Penelaahan kesehatan ekosistem (ecosystem health) merupakan salah satu prioritas utama saat ini di seluruh belahan dunia. Sudah lebih dari tiga dekade beberapa hasil kajian yang ditulis dalam beberapa pustaka ilmiah yang membahas tentang kesehatan ekosistem baik ekosistem darat maupun laut, dan pendekatan-pendekatan untuk penelaahannya, khususnya pada ekosistem perairan dan daratan dengan memasukkan berbagai proses dan indikator ekonomi, lingkungan, dan sosial budaya.
Ekosistem laut yang baik adalah saat kondisi keseimbangan rantai kehidupannya terjaga dan stabil. Termasuk potensi satwa akuatik yang memiliki peranan sangat penting di dalam siklus ekosistem laut, termasuk penyu. Peranan penyu di dalam ekosistem laut berperan dalam pemeliharaan habitat, keseimbangan jaring-jaring makanan seperti kontrol populasi ubur-ubur dan pemasok makanan bagi ikan hingga menjaga siklus nutrien yang lebih baik. One health merupakan upaya pendekatan kolaboratif multidisiplin untuk memecahkan tantangan kesehatan global dan lingkungan. Konservasi satwa dan habitatnya dapat menjamin kestabilan ekosistem laut dan mendukung kesejahteraan manusia yang erat kaitanya dengan tujuan one health. Populasi penyu di Indonesia yang terancam kepunahan sehingga membutuhkan upaya pelestarian, salah satunya adalah melalui kegiatan konservasi. Pembangunan daerah pesisir yang berlebihan telah mengurangi habitat penyu untuk bersarang.
Konservasi adalah suatu upaya yang diharapkan dapat mencegah punahnya penyu-penyu, khususnya di Indonesia. Mencegah adanya pemanfaatan penyu dengan alasan komersial seperti penjualan telur, daging, maupun cangkang penyu. Masalah yang terjadi di konservasi adalah terjadinya kegagalan menetas pada telur penyu, 80% penyebab kegagalan menetas telur penyu dikarenakan infeksi mikroorganisme yang terdapat pada cangkang telur. Telur penyu memiliki struktur yang lunak dan terdapat pori-pori yang berfungsi untuk pertukaran gas dan penyerapan air. Mikroorganisme pada pasir dapat menginfeksi telur penyu melalui pori-pori dan menyebabkan kegagalan penetasan. Mikroorganisme telah diketahui berperan dalam penurunan keberhasilan penetasan telur penyu, tidak hanya di sarang alami tetapi juga semi alami sarang. Fusarium spp. merupakan jamur patogen yang sering mengancam proses inkubasi di telur penyu lekang. Kondisi paling fatal yang disebabkan oleh Fusarium spp. Infeksi adalah kematian embrio dini di dalam telur penyu. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan isolasi dan identifikasi jamur patogen Fusarium spp. dari telur penyu lekang yang gagal menetas (Lepidochelys olivacea). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kultur jamur di Sabouroud Dextrose Agar (SDA), dan dilanjutkan dengan identifikasi morfologi dengan metode pewarnaan menggunakan lactophenol cotton blue. Sebanyak 15 sampel telur penyu yang dikumpulkan dari sarang penetasan semi alami di Pantai Boom Banyuwangi, Jawa Timur. Hasilnya mengungkapkan total 5 sampel telur yang gagal menetas ditemukan positif terinfeksi Fusarium spp.
Fusarium spp. adalah salah satu jenis jamur yang dapat menghasilkan racun, atau disebut mikotoksin. Fusarium memiliki empat toksin utama yaitu Miniliformin, Fumonisin B1, Zealarenon dan Beauvericin. Racun yang paling sering ditemukan adalah Beauvericin, lalu diikuti oleh Miniliformin, Zealarenon dan Fumonisin B1. Penyebaran jamur Fusarium spp. dipengaruhi oleh keadaan pH yaitu dari kisaran keasamaan tanah yang memungkinkan jamur Fusarium spp. tumbuh dan melakukan kegiatannya. Sementara itu, suhu di dalam tanah erat kaitannya dengan suhu udara di atas permukaan tanah. Suhu yang terlalu rendah akan menyebabkan suhu tanah yang juga rendah, begitu pula sebaliknya. Suhu berpengaruh terhadap perkembangan jamur. Jamur Fusarium spp. mampu hidup pada suhu tanah antara 10-24áµ’C, meskipun juga tergantung pada isolat jamurnya. Jamur ini cepat berkembang biak pada tanah yang terlalu basah atau becek, kelembaban udara yang tinggi dan pH tanah yang rendah. Studi lanjutan harus dilakukan dengan menggunakan penyu spesies berbeda untuk mendeteksi patogen jamur yang ada dari telur yang belum menetas serta kontaminasi mikroorganisme secara global. Serta ketergantungan pada produktivitas laut hingga interaksi yang intim dalam pemanfaatan hasil laut, diharapkan memetik perhatian yang lebih terhadap keseimbangan dan keberlanjutan satwa di laut lepas.
Penulis Korespondensi: Ratih Novita Praja, drh., M.Si.
Selengkapnya:
Praja, R. N., Yudhana, A., Haditanojo, W., Kusumawardani, A., Putri, A. N. J., Fadillah, I. R., … & Afiyah, N. S. (2023). A Short Note on Fusarium spp Identification from Eggs of Olive Ridley Sea Turtle (Lepidochelys olivacea) in Banyuwangi, East Java, Indonesia. Indian Veterinary Journal, 100(5), 19-22.





