Kesehatan mental remaja menjadi isu penting di tengah tekanan sosial dan perkembangan teknologi digital yang pesat. Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena ini semakin mencuat terutama pada kelompok yang dikenal sebagai Strawberry Generation — generasi muda yang tumbuh di era media sosial dan sering dianggap mudah rapuh secara emosional. Data menunjukkan bahwa lebih dari 31 juta penduduk Indonesia berusia di atas 15 tahun mengalami gangguan mental, dengan 19 juta di antaranya mengalami gangguan emosional dan 12 juta menderita depresi. Kondisi ini menunjukkan urgensi penanganan kesehatan mental sejak usia remaja.
Peningkatan Tren Penelitian Kesehatan Mental Remaja
Analisis terhadap 500 artikel ilmiah nasional dan internasional yang diterbitkan antara 2019 hingga 2024 menunjukkan bahwa riset tentang kesehatan mental remaja terus meningkat. Peningkatan signifikan terjadi pada 2020 hingga mencapai puncak pada 2023. Meski terjadi sedikit penurunan pada 2024 akibat data yang baru terkumpul hingga pertengahan tahun. Temuan ini menunjukkan konsistensi minat akademisi dan praktisi kesehatan terhadap isu kesehatan mental remaja, khususnya di Indonesia.
Penelitian juga mengidentifikasi lima topik utama yang paling sering dibahas, yaitu kesehatan mental, generasi muda, remaja, anak, dan gangguan psikologis. Isu-isu seperti tekanan akademik, kondisi ekonomi keluarga, hingga literasi finansial muncul sebagai faktor yang memengaruhi keseimbangan psikologis remaja. Dengan demikian, pendidikan karakter, literasi digital, dan pemahaman keuangan menjadi strategi penting dalam memperkuat ketahanan mental generasi muda.
Pengaruh Media Sosial dan Tekanan Sosial terhadap Remaja
Media sosial menjadi salah satu faktor dominan yang memengaruhi kondisi psikologis remaja. Aktivitas daring yang berlebihan dapat meningkatkan risiko kecemasan, depresi, hingga munculnya keinginan bunuh diri. Tekanan sosial dari lingkungan digital, seperti perbandingan diri dan validasi sosial melalui likes atau followers, turut memperburuk kondisi mental remaja. Meski demikian, interaksi positif di dunia maya — seperti dukungan sosial, kreativitas digital, dan berbagi pengalaman positif — justru dapat memperkuat rasa percaya diri dan mengurangi kesepian.
Arah Baru Riset dan Upaya Intervensi
Penelitian ini menekankan perlunya riset jangka panjang untuk memantau perubahan kesehatan mental remaja secara berkelanjutan. Platform digital seperti aplikasi survei daring dinilai efektif dalam memantau kondisi psikologis remaja secara real-time. Hasil analisis ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi perumusan kebijakan dan program kesehatan mental yang lebih terarah. Baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Temuan lengkap dari penelitian ini dipublikasikan dalam Jurnal Promkes: The Indonesian Journal of Health Promotion and Health Education (Sinta 2). Melalui hasil riset ini, diharapkan program kesehatan mental di Indonesia dapat dikembangkan dengan pendekatan berbasis bukti untuk mendukung kesejahteraan psikologis remaja di era digital.
Penulis: Eny Qurniyawati, S.ST., M.Kes., M.Epid
Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui:
Nirmalawati, T. & Qurniyawati, E. (2025). Mental Health of Adolescents in the Strawberry Generation: A Bibliometric Analysis. Jurnal Promkes, 13(2), 250–256.





