Universitas Airlangga Official Website

Rujukan Terlambat Atresia Bilier dan Luaran Klinis yang Buruk

Aplikasi Asam Ursodeoksikolat pada Bayi dengan Kolestasis
Ilustrasi bayi atresia bilier (Foto: Alodokter)

Atresia bilier merupakan penyakit yang muncul pada masa bayi yang ditandai perkembangan dari kolestasis ke sirosis. Yang pada akhirnya menyebabkan penyakit hati stadium akhir dalam tahun pertama kehidupan. Atresia bilier adalah penyebab utama transplantasi hati pada anak. Prevalensi atresia bilier terbukti bervariasi antar negara. Angka insidensi yang terlapor berkisar antara sekitar 1 dari 5.000 bayi di Taiwan hingga 1 dari 20.000 di Eropa, Kanada, dan beberapa wilayah Amerika Serikat.

Bukti yang tersedia secara konsisten menunjukkan bahwa metode optimal untuk manajemen atresia bilier adalah dengan intervensi sedini mungkin. Prosedur Kasai portoenterostomi (KPE) telah terbukti dapat memperlambat progresivitas atresia bilier. Namun, seringkali bayi dengan atresia bilier dirujuk pada kondisi yang sudah terlambat. Studi ini bertujuan mengevaluasi dampak penundaan rujukan terhadap hasil klinis dan histopatologis pada kasus atresia bilier. Studi observasional prospektif berlaku pada 137 bayi dengan kolestasis. Kemudian, dari jumlah tersebut, hanya 85 yang menjalani biopsi hati, dengan 60 kasus (70,6%) terkonfirmasi sebagai kolestasis ekstrahepatik yang konsisten dengan atresia bilier.

Di antara 60 pasien atresia bilier yang terkonfirmasi, 83,3% dirujuk setelah usia 60 hari. Pasien dalam kelompok rujukan terlambat (>60 hari) pada semua kasus menunjukkan peningkatan jumlah leukosit. Selain itu, juga peningkatan kadar bilirubin total, waktu protrombin yang panjang, dan hipoalbuminemia. Kondisi ini mencerminkan kondisi penyakit yang lebih parah. Ultrasonografi abdomen dua fase mendeteksi kelainan pada 76,7% kasus atresia bilier yang terkonfirmasi. Hal tersebut mendukung potensinya sebagai modalitas skrining pada fasilitas ksehatan yang terbatas.

Selanjutnya, analisis histopatologi menunjukkan prevalensi fibrosis hati yang signifikan lebih tinggi pada pasien yang dirujuk setelah 60 hari (p=0,002), menunjukkan progresivitas penyakit. Temuan ini menekankan kebutuhan mendesak untuk deteksi dini dan rujukan lebih awal pada atresia bilier untuk meningkatkan hasil pengobatan pada bayi dengan atresia bilier.

Penulis: Dr. Bagus Setyoboedi, dr.,Sp.A(K)

Informasi detail artikel:

Masturina M, Prihaningtyas RA, Setyoboedi B, Arief S. Late Referral of Biliary Atresia and Poor Clinical Outcomes. Korean J Gastroenterol. 2025 Jul 25;85(3):382-388. doi: https://doi.org/10.4166/kjg.2025.005. PMID: 40709428.