Perdarahan saluran cerna bagian bawah, yaitu distal dari ligamen Treitz, dapat berupa perdarahan akut atau kronis. Hematosezia, yaitu keluarnya darah segar dari rektum, merupakan salah satu gejala perdarahan saluran cerna bagian bawah. Penyebab paling umum adalah divertikulosis, kolitis iskemik, polip kolorektal, dan hemorrhoid. Perdarahan saluran cerna bagian bawah akut berat yang disebabkan oleh penyakit Crohn merupakan kasus yang jarang terjadi. Perdarahan saluran cerna bagian bawah pada penyakit Crohn tidak sebanyak pada kolitis ulseratif, tetapi hematosezia adalah salah satu manifestasi yang umum terjadi. Pada artikel ini kami akan melaporkan pasien seorang laki-laki berusia 24 tahun dengan hematozesia profus akut yang disebabkan penyakit Crohn.
Pasien datang ke Unit Gawat Darurat dengan keluhan utama BAB darah segar dengan total sekitar 1500ml. Pasien mengeluh BAB darah segar sejak 4 hari sebelum ke rumah sakit, awalnya sekitar 200ml dengan frekuensi sebanyak 2 hingga 3 kali sehari. Pasien juga merasa mual, muntah, pusing, demam dan lemas. Pasien mengeluh nyeri pada semua kuadran abdomen saat buang air besar dan terdapat massa dari rektum yang keluar hilang timbul sejak enam bulan yang lalu. Penurunan berat badan sekitar 3 kg sejak bulan lalu. Tidak ada riwayat diabetes melitus atau hipertensi. Pasien seorang perokok aktif sekitar 5 tahun, merokok sehari sekitar 3-5 batang. Pasien sehari-hari makan makanan yang digoreng, jarang konsumsi buah dan sayur.
Pemeriksaan fisik saat masuk didapatkan keadaan umum lemah dengan GCS 456, tekanan darah 90/60 mmHg, denyut jantung 140 denyut per menit, frekuensi pernapasan 22 kali per menit, suhu 37oC, waktu pengisian kapiler >2 detik saturasi oksigen 98% dengan nasal kanul 3 liter per menit. Indeks massa tubuh 24,2 kg/m2. Pada pasien didapatkan konjungtiva anemis dan pada ekstremitas teraba basah, dingin, dan edema pada ekstremitas bawah. Pada pemeriksaan colok dubur ditemukan massa yang dicurigai hemorrhoid dan terdapat feses dengan darah. Temuan laboratorium menunjukkan anemia (4,1 g/dl), leukositosis (17,310 /μl),neutrofilia (72,5%), hipoalbuminemia (2,03 g/dl) dan peningkatan enzim hati (ALT 210 IU/l dan AST) 390 IU/l). Tes HIV, HBsAg, dan hepatitis C virus (HCV) menunjukkan hasil negatif. Penilaian ultrasonografi (USG) abdomen menunjukkan hepatomegali ringan. Diagnosis awal pasien yaitu pertama kali didiagnosis dengan syok hipovolemik dengan hematozesia profus disebabkan kolitis dengan diagnosis banding hemorrhoid derajat III. Pasien kemudian dipindahkan ke unit perawatan high care sampai stabil secara hemodinamik. Darah pada tinja masih terdeteksi tinja berdarah hingga hari ke-3 perawatan tetapi volumenya berkurang. Selama perawatan, pasien mendapat transfusi darah dua kantong darah whole blood, dan lima kantong darah packed red cell untuk mendapatkan hemoglobin pada level 11,6 g/dl pada hari ke-7 perawatan. Pasien dilakukan pemasangan tampon rektal, serta diberikan antibiotik intravena, vitamin K, antiemetik, dan inhibitor pompa proton selama perawatan. Pada hari ke-3 perawatan, fecal calprotein menunjukkan hasil yang meningkat yaitu 232 μg/g. Kolonoskopi dilakukan pada hari ke-7 perawatan dengan hasil terdapat menunjukkan hemorrhoid eksterna ukuran 2x1x1cm intak, mukosa rektosigmoid tampak bercak eritema, pada kolon desendens dan tranversum tidak tampak erosi, ulkus dan massa, pada kolon asendens dan caecum tampak multipel ulkus dengan ukuran bervariasi 0,5-2cm, sebagian dengan dasar bersih dan sebagian tertutup blood clot serta tampak erosi sekitar ulkus, pada tepi appendiks tampak hiperemi dan edematous, pada ileum terminalis tampak multipel ulkus dengan dasar eritema, kemudian pasien didiagnosis penyakit Crohn dengan hemorrhoid eksterna. Hasil histopatologi dari ileocaecal junction menunjukkan jaringan mukosa dilapisi epitel usus sebagian erosi, tampak kripta dengan infiltrasi neutrofil dan limfosit, pada lamina propria tampak sedikit sembab dengan sebaran sel neutrofil, histiosit, limfosit dengan sel plasma, tampak proliferasi dan dilatasi pembuluh darah, tampak muskularis mukosa, dengan kesimpulan kolitis kronis aktif. Steroid oral dosis rendah (metilprednisolon 4 mg setiap 8 jam), sulfasalazine (500 mg setiap 8 jam), dan inhibitor pompa proton (omeprazol 20mg sekali sehari). Pasien menunjukkan hasil yang baik dan melanjutkan perawatan rawat jalan setelah 9 hari perawatan di rumah sakit.
Diagnosis penyakit Crohn dapat disimpulkan dari temuan klinis, data pencitraan dengan temuan histologis dan uji laboratorium. Terapi medis dapat diawali dengan kombinasi biologis dan imunosupresan disebut topdown atau memulai pengobatan dengan steroid, imunosupresan lalu biologis disebut step-up. Pada pasien ini menggunakan terapi step up dan perbaikan klinis telah dicapai saat kontrol rawat jalan satu minggu setelah keluar dari rumah sakit.
Penulis : Dilly Niza Paramita , Budi Widodo , Heriyawati
Profuse haematochezia related to Crohn’s disease: a rare case report
Artikel dapat diunduh di : https://www.balimedicaljournal.org/index.php/bmj/article/view/3204





