Resistensi agen patogen terhadap antibiotik menjadi sumber morbiditas dan mortalitas yang signifikan di seluruh dunia, dengan keseluruhan 4,95 juta kematian terkait dengan komplikasi infeksi bakteri resisten. Tantangan resistensi antibiotik di Indonesia sama dengan banyak negara berkembang lainnya, yaitu karena adanya penyalahgunaan dan pemberian antibiotik secara berlebihan di berbagai bidang, salah satunya adalah peternakan. Antimikroba dalam sistem produksi ternak intensif sering digunakan untuk menjaga kesehatan, kesejahteraan, dan produktivitas ternak. Peningkatan permintaan protein hewani telah menyebabkan ketergantungan berlebihan pada antimikroba, baik untuk mendorong pertumbuhan ternak maupun pengobatan tanpa penyakit yang terdiagnosis sebelumnya. Wawancara dengan peternak kambing di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Indonesia, mengungkapkan bahwa streptomisin, sulfonamid, dan trimetoprim merupakan antibiotik yang sering digunakan untuk mengatasi masalah gangguan pencernaan yang terjadi ternak kambing perah oleh peternak.
Escherichia coli merupakan bakteri indikator sanitasi dan higiene serta merupakan bakteri yang umum mengkontaminasi susu ternak perah. Bakteri ini juga menjadi penyebab penyakit mastitis pada ternak perah yang menyebabkan penurunan kualitas dan kuantitas susu yang diproduksi. Selain itu, E. coli umum digunakan sebagai indikator selama surveilans dan pemantauan resistensi antibiotik. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan sampel susu kambing perah peranakan Ettawa di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, menunjukkan bahwa semua sampel susu kambing (34/34) positif E. coli. Sifat fisik susu sampel yang diteliti, baik warna, bau, rasa, dan konsistensi memberikan penilaian normal. Hasil uji alkohol menunjukkan keasaman yang normal, dan berat jenis susu memenuhi Standar Nasional Indonesia, dengan rata-rata berat jenis 1,0295 g/mL. Semakin tinggi berat jenis susu semakin baik, karena kandungan susu semakin pekat, kadar air rendah, dan persentase bahan non lemak meningkat. Oleh karenanya, susu kambing tersebut layak dikonsumsi, karena susu kambing mentah yang layak konsumsi memiliki kriteria normal, bersih, berwarna putih atau krem, rasa alami tanpa ada bahan asing dan campuran apapun.
E. coli yang berasal dari hewan sering menunjukkan resistensi terhadap sebagian besar agen antimikroba yang tergolong tua, antara lain: tetrasiklin, fenikol, sulfonamid, trimetoprim, dan fosfomisin. Isolat E. coli yang teridentifikasi dari sampel susu kambing perah Peranakan Etawa (PE) di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, menunjukkan resistensi terhadap antibiotik streptomisin (12%), sulfonamid (15%), dan trimetoprim (3%). Resistensi yang terjadi pada bakteri E. coli terhadap antibiotika dari isolat merupakan akibat dari penggunaan antibiotika yang dilakukan oleh peternak dengan jangka panjang dan terus menerus dengan tujuan untuk mengatasi dan mencegah terjadi suatu penyakit pada ternak maupun untuk pengobatan. Resistensi bakteri terhadap antibiotika pada peternakan ini menunjukan adanya penggunaan antibiotika oleh peternak sesuai dengan pengobatan rasional. Penggunaan antibiotika dapat dikatakan rasional karena tepat indikasi, tepat dosis, tepat obat, tepat durasi, dan tepat frekuensi. Resistensi bakteri E. coli pada beberapa antibiotika akan sangat berbahaya karena menyebabkan sulitnya dilakukan pengobatan pada ternak sakit. Berbagai macam jenis antibiotika yang digunakan dengan jangka waktu panjang dan tidak dilakukannya rotasi pada pemberian antibiotika sangat tidak dianjurkan. Akibat dari resistensi bakteri terhadap lebih dari satu jenis antibiotika yakni sulitnya penyembuhan kambing sakit dan akan sangat berbahaya.
Penemuan resistensi E. coli terhadap beberapa antibiotik pada susu kambing peranakan Ettawa yang dikonsumsi masyarakat harus dibarengi dengan kewaspadaan agar resistensi tidak meluas lebih luas. Beberapa mekanisme resistensi muncul tetapi tidak berkembang pada ledakan pertama, tetapi terdapat kasus lainnya dimana resistensi dapat menyebar dengan sangat cepat. Hal ini dapat disebabkan karena mikroorganisme dapat mengembangkan resistensi terhadap obat yang digunakan, dan sebagian besar organisme patogen dapat mengembangkan resistensi terhadap setidaknya beberapa agen antimikroba melalui mekanisme resistensinya. Sebuah studi baru-baru ini melaporkan peningkatan substansial dalam konsumsi antibiotik global di 79 negara antara tahun 2000 dan 2015 dan memperkirakan peningkatan lebih lanjut sebesar 200% pada tahun 2030. Oleh karena itu, penggunaan antibiotik pada industri kambing perah di Indonesia harus dikontrol untuk mencegah penyebaran E. coli yang resisten dari hewan ke manusia melalui rantai makanan dan mencegah munculnya E. coli yang resistan terhadap berbagai obat.
Penulis : Prima Ayu Wibawati
Sumber: Agatha TM, Wibawati PA, Izulhaq RI, Agustono B, Prastiya RA, Wardhana DK, Abdramanov A, Lokapirnasari WP, and Lamid M (2023) Antibiotic resistance of Escherichia coli from the milk of Ettawa crossbred dairy goats in Blitar Regency, East Java, Indonesia, Veterinary World, 16(1): 168–174.
Link Jurnal: http://www.veterinaryworld.org/Vol.16/January-2023/21.pdf





