Diabetes melitus (DM) merupakan masalah kesehatan yang signifikan secara global dengan angka kesakitan dan kematian yang tinggi. Sebagai kelompok masyarakat yang berisiko tinggi, penderita DM harus segera mendapatkan vaksinasi untuk mendapatkan kekebalan terhadap SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19. Penting untuk menentukan efektivitas vaksin pada populasi khusus seperti penderita DM sehingga kebijakan baru dapat dirumuskan untuk memaksimalkan efektivitas vaksin jika diperlukan.
Tinjauan sistematis dilakukan untuk menilai data yang tersedia mengenai dampak pengendalian DM terhadap imunogenisitas pasien DM pasca vaksinasi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pasien DM umumnya menunjukkan imunogenisitas yang lebih rendah dibandingkan pasien tanpa DM. Hal ini terkait dengan perjalanan penyakit DM yang berdampak pada banyak faktor. Salah satu faktor tersebut adalah peradangan kronis tingkat rendah pada pasien dengan kadar gula darah tinggi. Hal ini berdampak pada terganggunya aktivasi imunitas seluler seperti makrofag dan sel T, serta peningkatan sitokin proinflamasi melebihi batas normal.
Lima penelitian yang dimasukkan dalam tinjauan sistematis ini, semuanya menunjukkan imunogenisitas yang lebih rendah pada pasien DM yang menerima vaksinasi dengan vaksin tipe inaktif. Dalam penelitian ini, adanya penyakit kardiovaskular lebih signifikan mempengaruhi titer pasca vaksinasi. Perlu diketahui bahwa DM yang tidak terkontrol dapat berkembang menjadi gangguan kardiometabolik, seperti penyakit jantung hipertensi dan gagal jantung kongestif.
Penyakit kardiovaskuler tidak terlepas dari imunitas seseorang yang bersumber dari mekanisme molekuler berupa disfungsi endotel sehingga memicu inflamasi tingkat rendah dan menimbulkan dampak serupa dengan DM. Jika seseorang mengalami gangguan kardiometabolik, ada kemungkinan orang tersebut akan mengalami multiplier effect berupa menurunnya imunitas dan memerlukan perhatian khusus.
Studi ini juga menemukan penurunan seropositif setelah 5 bulan masa tindak lanjut pada pasien yang divaksinasi CoronaVac. Berkurangnya imunogenisitas pada pasien dengan vaksin yang tidak aktif mungkin disebabkan oleh rendahnya imunogenisitas awal pada awal vaksin. Vaksinasi dengan vaksin berbasis vektor dan berbasis mRNA juga menunjukkan bahwa pasien DM yang tidak terkontrol memiliki tingkat serokonversi yang lebih rendah. Berdasarkan pada hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa kualitas pengendalian DM perlu diperhatikan untuk melakukan vaksinasi pasien DM untuk mencapai imunogenisitas yang maksimal. Terlepas dari kualitas terkontrolnya DM, mengingat vaksin inaktif memicu imunogenisitas yang cukup rendah jika dibandingkan dengan vaksin berbasis vektor atau mRNA, maka vaksin booster penting diberikan untuk menjaga imunogenisitas pada pasien DM agar terhindar dari gejala COVID-19 yang parah.
Penulis: Prof. Dr. Gatot Soegiarto, dr., Sp.PD, K-AI
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Prasetyaningtyas, D., Soegiarto, G., Wulandari, L. 2023. Effects of diabetes mellitus regulation on antibody response to inactivated virus vaccine: a systematic review. Bali Medical Journal 12(2): 1478-1483. DOI: 10.15562/bmj.v12i2.4171





