Universitas Airlangga Official Website

Ramadan dan Peradaban Generasi Masa Kini

Rhidio A Diadon, dalam acara kajian pembuka Ramadan Mubarak Airlangga 1447 H
Rhidio A Diadon, dalam acara kajian pembuka Ramadan Mubarak Airlangga 1447 H (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Tinggal menghitung hari lagi, umat Islam akan kembali berjumpa dengan Ramadan. Unit Kegiatan Mahasiswa Kerohanian Islam (UKMKI) Universitas Airlangga (UNAIR) menyambut momen tersebut melalui kajian pembuka Ramadan Mubarak Airlangga (RMA) 1447 H bertajuk Dari Ramadan ke Puncak Peradaban. Acara yang berlangsung pada Jumat (13/2/2026) di Masjid Nuruzzaman, Kampus Dharmawangsa-B UNAIR tersebut mengajak mahasiswa menyiapkan diri menyambut Ramadan. 

Hadir sebagai narasumber, Rhidio A Diadon, Gen Z muslim influencer, menjelaskan bahwa peradaban bukan istilah yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Ia menyebut peradaban sebagai sebuah era yang di dalamnya lahir pola pikir, budaya, hingga kebiasaan kolektif suatu generasi. Menurutnya, jika ingin menjadikan Ramadan sebagai titik awal peradaban Islam, maka perubahan harus dimulai dari cara generasi hari ini memaknai dan menyambutnya.

“Peradaban itu bukan tugas individu. Ini tugas bareng-bareng. Kalau ditanya mulai dari mana, ya mulai dari kita. Mulai dari cara kita menyebut Ramadan dengan penuh kebahagiaan,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menyebut bahwa budaya generasi hari ini sangat bergantung pada apa yang dianggap keren dan layak dirayakan. Ketika anak muda merasa bangga datang ke pengajian, antusias menyambut sahur, atau menjadikan Ramadan sebagai tren positif di media sosial, maka di situlah pola peradaban terbentuk. Ia menilai, kebahagiaan kolektif dalam menyambut Ramadan dapat memunculkan efek berantai yang membentuk kultur baru.

“Kalau kita ramai-ramai bahagia menyambut Ramadan, itu jadi tren. Lama-lama orang merasa, ‘oh ternyata Ramadan itu menyenangkan’. Dari situ muncul kebaikan-kebaikan setelahnya,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa generasi muda tidak perlu kehilangan identitasnya. Lifestyle tetap berjalan, tongkrongan tetap ada, tetapi arah pembicaraan dan kebiasaan bisa bergeser ke hal yang lebih bermakna. “Nongkrong tetap boleh, main game tetap boleh. Tapi bisa nggak di situ kita libatkan Allah? Peradaban dimulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil seperti itu,” katanya.

Penulis: Fania Tiara Berliana M

Editor: Yulia Rohmwati