Dermatofitosis atau infeksi jamur kulit merupakan masalah kesehatan yang umum ditemukan di wilayah tropis, termasuk Surabaya. Kondisi lingkungan yang hangat dan lembap mendukung pertumbuhan jamur yang dapat menginfeksi kulit, rambut, dan kuku. Penelitian terbaru yang dilakukan oleh tim dari Universitas Airlangga meninjau data pasien dermatofitosis selama periode 2017–2022 untuk memahami pola klinis serta karakteristik demografis penderita di Surabaya. Hasil penelitian ini memberikan gambaran penting yang dapat digunakan untuk meningkatkan penanganan dan pencegahan infeksi jamur di masyarakat.
Studi ini menunjukkan bahwa tinea corporis (jamur pada kulit tubuh) dan tinea cruris (jamur pada area selangkangan) merupakan jenis dermatofitosis yang paling banyak ditemukan. Sebaliknya, infeksi pada tangan (tinea manuum) menjadi kasus yang paling jarang. Dari sisi demografi, perempuan dewasa tercatat sebagai kelompok yang paling banyak mengalami infeksi, yang kemungkinan dipengaruhi oleh faktor aktivitas, kondisi kulit, serta paparan lingkungan sehari-hari. Pola klinis yang ditemukan juga bervariasi tergantung lokasi infeksi. Tinea capitis umumnya ditandai dengan kerontokan rambut (alopecia), tinea corporis dan cruris tampak sebagai lesi kemerahan berbatas tegas dengan sisik di tepinya, sedangkan tinea unguium menunjukkan perubahan bentuk dan warna kuku. Pada pemeriksaan laboratorium, Trichophyton mentagrophytes menjadi salah satu spesies jamur yang sering teridentifikasi pada awal periode penelitian.
Dalam aspek penatalaksanaan, sebagian besar pasien telah ditangani sesuai pedoman medis yang berlaku. Terapi antijamur sistemik seperti griseofulvin dan obat topikal seperti ketokonazol menjadi pilihan utama dalam mengatasi infeksi. Meski demikian, keberhasilan terapi sangat bergantung pada kepatuhan pasien. Penghentian obat sebelum waktunya dapat menyebabkan infeksi tidak sembuh sempurna dan berisiko kambuh. Oleh karena itu, edukasi kepada pasien mengenai pentingnya menyelesaikan pengobatan dan menjaga kebersihan diri menjadi bagian penting dari upaya penanganan.
Penelitian ini menegaskan bahwa dermatofitosis bukanlah gangguan ringan, tetapi kondisi yang berdampak pada kenyamanan, produktivitas, dan kualitas hidup. Dengan memahami pola infeksi di Surabaya, tenaga kesehatan dan masyarakat dapat lebih waspada serta melakukan langkah pencegahan yang lebih efektif. Peneliti juga merekomendasikan studi lanjutan untuk mengevaluasi efektivitas terapi jangka panjang, mempelajari faktor kekambuhan, dan mengembangkan upaya edukasi yang lebih komprehensif. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi praktisi kesehatan dan masyarakat dalam meningkatkan penanganan penyakit jamur kulit di Indonesia.
Bottom of Form
Penulis : Safira Azzahra,dr.
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di :
https://e-journal.unair.ac.id/IJTID/article/view/66511
Clinical Patterns and Demographic Characteristics of Dermatophytosis in Surabaya





