Universitas Airlangga Official Website

Program Kontrol Vektor nyamuk Aedes Aegypti di Indonesia

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan infeksi yang disebabkan oleh virus Dengue. Dengue merupakan virus penyakit yang ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Berdasarkan data WHO infeksi dengue telah menginfeksi hampir 128 negara di dunia dan menginfeksi hampir 390 juta orang di dunia. Di Indonesia, pada tahun 2020 ditemukan kasus infeksi DBD sebanyak 95.893 kasus.

Penyebaran DBD tercatat pertama kali pada tahun 1968 di Indonesia yaitu di Surabaya, dengan 58 kasus, sebanyak 24 kasus dinyatakan meninggal dunia dan Angka Kematian (AK) mencapai 41,3%. Kemudian pada tahun 1988 DBD menyebar ke seluruh Indonesia dengan jumlah penderita mencapai 13,45 per 100.000 penduduk.

Penyakit DBD dapat muncul sepanjang tahun dan dapat menyerang seluruh golongan umur. Penyebaran penyakit DBD ini berkaitan dengan kondisi lingkungan dan perilaku masyarakat. Kondisi lingkungan juga dianggap memiliki peran yang cukup penting dalam penyebaran DDB karena nyamuk Aedes senang berada di lingkungan yang lembap. Indonesia merupakan salah satu negara beriklim tropis yang memiliki curah hujan tinggi. Curah hujan yang tinggi dapat mempengaruhi tingkat kelembapan dan menambah jumlah tempat perkembangbiakan nyamuk.

Spektrum klinis penyakit DBD berkisar dari penyakit tanpa gejala hingga berbagai macam sindrom dengan manifestasi klinis yang parah. Gejala infeksi dapat berkisar dari dengue fever ringan hingga Dengue Hemoragic Fever (DHF) dan Dengue Shock Syndrome (DSS) yang menyebabkan pendarahan yang berlebihan, gangguan organ, dan pelepasan plasma darah. Dalam kasus yang parah, dapat mengancam jiwa jika tidak ditangani dengan benar. DSS ditandai dengan nadi yang cepat dan tekanan nadi yang menyempit (<20 mmHg).

Gejala klinis DBD ditandai dengan demam mendadak, sakit kepala, nyeri, mual, dan menifestasi perdarahan seperti mimisan atau gusi berdarah serta adanya kemerahan di bagian permukaan tubuh pada penderita. Pada umumnya penderita DBD akan mengalami fase demam selama 2-7 hari. Fase pertama terjadi selama satu hingga tiga hari. Penderita akan merasakan demam yang cukup tinggi, yaitu 40ËšC. Pada fase kedua, penderita mengalami fase kritis pada hari keempat hingga kelima. Pada fase ini penderita akan mengalami penurunan suhu tubuh hingga 37ËšC dan penderita akan merasa dapat melakukan aktivitas kembali (merasa sembuh kembali). Pada fase ini jika tidak mendapatkan pengobatan yang tepat, dapat terjadi keadaan fatal, yaitu penurunan trombosit secara drastis akibat pecahnya pembuluh darah (pendarahan).  Selanjutnya fase ketiga akan terjadi pada hari kelima dan keenam di mana penderita akan merasakan demam kembali. Fase ini dinamakan fase pemulihan di mana trombosit akan perlahan naik dan normal Kembali (Kemenkes, 2017)

Penanganan DBD dapat dilakukan salah satunya dengan manajemen kontrol vektor. Nyamuk Aedes aegypti, dalam hal ini bertindak sebagai vektor yang menyerbarkan DBD dari satu penderita ke orang lain melalui gigitannya. Di Indonesia, program penanganan dan pencegahan DBD dikenal dengan melakukan Gerakan 3M-plus. Gerakan 3M-plus yaitu menguras tempat penyimpanan air, menutup penampungan air, dan membuang/menutup barang bekas yang dapat menampung air. Plus disini artinya jangan menggantung baju karena bisa menjadi sarang nyamuk, hindari gigitan nyamuk terutama di siang/sore hari, membubuhkan larvasida (abate) dan memelihara ikan sebagai predator alami nyamuk.

Metode kontrol vektor lain yang direkomendasikan oleh WHO dapat melalui kontrol secara biologi dan kimiawi. Kontrol secara biologi dengan menggunakan predator alami nyamuk seperti katak, burung dan ikan. Selain itu dapat menggunakan agen protozoa Ascogregarina culicis, bakteri Wolbachia sp dan spora Bacillus thuringensis.

Kontrol vektor secara kimia dapat dilakukan dengan pemberian larvasida, pengusir nyamuk/ serangga dan fogging. Penyemprotan sebaiknya dibatasi pada wilayah yang berpotensi wabah atau KLB. Selain penyemprotan insektisida, pemberantasan nyamuk juga dilakukan di tempat perindukan nyamuk. Jenis insektisida yang banyak digunakan antara lain cypermethrin, deltamethrin, dan permethrin.

Manajemen vektor terintegrasi merupakan pengambilan keputusan yang rasional dalam mengoptimalkan penggunaan sumber daya yang optimal dalam pengendalian vektor. Tujuannya membuat kontrol terhadap vektor yang lebih efisien, hemat biaya, ekologis, dan berkelanjutan.

Kontrol vektor DBD merupakan alat yang efektif dalam mengurangi populasi nyamuk Aedes terutama melalui pendekatan berbasis komunitas dan dikombinasikan dengan Pendidikan kesehatan dalam meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan sikap masyarakat.

Dalam upaya penanggulangan penyakit DBD yang efektif, diperlukan koordinasi lintas sektor yang terkait sanitasi, pengembangan perkotaan dan sektor pendidikan. Selain itu, harus melibatkan komunitas lokal dalam melindungi diri mereka sendiri dengan upaya pemusnahan tempat perindukan nyamuk, penggunaan obat nyamuk, dan lainnya

Nama               : Dr. Sulistiawati., dr., M.Kes

Judul artikel scopus:

Effectiveness of the Aedes aegypti Mosquito Vector Control Program in Southeast Asia – A Systematic Review

Link: http://phcogj.com/article/2147