Universitas Airlangga Official Website

Prof Nirawati Tekankan Transformasi Paradigma Mikrobiologi Endodontik

UNAIR NEWSUniversitas Airlangga (UNAIR)  kembali menambah jajaran guru besarnya melalui prosesi pengukuhan yang berlangsung pada Selasa (29/10/2025) di Aula Garuda Mukti, Kampus MERR-C. Prof Dr Nirawati Pribadi drg MKes SpKG(K) resmi menjadi Guru Besar dalam bidang Ilmu Mikrobiologi Endodontik dari Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UNAIR.

Prof Nirawati menyoroti pentingnya perubahan cara pandang terhadap peran mikroorganisme dalam keberhasilan terapi endodontik. Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi molekuler seperti Polymerase Chain Reaction (PCR), Quantitative PCR (qPCR), dan Next-Generation Sequencing (NGS) telah menggeser paradigma lama menuju pemahaman yang lebih komprehensif mengenai infeksi saluran akar.

Prof Nirawati menjelaskan bahwa pemahaman terkini menempatkan infeksi endodontik sebagai infeksi polimikroba, bukan lagi infeksi tunggal (monomikroba) seperti yang diyakini sebelumnya. Infeksi primer umumnya disebabkan oleh bakteri anaerob obligat, sedangkan infeksi sekunder melibatkan bakteri gram positif fakultatif. Dalam konteks ini, biofilm menjadi faktor utama penyebab kegagalan terapi karena merupakan komunitas mikroorganisme yang saling berinteraksi dan terlindungi oleh matriks pelindung, sehingga lebih resisten terhadap agen antimikroba.

Menurutnya, biofilm tidak hanya memberikan perlindungan fisik, tetapi juga mengubah mikro lingkungan dan memungkinkan komunikasi antar sel atau quorum sensing yang memperkuat patogenisitas mikroba. “Pemahaman terhadap perilaku mikroba dalam biofilm sangat penting agar dokter gigi dapat menyesuaikan strategi perawatan yang lebih efektif dan menyeluruh,” jelasnya.

Dalam paparannya, Prof Nirawati menyoroti berbagai strategi terapeutik inovatif yang kini dikembangkan untuk meningkatkan keberhasilan perawatan saluran akar. Ia menyebutkan peningkatan efektivitas irigasi dan disinfeksi kimiawi menggunakan kombinasi Natrium Hipoklorit (NaOCl), EDTA, dan agen antimikroba tambahan, serta penggunaan medikamen intrakanal bertarget seperti Kalsium Hidroksida (Ca(OH)₂) dan Triple Antibiotic Paste (TAP).

Selain itu, kemajuan teknologi turut menghadirkan metode modern seperti Photodynamic Therapy (PDT), nanoteknologi, dan plasma dingin (cold plasma), yang terbukti mampu meningkatkan efektivitas disinfeksi. “Pendekatan berbasis mikrobiologi bertujuan mengganggu struktur biofilm, menurunkan virulensi mikroba, dan memperkuat respons imun inang agar tercipta keseimbangan mikroba sehat di rongga mulut,” tuturnya.

Menutup pidato ilmiahnya, Prof Nirawati menyoroti sejumlah tantangan kontemporer di bidang mikrobiologi endodontik, seperti resistensi antimikroba, eliminasi total biofilm, variabilitas respons inang, serta kebutuhan diagnosis yang cepat dan prediktif. Tantangan-tantangan tersebut menuntut integrasi ilmu dasar, teknologi, dan praktik klinis yang lebih presisi dalam pengembangan strategi perawatan.

Ia menegaskan bahwa penelitian ke depan perlu fokus pada metode diagnostik molekuler yang cepat dan spesifik, sekaligus menemukan target terapi yang lebih presisi dalam menangani infeksi saluran akar. “Transformasi paradigma ini bukan sekadar perubahan konsep, tetapi langkah nyata menuju praktik kedokteran gigi berbasis bukti dan selaras dengan kemajuan ilmu pengetahuan,” pungkasnya.

Penulis: Era Fazira

Editor: Khefti Al Mawalia