UNAIR NEWS – Indonesia memperingati Hari Pustakawan setiap tanggal 7 Juli. Peringatan ini menjadi sebuah momentum pengingat bagi masyarakat terhadap peran pustakawan dalam memberikan akses informasi dan ilmu pengetahuan. Guru Besar Departemen Ilmu Informasi dan Perpustakaan FISIP UNAIR, Prof Rahma Sugihartati Dra M Si turut menuturkan, dari dulu hingga sekarang, pustakawan merupakan sebuah profesi yang krusial bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
Mirisnya, profesi pustakawan kerap mendapatkan anggapan remeh dan membosankan. Hal ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi para pustakawan. Namun, di sisi lain, teknologi seperti kecerdasan buatan, gawai canggih, dan lain sebagainya hadir sebagai penunjang pekerjaan. “Pustakawan dulu melakukan semua hal dengan manual. Dengan adanya teknologi sekarang, perlu adanya extended roles pustakawan dalam menjalankan profesi,” ujar Rahma.
Andil Besar
Sudah menjadi pengetahuan umum yang menyedihkan bahwa tingkat literasi di Indonesia cenderung rendah. Menurut PISA (Programme for International Student Assessment) 2022, Indonesia menempati peringkat 70 dari 80 negara. Dengan fakta ini, pustakawan memiliki andil yang cukup besar dalam meningkatkan literasi di Indonesia. “Cukup banyak solusi yang telah diberlakukan, tetapi belum membuahkan hasil yang signifikan,” lanjut Rahma.

Kebijakan membaca 15 menit untuk murid sebelum kelas belum diimplementasikan dengan baik. Taman baca untuk masyarakat sempat meningkatkan minat baca masyarakat sebentar. Namun, menurun lagi karena koleksi buku yang terbatas. “Literasi bukan hanya soal membaca, tetapi juga mengasah skill,” tambah Rahma.
Program Perpustakaan Nasional
Rahma menyebutkan sebuah program bernama TPBIS (Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial). Program tersebut dicetuskan oleh Perpustakaan Nasional dan tujuannya adalah untuk mengubah wajah perpustakaan Indonesia.
Di perpustakaan, terdapat kelas membuat kopi, merajut, menjahit, dan lain sebagainya. Masyarakat menjadi lebih tertarik dengan perpustakaan. Tentu inovasi-inovasi tersebut bisa datang dari pustakawan. Program ini juga bentuk bahwa pustakawan telah beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Pada akhir, Rahma berpesan kepada para pustakawan agar mempertahankan eksistensinya. Kehadiran teknologi bukan untuk menggeser peran mereka, tetapi harus memandu cara memakainya dengan benar. Ia juga berpesan kepada para mahasiswa, khususnya Ilmu Informasi dan Perpustakaan, untuk mengembangkan diri di luar kemampuan teknis pustakawan.
Penulis: Humas FISIP
Editor: Yulia Rohmawati





