Inovasi model bisnis (business model innovation/BMI) semakin sering dipandang sebagai strategi penting bagi perusahaan untuk bertahan dan unggul dalam persaingan global. Jika inovasi produk atau teknologi sering cepat usang dan mahal, BMI menawarkan jalur yang lebih hemat dengan memanfaatkan sumber daya yang ada secara kreatif. Perusahaan seperti Ryanair dan Walmart menunjukkan bagaimana penataan ulang model bisnis mampu menciptakan keunggulan kompetitif baru. Namun, di balik peluang besar itu, tersimpan risiko yang tidak kalah besar, terutama bagi perusahaan yang sudah mapan.
Mengapa BMI Berisiko?
Banyak perusahaan besar gagal berusaha mencoba melakukan inovasi model bisnis. Sebagian lainnya berhasil, tetapi hanya setelah melewati proses penuh tantangan yang bahkan mengancam kelangsungan hidup perusahaan. Risiko muncul karena perubahan model bisnis menyentuh inti cara perusahaan menciptakan, menyampaikan, dan menangkap nilai. Perubahan ini bisa memicu penolakan pasar, konflik internal, hingga kerugian finansial.
Studi kami, berbasis Delphi expert study, melibatkan akademisi dan praktisi dengan pengalaman luas, mengidentifikasi bahwa risiko BMI di perusahaan mapan dapat dikelompokkan ke dalam empat kategori utama: (i) Risiko strategis, misalnya model baru tidak sesuai dengan kebutuhan pelanggan atau mudah ditiru pesaing, (ii) Risiko operasional, seperti kesulitan dalam mengintegrasikan proses baru atau kegagalan menjaga konsistensi operasional, (iii) Risiko finansial, meliputi dari kanibalisasi pendapatan lama, biaya tinggi, hingga arus kas terganggu karena model baru butuh waktu menghasilkan keuntungan, (iv) Risiko pemangku kepentingan, misalnya resistensi karyawan, gangguan bagi mitra bisnis, atau dampak negatif terhadap komunitas yang bisa memicu intervensi pemerintah.
Faktor Pemicu Risiko
Lebih jauh, studi kami mengungkap ada lima faktor utama yang mendorong munculnya risiko tersebut: (i) Perilaku: resistensi terhadap perubahan, dominasi preferensi pribadi manajer, hingga kurangnya keberanian mengambil risiko, (ii) Sumber daya: keterbatasan modal, teknologi, maupun SDM dengan keterampilan yang relevan, (iii) Tata kelola: kelemahan dalam kepemimpinan, alokasi sumber daya, validasi pelanggan, maupun pengukuran kinerja, (iv) Lingkungan eksternal: dinamika regulasi, respon kompetitor, hingga perilaku konsumen, (v). Komplementaritas: ketidakselarasan strategi pemasaran dan teknologi pendukung dengan model baru.
Yang menarik, temuan studi kami menekankan bahwa faktor-faktor risiko ini saling terkait dan dapat menimbulkan efek sistemik. Artinya, satu kelemahan dapat memperparah kelemahan lain menciptakan “lingkaran setan” kegagalan. Selain itu, bobot tiap faktor sangat tergantung pada konteks perusahaan dan dapat berubah seiring waktu.
Implikasi Bagi Manajer
Temuan ini membawa pesan penting: mengelola risiko BMI tidak bisa sekadar mengadopsi kerangka manajemen risiko umum. Diperlukan dua pendekatan: (i) Pendekatan sistemik – memahami keterkaitan antar risiko dan mengelolanya secara holistic, (ii) Pendekatan kontinjensi – strategi manajemen risiko harus adaptif, disesuaikan dengan konteks perusahaan dan perkembangan tahapan BMI. Dengan kata lain, manajer perlu membangun kapabilitas organisasi yang memungkinkan evaluasi ulang risiko secara berkelanjutan dan pengambilan keputusan yang fleksibel.
Penulis: La Ode Sabaruddin & Philip Linsley
Informasi detail terkait artikel ini dapat dilihat pada: https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1111/caim.70012





