Universitas Airlangga Official Website

Profil Pasien Ameloblastoma di RSUD Dr Soetomo Surabaya

Ameloblastoma adalah suatu tumor jinak epitelial odontogenik yang berasal dari jaringan pembentuk gigi yaitu jaringan pembentuk email gigi yang tidak mengalami perubahan hingga terbentuk email atau enamel gigi. Sebelumnya ameloblastoma dikenal sebagai adamantinoma yang menunjukkan pembentukan jaringan yang keras, padahal tidak didapatkan material keras ini sehingga nama adamantinoma diganti dengan ameloblastoma. Ameloblastoma ini merupakan tumor jinak, mempunyai sifat pertumbuhan yang lambat tetapi lokal invasif.

Menurut Neville 2002 mengklasifikasikan ameloblastoma ini berdasar klinikoradiologis yaitu: 1. Conventional solid atau multicystic intraosseus ameloblastoma sebanyak 86 % kasus ameloblastoma, dengan gambaran histopatologi berbeda – beda yaitu follicular pattern, plexiform pattern, acanthomatous pattern, granular cell pattern, desmoplactic pattern dan basaloid pattern. 2. Unicystic ameloblastoma sebanyak 13 % dengan gambaran histopatologi ameloblastoma luminal, ameloblastoma inraluminal dan ameloblastoma mural. 3. Ameloblastoma peripheral (extraosseus), sebanyak 1 %.

Ameloblastoma ini tumbuh ke segala arah, menghancurkan tulang dengan tekanan langsung atau dengan memicu resorpsi tulang oleh osteoklas. Tumor ini timbul pada usia dewasa, tetapi  juga ditemui pada usia anak – anak diawali dengan kista dentigerous yang mengalami degenerasi menjadi ameloblastoma. Laki – laki mempunyai perbandingan yang sama dengan wanita. Ameloblastoma mandibular lebih sering dijumpai dibandingkan ameloblastoma di maksila, dengan kekambuhan lebih tinggi pada ameloblastoma di maksila. Dari penelitian deskritif di RS Sutomo Surabaya didapatkan 42 pasien dengan ameloblastoma dalam kurun waktu 4 tahun, dengan rentang usia 14 sampai 75 tahun, lebih dari 95 % merupakan ameloblastoma mandibula. Kekambuhan pada ameloblastoma 19,1 % dengan terapi eksisi radikal, dengan beberapa hasil patologi berupa malignant, atau tipe peripheral.

Gejala yang muncul berupa benjolan pada tulang rahang atau gigi terasa goyang, tanpa rasa nyeri. Rasa nyeri muncul pada ameloblastoma yang sudah membesar karena efek pendesakan dari tumor tersebut. Perubahan bentuk wajah yang tampak asimetris. Pada radiografis tampak gambaran radiolusen multilokuler (tampak warna lebih gelap), batas yang jelas, Multilokuler yang masih kecil seperti gambaran sarang tawon. Penipisan dari tulang mandibula apabila dilakukan penekanan akan berbunyi seperti menekan bola pingpong (pingpong phenomen). Diagnostik dengan CT scan dapat melihat kontur lesi, perluasan dari tumor tersebut. Keuntungan dari teknik ini adalah tidak terjadi gambaran yang tumpang tindih dan memberikan gambaran jaringan secara detail dari area yang terlibat.

Ameloblastoma dapat mengalami degenerasi maligna, istilah malignant ameloblastoma digunakan untuk tumor yang memperlihatkan tampilan histopatologi ameloblastoma baik tumor atau metastasisnya, sedangkan ameloblastic carcinoma digunakan untuk ameloblastoma yang gambaran sitologinya ganas, baik pada tumor peimer, rekurensi atau metastasenya.

Pilihan terapi melakukan pemotongan tulang mandibula secara radikal karena sifat tumor yang invasif. Kuretasi dan enukleasi tumor tidak dianjurkan karena akan terjadi kekambuhan. Setelah dilakukan pemotongan rahang nawah (mandibula), dilanjutkan dengan rekonstuksi dari tulang rahang bawah yang sudah dipotong, ada beberapa pilihan rekonstruksi rahang bawah dengan Kirschner wire yang dibentuk menyerupai bentuk dari rahang bawah, Kirschner  wire ini sifatnya tidak permanen.

Pilihan yang lain berupa pemasangan rekonstruksi plate yang bentuk menyerupai rahang bawah, sedangkan untuk pengganti tulang diberikan tandur tulang dari tulang iga, atau tulang fibula kaki bawah. Rekonstruksi tulang ini merupakan bagian terapi penanganan ameloblastoma rahang bawah, setelah dilakukan pemotongan rahang bawah. Rekonstruksi ini juga berfungsi dalam pengunyahan makanan, penampilan pasien setelah potong rahang, sehingga pasien menjaga lebih percaya diri. Sedangkan pilihan rekonstruksi paska reseksi ameloblastoma maksila berupa pemasangan surgical obturaktor atau dengan bone graft dari fibula untuk mempertahankan bentuk dari maksila yg diangkat.

Diet sementara dengan menggunakan sonde nasogastric sampai luka membaik tidak ada kebocoran. Resiko operasi dini bisa terjadi kebocoran karena jahitan sudah terputus, pembengkakan sisa perdarahan yang terkumpul, terjadinya infeksi maka perlu dilakukan perbaikan jahitan dan mencari sumber infeksi.

Penulis: DR. Dr. Marjono Dwi Wibowo SpB (K)

Sumber: https://www.balimedicaljournal.org/index.php/bmj/article/view/4829