Skabies (Kudis) adalah infeksi kulit yang disebabkan oleh Sarcoptes scabiei hominis dan tungau tungau turunannya, yang ditularkan melalui kontak langsung dengan tungau, menyebabkan rasa gatal dan potensi infeksi sekunder. Prevalensi Skabies (Kudis) di Surabaya relatif lebih rendah dibandingkan dengan Jakarta Timur, mungkin karena kepadatan penduduk yang lebih rendah dan faktor lingkungan yang lebih bersih.
Studi yang dilakukan di Sekolah Berasrama Surabaya pada Desember 2021 menemukan 40 kasus kudis dari 86 responden, dengan proporsi kasus tertinggi terjadi pada anak laki-laki berusia antara 13 dan 15 tahun. Lesi ditemukan di seluruh tubuh, termasuk di sela-sela jari tangan, lengan, kaki, kaki, dan ketiak. Lesi yang paling sering ditemukan adalah eritema papula dan krusta. Lesi Skabies (Kudis) umumnya berupa papula eritema dan kerak, papula eritema, pustula, dan kerak, serta makula eritematosa.
Lesi dapat ditemukan di seluruh tubuh, termasuk di sela-sela jari tangan, lengan, jari kaki, tungkai, ketiak, dan bagian lain seperti jari tangan, pergelangan tangan, area ikat pinggang, penis, puting susu, pinggang, kulit kepala, telapak tangan, telapak kaki, dan pergelangan kaki. Rasa gatal yang hebat yang disebabkan oleh Skabies (Kudis) mendorong untuk menggaruk, yang dapat mengakibatkan luka terbuka dan infeksi sekunder. Kerak tebal pada kulit merupakan ciri khas Skabies (Kudis) berkerak (Norwegia).
Pendidikan memainkan peran penting dalam mencegah penularan Skabies (Kudis) dengan meningkatkan kesadaran tentang penyakit ini dan mempromosikan langkah-langkah pencegahan. Mengedukasi anak-anak tentang Skabies (Kudis), termasuk penyebab, gejala, dan cara penularannya, dapat membantu mereka memahami pentingnya kebersihan diri dan melakukan tindakan pencegahan.
Mengajarkan praktik kebersihan yang tepat, seperti mencuci tangan secara teratur, menjaga kebersihan tubuh, dan menghindari berbagi barang pribadi, dapat mengurangi risiko penularan Skabies (Kudis). Edukasi juga dapat menekankan pentingnya kebersihan lingkungan, termasuk membersihkan dan mendisinfeksi tempat tinggal secara teratur, untuk membasmi tungau Skabies (Kudis) dan mencegah penyebarannya. Dengan mendidik individu dan masyarakat, dimungkinkan untuk menciptakan budaya kesadaran dan tanggung jawab, yang mengarah pada deteksi dini, pengobatan yang cepat, dan pencegahan penularan Skabies (Kudis) yang efektif
Penelitian ini menyoroti pentingnya pendidikan untuk anak-anak tentang Skabies (Kudis), perilaku kebersihan diri, dan kebersihan lingkungan untuk mencegah kejadian dan penularan Skabies (Kudis). Penelitian ini menekankan perlunya merawat semua anggota rumah tangga yang terkena dan mendisinfeksi lingkungan tempat tinggal dengan benar untuk memastikan hilangnya kutu dan mencegah penularan lebih lanjut.
Studi ini menunjukkan bahwa prevalensi Skabies (Kudis) relatif rendah di Surabaya dibandingkan dengan Jakarta Timur, mungkin karena kepadatan penduduk yang lebih rendah dan faktor lingkungan yang lebih bersih. Temuan menunjukkan bahwa kasus Skabies (Kudis) lebih banyak terjadi pada anak laki-laki berusia antara 13 dan 15 tahun di sekolah asrama Surabaya. Penelitian ini merekomendasikan peran petugas kesehatan dalam skrining dan surveilans Skabies (Kudis) di masyarakat luas untuk berkontribusi dalam pemberantasan Skabies (Kudis).
Penulis: Septiana Widyantari, dr SpDVE
Informasi lengkap dari artikel ini dapat dilihat pada tulisan kami di:





