Universitas Airlangga Official Website

Remaja, Minuman Manis, dan Ancaman Obesitas: Alarm Serius untuk Generasi Muda

Polimorfisme Gen ADIPOQ +45 T>G, Resistensi Insulin dan ICAM-1 pada Remaja Obesitas
Ilustrasi obesitas (Foto: Alomedika)

Masalah kelebihan berat badan dan obesitas bukan hanya isu global, namun kini menjadi perhatian serius di Indonesia. Remaja, kelompok usia yang sedang berada di puncak pertumbuhan dan produktivitas, menghadapi risiko yang terus meningkat akibat pola makan tidak sehat dan minimnya aktivitas fisik. Penelitian terbaru di Jawa Timur menunjukkan bahwa konsumsi minuman berpemanis serta gaya hidup sedentari menjadi faktor utama melonjaknya angka kegemukan pada remaja, baik di wilayah urban maupun rural.

Penelitian ini melibatkan 261 remaja berusia 12–14 tahun dari kawasan perkotaan dan pedesaan di Jawa Timur. Hasilnya, sekitar 31% remaja perkotaan mengalami kelebihan berat badan atau obesitas, jauh lebih tinggi dibandingkan 21% remaja pedesaan. Perbedaan ini mencerminkan adanya kesenjangan gaya hidup antara dua wilayah tersebut. Remaja kota lebih sering mengonsumsi minuman manis, tidur lebih sedikit, dan memiliki waktu screen time yang lebih panjang.

Konsumsi minuman berpemanis setidaknya sekali sehari diketahui dapat meningkatkan risiko kegemukan hingga dua kali lipat. Kombinasi antara makanan tinggi lemak, waktu duduk lebih dari empat jam per hari, serta minimnya aktivitas fisik membentuk apa yang dikenal sebagai lingkungan obesogenic, lingkungan yang mendorong peningkatan berat badan secara tidak sehat.  Menariknya, meski remaja pedesaan lebih aktif, mereka tidak sepenuhnya terlindungi dari ancaman obesitas.

Akses teknologi dan budaya konsumsi makanan instan yang semakin merata mulai memengaruhi pola hidup di wilayah desa. Jika tidak segera ditangani, tren ini akan memperburuk status gizi remaja Indonesia di masa depan.  Faktor lain seperti pengaruh media sosial dan teman sebaya juga memperparah situasi. Iklan makanan dan minuman tinggi gula yang masif di platform digital serta tren makanan viral berkontribusi pada pilihan konsumsi tidak sehat. Selain itu, kebiasaan “ngopi kekinian” atau jajan camilan modern menjadi hal lumrah di kalangan remaja saat ini.

Solusi tidak bisa ditunda. Diperlukan intervensi gizi yang tepat sasaran, mulai dari edukasi di sekolah, kampanye publik, hingga penyediaan ruang aktivitas fisik yang ramah remaja. Orang tua juga harus lebih proaktif mengarahkan pilihan konsumsi anak-anak mereka. Sekolah dapat menjadi agen perubahan dengan membentuk komunitas remaja sadar gizi, menyelenggarakan lomba menu sehat, hingga memasukkan materi gizi ke dalam kurikulum secara aplikatif dan menyenangkan.

Pemerintah daerah juga dapat berperan aktif dengan membatasi penjualan minuman berpemanis di lingkungan pendidikan dan menerapkan kebijakan cukai terhadap produk tinggi gula. Sinergi antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah akan menjadi kunci utama. Jika dijalankan bersama, kita bisa menciptakan generasi muda yang sadar gizi, aktif bergerak, dan terbiasa menjalani hidup sehat. Ini bukan sekadar solusi sementara, melainkan investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.

Risiko Jangka Panjang

Lebih lanjut, penting bagi kita untuk memahami bahwa obesitas remaja bukan hanya masalah estetika, tetapi juga berkaitan erat dengan risiko jangka panjang seperti diabetes tipe 2, hipertensi, penyakit jantung, hingga gangguan kesehatan mental. Masa remaja adalah fase penting dalam pembentukan kebiasaan hidup, dan bila sejak usia dini sudah terbiasa dengan pola makan dan gaya hidup tidak sehat, maka akan sangat sulit mengubahnya saat dewasa nanti.

Tingginya konsumsi makanan olahan dan minuman tinggi gula di kalangan remaja tak lepas dari masifnya iklan dan promosi yang menyasar kelompok usia ini. Ironisnya, produk-produk yang ditampilkan seolah mencerminkan gaya hidup modern, kekinian, dan keren. Padahal, di balik itu semua tersembunyi potensi kerusakan metabolik yang mengintai tubuh dalam diam. Beberapa negara seperti Meksiko, Inggris, dan Chile sudah lebih dulu menerapkan kebijakan cukai terhadap minuman berpemanis, serta memperketat iklan produk tidak sehat yang ditujukan untuk anak-anak dan remaja. Indonesia pun perlu menyusun strategi serupa, tidak hanya bergantung pada edukasi moral semata, tetapi juga menyiapkan regulasi tegas yang dapat mengubah lingkungan konsumsi masyarakat secara sistemik.

Di sisi lain, peran orang tua sebagai role model sangat menentukan. Orang tua yang memberi contoh konsumsi makanan sehat, rajin bergerak, dan membatasi penggunaan gawai di rumah akan jauh lebih efektif dalam membentuk perilaku anak ketimbang hanya memberikan larangan. Keluarga adalah ruang awal terbentuknya kebiasaan, dan di situlah perubahan pertama harus dimulai.

Tak kalah penting, dunia pendidikan dan sektor swasta dapat dilibatkan secara aktif. Sekolah bisa mengembangkan kantin sehat dan aktivitas fisik rutin sebagai bagian dari budaya sekolah. Sementara itu, produsen makanan dan minuman juga perlu diajak untuk ikut bertanggung jawab melalui reformulasi produk yang lebih sehat dan transparansi informasi gizi dalam setiap kemasan. Upaya menekan angka obesitas remaja harus menjadi gerakan bersama lintas sektor. Ini bukan sekadar urusan gizi, tapi sudah menyangkut kualitas hidup dan masa depan generasi bangsa. Jika kita semua bersatu langkah dan serius dalam membangun sistem pendukung yang kuat, bukan hal mustahil untuk menciptakan Indonesia yang lebih sehat di masa depan.


Penulis: Mahmud Aditya Rifqi SGz MSi

Hasil penelitian dipublikasikan pada Jurnal Amerta Nutrition e-ISSN: 2580-1163 (Online) p-ISSN: 2580-9776 (Print). https://e-journal.unair.ac.id/AMNT/article/view/66556