Intensifikasi budidaya ikan lele menimbulkan masalah baru yaitu semakin meningkatnya kejadian penyakit karena tingginya stressor lingkungan yang menyebabkan penurunan sistem imun ikan lele. Beberapa pembudidaya mengatasi hal tersebut dengan memberikan antibiotik untuk mengobati ikan lele yang sakit. Antibiotik yang banyak digunakan oleh pembudidaya ikan lele antara lain oksitetrasiklin dan kloramfenikol. Saat ini penggunaan antibiotik termasuk kloramfenikol untuk kegiatan budidaya sudah mulai dikurangi karena menimbulkan masalah serius berupa residu yang tertinggal dalam daging ikan yang menyebabkan terjadinya resistensi pada manusia yang mengkonsumsinya. Selain itu, residu kloramfenikol pada manusia menyebabkan penyakit gangguan saluran cerna, anemia, munculnya reaksi alergi sampai gangguan tulang.
Tingginya kandungan protein pada daging ikan lele dumbo merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri kontaminan. Hal ini dikarenakan ikan tidak memiliki jaringan pengikat sehingga kandungan asam amino dalam daging ikan lebih mudah dimanfaatkan untuk metabolisme mikroorganisme serta produksi amonia, biogenik amine, asam organik, keton dan komponen sulfur. Jenis bakteri kontaminan pada daging ikan sebagian besar didominasi oleh bakteri patogen seperti Escherechia coli, Staphylococcus aureus, Vibrio cholerae, Vibrio parahemolyticus, Salmonella spp., Listeria monocytogenes, Clostridium botulinum, dan Shigella spp. yang menyebabkan penyakit pada manusia yang mengkonsumsinya. Kondisi ini juga dapat menyebabkan kerugian pada manusia dan dapat menurunkan mutu daging ikan.
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendeteksi adanya residu antibiotik dan cemaran mikroba pada daging ikan lele dumbo yang dipasarkan di Kota Banyuwangi untuk menjamin mutu dan keamanan daging ikan lele sehingga tidak menimbulkan kerugian dan penyakit pada manusia yang mengkonsumsinya.
Penelitian ini menggunakan metode survei melalui pengambilan sampel pada empat lokasi pasar di kota Banyuwangi, yaitu di Pasar Banyuwangi Kota, Pasar Blambangan, dan Pasar Kertosari. Selanjutnya sampel dilakukan pemeriksaan sampel ikan lele yang terdiri dari penghitungan total bakteri dengan metode hitung cawan; pemeriksaan residu antibiotik kloramfenikol menggunakan HPLC dan cemaran mikroba (V. cholera, E.coli dan Salmonella) menggunakan metode biokimia.
Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 36,37% sampel dari pasar Kertosari; 23,33% sampel dari pasar Banyuwangi Kota; dan 16,67% sampel dari pasar Blambangan mengandung residu kloramfenikol tetapi kurang dari 0,3 ppb. Hanya 40% sampel dari pasar Kertosari; 36,67% sampel dari pasar Banyuwangi Kota; dan 26,67% sampel dari pasar Blambangan yang terkontaminasi oleh E.coli tetapi kurang dari 3 MPNg-1. Total bakteri aerob tertinggi terdapat di Pasar Banyuwangi Kota, diikuti oleh Pasar Kertosari dan Blambangan. Tidak ada sampel yang terkontaminasi oleh Salmonella dan V. cholera dari semua pasar dan tidak ada perbedaan yang signifikan antara semua pasar dalam total bakteri aerob, jumlah E.coli, dan residu kloramfenikol. Semua ikan lele hasil budidaya yang dipasarkan di Banyuwangi aman untuk dikonsumsi karena tidak ada sampel yang melebihi batas maksimum residu kloramfenikol dan standar cemaran bakteri. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mendeteksi residu antibiotik lain yang digunakan dalam akuakultur, seperti tetrasiklin, sulphonamide, enrofloksasin, dan nitrofuran.





