UNAIR NEWS – Program studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) menyelenggarakan kegiatan Bedah Buku Raja Candu Yogyakarta: Memoir Ko Ho Sing 1823-1878. Kegiatan tersebut berlangsung pada Kamis (8/5/2025) di Hotel Kokoon Surabaya. Bedah buku tersebut merupakan kerja sama antara program studi Ilmu Sejarah UNAIR dengan Hotel Kokoon Surabaya dan Penerbit Komunitas Bambu. Hadir dalam kegiatan Sri Margana, Dosen Program Studi Sejarah UGM selaku penulis; dan Shinta Devi Ika Santhi Rahayu, dosen Ilmu Sejarah UNAIR sebagai pembedah.
Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh berbagai pihak. Antara lain para dosen prodi ilmu sejarah, kepala departemen Ilmu Sejarah, kepala departemen Bahasa dan Sastra Indonesia, UIN Tulung Agung, mahasiswa UNAIR, Perwakilan MGMP Kota Surabaya. Hadir pula Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Jawa Timur, Komunitas Pernak Pernik Surabaya (PSL), mahasiswa pascasarjana Universitas Diponegoro, Yayasan Medayu Agung, dan pihak lainnya.
Kerja Sama Berbagai Pihak
Dalam kegiatan tersebut juga dilangsungkan penandatanganan kerja sama (implementation arrangement) antara prodi S1 Ilmu Sejarah dengan Hotel kokoon Surabaya. Juga penandatanganan kerja sama (implementation arrangement) antara prodi Ilmu Sejarah dengan Penerbit Komunitas Bambu.

Hotel Kokoon dipilih tempat kegiatan bedah buku, karena tempat ini memiliki nilai dan makna sejarah yang tinggi. Berdiri sejak tahun 1900, milik pengusaha Tionghoa, dulunya berfungsi sebagai pusat kantor kegiatan perusahaan di bawah naungannya, seperti bisnis bir dan pabrik korek api. Salah satu yang masih berlansung hingga kini adalah perusahaan korek api.
Memoir Ko Ho Sing
Ko Ho Sing satu-satunya orang Tionghoa yang memiliki memoir (biografi dalam bahasa Jawa 700 halaman, yang dalam bentuk tembang jawa 80 pupuh). Memoir Ko Ho Sing ini berasal dari abad 19. Mengisahkan pengusaha kaya putra imigran yg berasal dari daratan Cina, yang membangun kegiatan bisnisnya di Jawa sehingga bisa menjadi elite Jawa. Bisnis yang terkenal terutama Candu yang memiliki jaringan dari Yogyakarta hingga pesisir utara Jawa. Selama berbisnis di Jawa, pasang-surut berbaur dengan kalangan kolonial hingga menyatu dengan masyarakat lokal menjadi bukti akulturasi budaya Jawa dengan Tionghoa dan kolonial.

Ia juga mengalami situsasi sulit ketika terjadi Perang Jawa 1825-1830 sampai ia masuk di kamp pengungsian orang orang Tionghoa. Ia juga menyukai seni budaya jawa. Bergaul dengan orang Eropa menjadi anggota Freemason dan menyekolahkan anaknya di sekolah Belanda, menjadi anggota Bataviasche Gnopchap, hingga anggota Vereeniging Yogyakarta.
Pelajaran Kehidupan
Melalui kisah memoir ini kita belajar tentang lika-liku kehidupan keluarga Ko Ho Sing. Dari keluarga petani biasa merantau ke Jawa dan membangun kerajaan bisnis di Yogyakarta. Dimulai jualan roti, kopi, gadai, rumah judi hingga bisnis Candu dan yang akhirnya mengantar menjadi “elite” di bumi rantau. Kecintaanya terhadap seni Jawa dan pergaulanya yang luas dengan bangsa Belanda, menjadikan ia sebagai orang penting kala itu. Dari Memoar ini kita mengetahui satu-satunya orang Tionghoa yang memoir biagrafinya di tulis dalam naskah huruf jawa pada abad ke-19. Juga terdapat informasi tentang paniknya Yogyakarta ketika terjadi gempa tahun 1837, pengalaman masa sulit ketika dia harus masuk kamp Tionghoa di Magelang ketika terjadi Perang Jawa 1825-1830.
Ia adalah potret generasi ke-2 dari daratan Cina yang berhasil menjadi orang penting di Jawa tanpa kehilangan identitas ke-Cina-annya. Bahkan, ia adalah sosok yang menyukai seni dan budaya Jawa, termasuk kebiasaan berziarah ke tempat tempat keramat di Jawa. Selain sebagai pengusaha sukses terutama bisnis Candu, dekat dengan orang orang Jawa, ia juga dekat dengan orang orang kolonial. Ko Ho Sing adalah sosok pribadi Tionghoa yang mampu mengambil “jalan tengah” di bumi rantau Jawa. Ia mampu beradaptasi dengan lingkungan masyarakat Jawa dan masyarakat Eropa. Ia adalah sosok pribadi dermawan yang memiliki relasi sosial yang mampu membangun perkumpulan, menghidari konflik dan membangun kesamaan budaya, sampai ia meniru gaya aristokrat Jawa.
Penulis: Edy Budi Santoso
Editor: Yulia Rohmawati





