Universitas Airlangga Official Website

Pruritus atau Rasa Gatal di Bidang Dermatologi

Foto by Alodokter

Pruritus atau sensasi gatal merupakan keluhan yang sangat umum pada populasi umum, namun sulit untuk didiagnosis penyakit dasarnya dan seringkali sulit ditangani. Gatal merupakan salah satu gejala pada kulit sensitif. Rasa gatal ini dapat menyebabkan suatu beban yang sangat mengganggu individu, sama halnya seperti pada nyeri kronis. Rasa gatal yang berkepanjangan dapat mempengaruhi kualitas hidup individu, dimana pada beberapa literatur disebutkan bahwa penurunan kualitas hidup individu akibat pruritus lebih besar daripada pasien dengan riwayat stroke. Kualitas hidup yang menurun akibat pruritus dapat disebabkan akibat gangguan tidur, gangguan mood, dampak psikososial negatif yang berpuncak pada penurunan kualitas hidup yang signifikan secara keseluruhan.

Jumlah individu yang mengalami pruritus pada populasi umum adalah 22% dari keseluruhan populasi umum. Diperkirakan seperlima penduduk dunia pernah mengalami pruritus kronis setidaknya sekali dalam hidup mereka. Angka kejadian pruritus pada populasi umum adalah 8-38% di seluruh dunia, sedangkan terdapat pada lansia adalah 11,5-25% dari populasi lansia mengalami pruritus, terutama di atas usia 85 tahun.

Pruritus merupakan keluhan tersering pada populasi lansia, dengan salah satu penyebab utamanya adalah kulit kering. Di RSUD Dr. Soetomo Surabaya Indonesia, kulit kering dilaporkan sebagai penyakit terbanyak pada lansia yang datang ke Unit Rawat Jalan Kesehatan Kulit dan Kelamin, sebanyak 87 dari 299 (29,10%) pasien dalam kurun waktu 2 tahun.

Pruritus dapat disebabkan oleh berbagai penyakit, baik penyakit di bidang dermatologis maupun non-dermatologis. Pruritus yang disertai lesi kulit yang meradang dapat disebabkan oleh penyakit dermatologis, misalnya dermatitis atopik, psoriasis vulgaris, dermatitis kontak, atau lichen planus. Pruritus tanpa lesi kulit yang meradang dapat disebabkan oleh penyakit sistemik (seperti akibat penyakit hepar, penyakit ginjal, kegansan, atau gatal terkait diabetes), penyebab neuropatik (kelainan saraf), dan penyebab psikogenik (seperti delusi parasitosis). Selain itu, perlu untuk mengevaluasi adanya manifestasi pada kulit yang terjadi akibat garukan atau gesekan, yang dapat ditemukan pada penyakit dermatologis dan non-dermatologis.

Lapisan epidermis memainkan peran penting pada sawar kulit, terutama di lapisan stratum korneum. Sawar kulit berfungsi untuk menjaga keseimbangan kadar air di dalam kulit, perlindungan terhadap mikroorganisme dan antigen, perlindungan terhadap ultraviolet, dan perlindungan terhadap efek stres oksidatif. Sawar kulit yang berfungsi dengan baik, akan menghasilkan kulit yang sehat, yang tampak sebagai tekstur kulit halus, elastisitas yang baik, ketahanan terhadap gesekan, serta kulit yang lembab dan tidak kering.

Sawar kulit yang sehat, secara mikroskopis tampak sebagai susunan yang teratur seperti ‘brick and mortar’ atau seperti gambaran batu bata dan semen, yang menjaga sawar kulit berfungsi dengan baik. Apabila terjadi gangguan dari susunan ini, maka akan menyebabkan penurunan fungsi sawar kulit, sehingga akan terjadi gangguan dari penyimpanan air, pemingkatan air yang menguap melalui lapisan epidermis, serta pada akhirnya akan menimbulkan manifestasi klinis berupa kulit kering, yang seringkali disertai dengan rasa gatal.

Banyak kelainan kulit berhubungan dengan gangguan fungsi sawar kulit. Penyakit kulit juga sering terkait dengan kondisi kulit kering dan rasa gatal, dengan penyakit yang mendasarinya yang dapat bervariasi menurut kelompok umur. Perubahan struktur dan perubahan fisiologis sawar kulit yang terjadi akibat penuaan, disertai dengan adanya faktor komorbiditas dan polifarmasi, dapat meningkatkan risiko abnormalitas sawar kulit pada lansia. Penyebab utama pruritus terkait sawar kulit atau kulit sensitif pada lansia adalah kulit kering, yang dilaporkan sebagai penyebab 69% pruritus atau gatal kronis pada lansia. Sedangkan pada anak-anak dan orang dewasa, penyebab utama pruritus adalah dermatitis atopik, dengan salah satu kriteria diagnostiknya berupa kulit kering akibat gangguan sawar kulit.

Tatalaksana pruritus atau gatal bersifat individual, terapi diberikan sesuai dengan penyakit yang mendasari dan patogenesisnya. Sehingga penting untuk mengetahui patogenesis dan pendekatan diagnostik pruritus untuk menentukannya tatalaksana yang akan diberikan pada kasus pruritus.


Penulis: Dr. Damayanti, dr., Sp.KK(K)

Informasi lengkap dari artikel ini dapat diunduh pada:

https://ijrp.org/paper-detail/4444