Universitas Airlangga Official Website

Riset Magister UNAIR Dorong Penguatan Wellbeing Pustakawan Lewat Leadership 5.0

Lidya Rosiana (tiga dari kanan) berfoto bersama dosen pembimbing dan dewan penguji usai merampungkan Sidang Tesis, Jumat (12/12/2025). (Foto: Ahmad Abid Zhahiruddin)
Lidya Rosiana (tiga dari kanan) berfoto bersama dosen pembimbing dan dewan penguji usai merampungkan Sidang Tesis, Jumat (12/12/2025). (Foto: Ahmad Abid Zhahiruddin)

UNAIR NEWS – Pustakawan memegang peran vital sebagai garda terdepan layanan informasi dan literasi. Namun, di balik peran strategis tersebut, terdapat tantangan besar terkait kesejahteraan mental yang perlu mendapat perhatian serius dari para pimpinan perpustakaan di Indonesia.

Isu krusial tersebut menjadi sorotan utama dalam Sidang Tesis mahasiswa Magister Sains Informasi dan Perpustakaan Universitas Airlangga (UNAIR), Lidya Rosiana, yang berlangsung pada Jumat (12/12/2025). Mengangkat judul Stres dan Coping di Kalangan Pustakawan, Lidya membedah dinamika kerja 353 pustakawan di seluruh Indonesia.

Alih-alih hanya memaparkan data beban kerja, riset ini hadir untuk menyuntikkan semangat baru dan solusi konstruktif bagi profesi pustakawan. Lidya menekankan pentingnya strategi kepemimpinan yang lebih humanis untuk menciptakan lingkungan kerja yang suportif dan produktif.

Dalam temuannya, Lidya mengungkapkan bahwa tekanan organisasi akibat tuntutan administrasi dan akreditasi menjadi pemicu utama stres, terutama bagi pustakawan di lingkungan Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Menyikapi hal tersebut, ia merekomendasikan penerapan Leadership 5.0 sebagai solusi atau penyemangat bagi institusi.

“Pustakawan adalah aset penggerak. Konsep Leadership 5.0 yang berpusat pada manusia (human-centered) sangat diperlukan. Pimpinan perpustakaan diharapkan tidak hanya fokus pada target fisik dan teknologi, tetapi juga hadir memahami kapasitas dan wellbeing stafnya,” jelas Lidya.

Riset ini mengajak para pemangku kebijakan untuk mengubah paradigma manajemen perpustakaan menjadi lebih memanusiakan. Dengan pengelolaan beban kerja yang proporsional dan apresiasi yang layak, pustakawan diharapkan dapat bekerja dengan lebih bahagia, inovatif, dan optimal dalam melayani pemustaka.

Di tengah tantangan tersebut, penelitian ini juga menyoroti sisi positif berupa ketangguhan (resiliensi) pustakawan Indonesia. Lidya menemukan bahwa pustakawan memiliki mekanisme pertahanan diri yang kuat berbasis spiritualitas.

“Strategi coping tertinggi yang dilakukan pustakawan kita adalah berdoa. Ini menunjukkan sisi religiusitas yang menjadi pondasi mental yang kuat,” ungkapnya. Selain itu, dukungan sosial dan kolaborasi antar-rekan kerja terbukti menjadi faktor penguat yang membuat pustakawan tetap solid dan berdedikasi.

Dosen penguji, Prof Dr Septi Ariadi Drs MA memberikan apresiasi atas keberanian Lidya mengangkat topik sensitif ini. Menurutnya, temuan ini sangat relevan sebagai bahan evaluasi bagi institusi.

“Perlu ada korelasi yang jelas antara beban kerja dengan tingkat stres, sehingga rekomendasi yang diberikan kepada lembaga bisa lebih spesifik, misalnya terkait manajemen waktu dan pembagian tugas yang lebih adil agar pustakawan tidak terbebani,” saran Prof. Septi.

Melalui riset ini, Lidya berharap dapat memberikan kontribusi nyata bagi pemajuan profesi pustakawan di Indonesia. “Semoga hasil ini bisa menjadi masukan bagi para pimpinan untuk lebih memperhatikan aspek manusia dalam perpustakaan, sehingga profesi ini semakin bermartabat dan sejahtera,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Abid Zhahiruddin

Editor: Khefti Al Mawalia