Universitas Airlangga Official Website

Risiko ESG, pendidikan CEO, dan gender di Asia Tenggara

Risiko ESG, pendidikan CEO, dan gender di Asia Tenggara
Sumber: Talenta

Penelitian ini mengkaji pengaruh latar belakang pendidikan CEO dari universitas ternama terhadap risiko ESG perusahaan di ASEAN, serta peran moderasi gender CEO. Risiko ESG (Environmental, Social, and Governance) menjadi perhatian utama karena meningkatnya tuntutan pemangku kepentingan agar perusahaan memperhatikan keberlanjutan lingkungan, sosial, dan tata kelola. Berdasarkan teori upper echelon, karakteristik eksekutif seperti latar belakang pendidikan dan pengalaman sangat memengaruhi keputusan strategis perusahaan. CEO yang berpendidikan dari universitas ternama cenderung memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang keberlanjutan dan etika global, yang membantu mengurangi risiko ESG. Pendidikan di institusi bergengsi dianggap membentuk kerangka kognitif eksekutif untuk memandang keberlanjutan sebagai prioritas strategis. Penelitian sebelumnya mendukung hubungan positif antara latar belakang pendidikan elit dengan kinerja keberlanjutan dan pengambilan keputusan strategis. Namun, bukti terkait moderasi gender dalam hubungan ini masih bercampur. Beberapa studi menunjukkan bahwa CEO wanita memiliki empati lebih tinggi dan keterlibatan lebih besar dalam keberlanjutan, tetapi keterbatasan jumlah mereka di tingkat eksekutif mengurangi dampaknya. Studi ini menyoroti urgensi pengelolaan risiko ESG di kawasan ASEAN, yang menghadapi tekanan besar terkait keberlanjutan akibat modernisasi cepat dan pertumbuhan ekonomi tinggi. Kesimpulannya, pemilihan CEO dengan pendidikan elit dapat menjadi strategi untuk memperbaiki tata kelola keberlanjutan perusahaan. Namun, untuk memaksimalkan potensi CEO wanita, diperlukan representasi yang lebih signifikan di tingkat eksekutif.

Sampel mencakup perusahaan di ASEAN selama tahun 2022, dengan data ESG risk diperoleh dari Sustainalytics, latar belakang pendidikan CEO melalui analisis laporan tahunan, dan variabel keuangan dari Thomson Reuters. Metode regresi OLS digunakan untuk menguji hubungan ini. Variabel independen mencakup reputasi universitas (REPUTABLE) sebagai dummy untuk CEO lulusan universitas top 100 berdasarkan QS World University Rankings, serta gender CEO (GENDER). Kontrol meliputi usia CEO, ukuran dewan, ukuran perusahaan, leverage, profitabilitas, dan pendapatan. Hasilnya menunjukkan bahwa CEO lulusan universitas terkemuka secara signifikan mengurangi risiko ESG perusahaan, mendukung hipotesis pertama. Hal ini konsisten dengan teori upper echelon, yang menyatakan bahwa karakteristik eksekutif, seperti pendidikan, membentuk keputusan strategis. Sebaliknya, gender CEO tidak memoderasi hubungan ini, mungkin karena rendahnya representasi perempuan (7,8% dari sampel). Studi ini menyimpulkan bahwa pendidikan dari universitas terkemuka memberikan pemahaman yang lebih baik tentang keberlanjutan dan norma etika, sehingga memperbaiki kinerja ESG perusahaan. Namun, dampak gender CEO tidak signifikan, kemungkinan karena kurangnya critical mass perempuan dalam kepemimpinan. Temuan ini relevan untuk praktik tata kelola dan pengambilan keputusan, terutama dalam rekrutmen CEO dan pengembangan kepemimpinan terkait keberlanjutan.

Penulis : Desi Adhariani, Doddy Setiawan, Iman Harymawan, Winda Wulansari, Ahmad Hambali

Link: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/esg-risk-ceo-education-and-gender-evidence-from-southeast-asia/fingerprints/

Baca juga: Apakah Inovasi Hijau Meningkatkan Kinerja Perusahaan, Menguji Efek Moderasi Masa Jabatan CE