Ramadan menjadi bulan yang istimewa dan dinantikan oleh setiap muslim yang beriman di seluruh penjuru dunia. Ramadan menjadi momentum berharga bagi setiap muslim yang beriman untuk melakukan banyak ibadah dan berbagai ketaatan.
Selain diwajibkan menjalankan puasa, Ramadan selalu menempati posisi yang istimewa bagi setiap muslim yang beriman. Mengapa saya katakana hanya muslim yang beriman, karena di sini Allah SWT pun hanya menyeru pada hamba-Nya yang beriman untuk menjalankan kewajiban utama di bulan Ramadan.
Quran surat kedua ayat 183 tertuliskan bahwa Allah SWT berkata “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.
Jelas sekali, seruan hanya untuk orang-orang yang beriman disematkan oleh Tuhan untuk menjalankan salah satu kewajiban yang menjadi dasar utama agama yang mulia, puasa. Untuk itu, sudah dapat dipastikan hanya orang-orang muslim yang berimanlah yang akan mendapatkan derajat takwa sebagaimana firman yang menjadi penutup ayat tersebut.
Namun, di sini, saya tidak akan menjelaskan atau bahkan menafsiri ayat tersebut. Hanya saja, saya mengambil salah satu hikmah besar dari perintah puasa dalam ayat tersebut yang berdampak pada derajat takwa, yakni kedisiplinan.
Kenapa disiplin? Apa korelasinya dengan puasa? Apa keterkaitan takwa dengan kedisiplinan? Mari kita renungkan bersama, ibadah puasa yang kita mulai saat adzan subuh dikumandangkan hingga waktu magrib tiba, merupakan rangkaian ibadah yang sangat membutuhkan kedisiplinan.
Kedisiplinan pertama adalah tentang waktu. Jika terlambat atau ngaret kerap melekat dan menjadi budaya bagi sebagai masyarakat kita, beda dengan puasa. Saat puasa, sontak mendidik kita semua untuk bisa tepat waktu. Utamanya tepat waktu dalam menutup sahur atau memulai puasa dan tepat waktu saat waktu berbuka tiba. Bahkan, seruan untuk menyegerakan berbuka juga menjadi salah satu keutamaan yang diperintahkan oleh Rasulullah.
Dari Abu Hurairah, dari Nabi Saw. yang bersabda: Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang yang paling Aku cintai di antara hamba-hamba-Ku ialah orang yang paling segera berbuka.”
Jelas bukan, bahwa kedisiplinan dalam hal waktu memulai puasa dan berbuka menjadi salah satu pelajaran dari adanya puasa. Andai saja, hal ini bisa diterapkan dan diaplikasikan ke banyak hal, dalam banyak bidang, dan dalam banyak urusan yang lain, betapa mulianya setiap urusan yang dilakukan oleh setiap muslim. Dan pastinya, dengan disiplin waktu tersebut, bukan tidak mungkin produktivitas dan karya-karya luar biasa akan banyak tercipta. Serta yang tidak kalah pentingnya adalah kultur ngaret yang melekat dari sebagian kita bisa tereduksi.
Selanjutnya, yang kedua, saya akan menjelaskan korelasi disiplin dan ketakwaan. Kita tahu, saat puasa yang didasari dengan keimanan dan mengharap ampunan Tuhan, tentu akan kita jalankan dengan sungguh-sungguh. Meski tidak ada yang melihat, kita akan menjalankan puasa dengan tidak makan dan minum sebelum waktunya tiba. Meski tidak ada manusia yang mengawasi, kita akan tetap menjaga puasa kita dari hal-hal yang membatalkan puasa.
Coba bayangkan, jika mental dan kebiasaan seperti ini kita terapkan dalam kehidupan, kita jalankan dalam setiap aktivitas kita, dan kita bisa menjalankan hal-hal yang tidak dilihat manusia dengan baik, mengerjakan pekerjaan dengan sempurna meski tidak diawasi atasan. Karena kita yakin, Allah melihat setiap gerak dan aktivitas kita semua. Betapa luar biasa jika itu menjadi budaya dan jalan hidup kita setiap hari.
Oleh sebab itu, mari kita renungkan bersama bahwa sebulan dari satu tahun yang diberikan Tuhan menjadi momen untuk merenungkan dan momen kontemplasi diri kita agar bisa menjalani kehidupan dengan baik. Menerapkan budaya tepat waktu dalam setiap urusan dan menjalankan aktivitas dengan sungguh-sungguh meski jauh dari sorot pandang manusia. Jika dua hal ini saja kita lakukan dalam setiap aktivitas kehidupan kita semua, sudah barang tentu kehidupan yang teratur, disiplin, dan karya-karya luar biasa akan kita hasilkan.
Dan yang paling terpenting dari hal itu semua adalah semua aktivitas dan amal kita yang berujung pada derajat takwa dan ridho yang Maha Kuasa. Selamat menjalankan ibadah mulia dan semoga kita benar-benar mendapatkan derajat takwa.
Penulis: Nuri Hermawan, S.Hum., M.Hum. (Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia)





