UNAIR NEWS – Akademisi Universitas Airlangga (UNAIR) kembali tunjukkan kiprahnya di kancah internasional. Kali ini, Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni (AMA) UNAIR Prof Ir Mochammad Amin Alamsjah MSi PhD turut ambil peran dalam ajang bergengsi The 7th ASEAN+3 Rectors’ Conference. Perhelatan tersebut digelar di Can Tho University, Vietnam, pada Rabu-Kamis (19-20/11/2025).
Mengusung tema Beyond Borders: Strengthening Networks, Sharing Excellence, and Advancing Sustainable ASEAN+3 Collaboration, The ASEAN+3 Rectors Conference menjadi wadah tingkat tinggi bagi para pemimpin universitas, Presiden, Rektor, dan Wakil Rektor, dari institusi anggota Jaringan Universitas ASEAN+3 (ASEAN+3 UNet) dan tiga partner lainnya yakni Cina, Jepang, dan Korea Selatan. Konferensi ini bertujuan untuk mendorong dialog dan strategi kolaborasi perguruan tinggi dalam menghadapi tantangan regional.
Sistem Perikanan dan Kelautan Berkelanjutan
Dalam konferensi tersebut, Prof Amin memaparkan sebuah materi berjudul “Sustainable Development Programs of Fisheries and Marine in Indonesia”. Materi yang Prof Amin sampaikan berangkat dari permasalahan pandemi COVID-19 yang melanda Indonesia dan berdampak pada empat Wilayah Pengelolaan Perikanan Indonesia (WPP-NRI). Akibatnya, aktivitas penangkapan ikan menurun drastis.

Analis Perikanan Indonesia dari Global Fishing Watch (GFW) menjelaskan bahwa penurunan aktivitas yang terjadi di keempat WPP-NRI di satu sisi memang memicu dampak positif. Mengingat, hal tersebut memberikan peluang bagi sumber daya perikanan untuk memulihkan stoknya. “Namun, di saat yang sama, kondisi ini akan memicu dampak negatif terhadap aktivitas ekonomi nelayan,” katanya.
Guru Besar Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) itu menerangkan, dari perspektif ekonomi nasional, sektor-sektor yang berbasis biodiversitas justru menunjukkan ketahanan dengan pertumbuhan positif di tengah tekanan pandemi. “Momentum ini memperkuat urgensi Indonesia untuk memperkuat sistem perikanan yang berkelanjutan. Mulai dari regulasi, produksi, hingga pengelolaan sumber daya,” ujarnya.
Arah Kebijakan
Pemerintah kemudian menegaskan arah kebijakan baru. Antara lain memperbaiki tata kelola perikanan, menyederhanakan izin, memperkuat budi daya, mengembangkan industri hilir, dan meningkatkan kualitas riset serta sumber daya manusia. Semua langkah ini terhubung dalam kerangka besar Blue Economy, sebuah konsep pembangunan yang menekankan keberlanjutan ekologi sekaligus penguatan ekonomi laut.
Selanjutnya, pengembangan budi daya menjadi fokus utama lainnya. Kebutuhan protein meningkat seiring pertumbuhan penduduk, dan budi daya laut maupun darat dianggap sebagai solusi untuk mengurangi tekanan penangkapan ikan di laut. “Komoditas unggulan seperti udang, lobster, kepiting, bandeng, kakap, hingga rumput laut terus didorong perbaikan teknologinya. Model modern seperti shrimp estate atau tambak udang terpadu berstandar internasional dikembangkan untuk meningkatkan produktivitas yang sebelumnya masih rendah di tambak tradisional,” terangnya.
Tawarkan Solusi
Di balik seluruh peluang, sektor perikanan masih menghadapi ragam ancaman. Misalnya, overfishing, lemahnya pengawasan, rendahnya produktivitas, pungli, keterbatasan benih unggul, hingga minimnya keterlibatan generasi muda. Melalui pendekatan menyeluruh yang memadukan teknologi, konservasi, regulasi, dan pemberdayaan masyarakat, Indonesia berupaya menjadikan sektor perikanan dan kelautan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi sekaligus penyangga keseimbangan ekologi nasional.
Melalui forum tersebut, Prof Amin menawarkan sebuah solusi pengembangan sektor perikanan dan kelautan yang berkelanjutan. Solusi tersebut mencakup enam komponen. Antara lain meningkatkan kapasitas asesmen; reformasi tata kelola perikanan; mengurangi kelebihan kapasitas penangkapan ikan, meningkatkan manajemen akses dan mengurangi penangkapan ikan ilegal, tidak dilaporkan dan tidak diatur; mengembangkan kapasitas manusia dan kelembagaan; membangun kapasitas yang memadai; serta melestarikan keanekaragaman hayati untuk meningkatkan dan mempertahankan produktivitas.
Pada akhir, Prof Amin menyampaikan bahwa forum tersebut mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak. “Forum tersebut mendapatkan apresiasi seluruh peserta dari perwakilan negara-negara ASEAN, Jepang, Cina, Korea dan asosiasi keilmuan seperti JICA dan ASEN-FEN,” pungkasnya.
Penulis: Yulia Rohmawati





