Universitas Airlangga Official Website

Restog Krisna Kusuma Bagikan Inspirasi Kreativitas dan Ketepatan Inovasi di Ekraf Talk 2025 UNAIR

Wakil Presiden BEM FH UNAIR, Muhammad Raikhan Muttaqin, mengajukan pertanyaan kepada Restog Krisna Kusuma dalam sesi tanya jawab Ekraf Talk 2025 pada Jumat (7/11/2025). (Foto: Penulis)
Wakil Presiden BEM FH UNAIR, Muhammad Raikhan Muttaqin, mengajukan pertanyaan kepada Restog Krisna Kusuma dalam sesi tanya jawab Ekraf Talk 2025 pada Jumat (7/11/2025). (Foto: Penulis)

UNAIR NEWS – Departemen Ekonomi Kreatif BEM Fakultas Hukum Universitas Airlangga menyelenggarakan Ekraf Talk 2025 pada Jumat (7/11/2025) melalui Zoom Meeting. Acara menghadirkan Restog Krisna Kusuma SH MSi Ak, Staf Ahli Kementerian Ekonomi Kreatif RI sekaligus alumni FH UNAIR, sebagai narasumber. Acara ini mengusung tema “Bukan Cuma Cepat, Tapi Juga Tepat: Menjaga Mutu di Era Persaingan Bisnis” menarik perhatian mahasiswa dari berbagai fakultas. Pada acara ini juga menyediakan sesi interaktif, memungkinkan peserta aktif bertanya dan berdiskusi terkait praktik ekonomi kreatif terkini.

Ekonomi Kreatif: Mesin Pertumbuhan dan Nilai Tambah

Restog menjelaskan, “Ekonomi kreatif adalah mesin pertumbuhan Indonesia yang digerakkan kreativitas, inovasi, dan kekayaan intelektual.” Ia menekankan nilai tambah dan branding sebagai kunci. “Kalau kopi dijual Rp20.000, tapi dikemas dan dipasarkan dengan baik bisa menjadi Rp100.000 atau lebih, itulah nilai tambah.” Ia menyoroti pentingnya perlindungan kekayaan intelektual agar inovasi tidak mudah ditiru. Termasuk melalui hak paten dan hak cipta, agar usaha kreatif bisa berkembang secara berkelanjutan.

Kolaborasi dan Tantangan Pengembangan Ekraf di Daerah

Dalam sesi tanya jawab, Wakil Presiden BEM FH UNAIR, Muhammad Raikhan Muttaqin, bertanya, “Bapak, bagaimana tantangan agar kesuksesan ekonomi kreatif nasional berlanjut di daerah?”

Restog menjawab, “Pertumbuhan daerah butuh kolaborasi. Pemerintah daerah memfasilitasi regulasi dan sarana, pusat mendorong pertumbuhan nasional. Misalnya, Jogja dan Surabaya pertumbuhan ekonominya signifikan karena kolaborasi pemerintah dan pelaku lokal. Kita tidak bisa sukses nasional kalau daerah tidak tumbuh.”

Ia menambahkan, “Mulailah dari ide sederhana, eksekusi, riset, dan jangan takut gagal. Kreativitas dan implementasi kunci untuk menciptakan lapangan kerja baru. Contohnya, mahasiswa Lamongan membuka usaha kukusan dan infus water. Mulai dari lingkungan sekitar, perbaiki produk, jangan berhenti sampai konsumen terima. Memperluas jejaring juga penting agar ide bisa menjangkau pasar lebih luas.”

Wadah Inspirasi bagi Mahasiswa dan Pelaku Kreatif

Restog menutup, “Jangan hanya berpikir bekerja setelah lulus. Ciptakan pekerjaan sendiri melalui inovasi dan kreativitas. Ide segar bisa menjadi peluang besar.”

Acara via Zoom Meeting menjadi platform inspiratif bagi mahasiswa dan pelaku kreatif dari berbagai daerah untuk mempelajari praktik nyata ekonomi kreatif, strategi branding, kolaborasi lintas subsektor, dan implementasi ide menjadi produk bernilai tambah. Peserta juga mendapatkan insight praktis mengenai bagaimana membangun usaha kreatif dari nol hingga mencapai skala nasional.

Penulis: Dara Devinta Faradhilla
Editor: Ragil Kukuh Imanto