diberikan selama tujuh hari, sedangkan probiotik diberikan secara oral selama 14 hari.
Hasilnya jelas. Kelompok yang menerima probiotik menunjukkan perbaikan signifikan pada jumlah leukosit, hemoglobin, limfosit, dan neutrofil dibanding kelompok lain (p < 0,05). Kadar hemoglobin meningkat, mencerminkan perbaikan kapasitas angkut oksigen dalam darah. Jumlah leukosit lebih terkendali, menandakan aktivasi imun berlangsung efektif tanpa peradangan berlebihan.
Temuan penting lainnya menyangkut penanda apoptosis dan peradangan. Ekspresi caspase-3 (Casp-3), enzim yang memicu kematian sel terprogram, menurun pada kelompok probiotik. Kadar interferon-gamma (IFN-γ), sitokin utama dalam respons antivirus, juga lebih stabil dibanding kelompok induksi tanpa probiotik. Kondisi ini menunjukkan probiotik membantu menjaga keseimbangan sistem imun.
Pemeriksaan jaringan paru dan usus dua belas jari memperkuat hasil tersebut. Kelompok induksi vaksin tanpa perlakuan tambahan memperlihatkan kerusakan alveolus paru, perdarahan, serta infiltrasi sel radang. Sebaliknya, kelompok probiotik mempertahankan struktur jaringan yang lebih utuh dengan peradangan minimal. Lapisan mukosa usus tetap terjaga, tanpa kerusakan berat maupun peningkatan ekspresi Casp-3 yang mencolok.
Penelitian ini juga membandingkan efek probiotik dengan isoprinosin, obat imunomodulator. Isoprinosin meningkatkan beberapa parameter darah, tetapi tidak memberikan perlindungan jaringan sekuat probiotik. Perbedaan ini menegaskan bahwa pendekatan berbasis mikroorganisme hidup memberikan efek regulasi imun yang lebih seimbang.
Secara biologis, Bifidobacterium dan Lactobacillus bekerja melalui beberapa mekanisme. Keduanya memperkuat barier usus, memodulasi produksi sitokin, serta memengaruhi sumbu imun usus–paru. Bakteri ini juga menghasilkan metabolit seperti asam laktat dan asetat yang menjaga keseimbangan mikrobiota dan menghambat pertumbuhan patogen. Aktivitas tersebut membantu tubuh merespons vaksin tanpa memicu peradangan berlebihan.
Canine coronavirus sendiri termasuk keluarga virus yang sama dengan SARS-CoV, MERS-CoV, dan SARS-CoV-2. Walau berbeda spesies inang, dinamika imunologinya memiliki kemiripan. Karena itu, temuan pada model hewan memberi gambaran penting tentang bagaimana probiotik dapat mendukung strategi vaksinasi terhadap virus corona secara umum.
Penelitian ini memiliki keterbatasan pada jumlah sampel yang relatif kecil dan penggunaan model mencit, bukan anjing sebagai inang alami. Namun, data hematologi, histopatologi, dan imunohistokimia menunjukkan konsistensi hasil yang kuat. Semua prosedur telah mendapat persetujuan etik dari komite kesejahteraan hewan.
Temuan ini membuka peluang pemanfaatan probiotik sebagai terapi pendamping vaksin di bidang kedokteran hewan. Pendekatan tersebut berpotensi meningkatkan efikasi vaksin sekaligus menjaga stabilitas sistem imun. Di tengah meningkatnya ancaman penyakit zoonotik, strategi berbasis mikrobiota menjadi opsi yang menjanjikan.
Probiotik tidak sekadar suplemen pencernaan. Bukti ilmiah terbaru menunjukkan perannya dalam memperkuat respons imun terhadap vaksin virus corona pada hewan. Dunia veteriner kini memiliki tambahan amunisi biologis untuk menghadapi tantangan penyakit infeksi yang terus berkembang.
Penulis: Prof. Dr. Iwan Sahrial Hamid, drh., M.Si.
Link: https://www.openveterinaryjournal.com/?mno=277480
Referensi: Hamid, I. S., Fikri, . F., Kuncorojakti, . S., Purnama, . M. T. E., Maslamama, . S. T., Rehman, . S. & Solfaine, . R. (2026) Beneficial immunomodulatory and hematological effects of bifidobacterium and lactobacillus probiotics in canine coronavirus vaccine induction in a murine model. Open Veterinary Journal, 16 (1), 337-345. doi:10.5455/OVJ.2026.v16.i1.30





