UNAIR NEWS – Universitas Airlangga (UNAIR) Menyambut Idul fitri 1446 Hijriah dengan menggelar sholat Idul fitri pada Senin (31/3/2025). Sholat id berlangsung khusyuk dan khidmat di Masjid Ulul Azmi Kampus MERR-C Universitas Airlangga.
Pada kesempatan kali ini, Rektor Universitas Airlangga Prof Dr Mohammad Nasih MT Ak CA hadir beserta jajaran pimpinan. Prof Nasih juga bertindak selaku khatib pada sholat id kali ini. Jemaah yang hadir bukan hanya dari civitas akademika UNAIR saja, namun juga warga yang ada di sekitar UNAIR Kampus MERR-C.
Idul Fitri adalah Kebahagiaan
Prof Dr Mohammad Nasih MT Ak CA dalam khotbahnya pada sholat Idul fitri kali ini menyampaikan bahwa Idul fitri merupakan kemerdekaan dan kebahagiaan bagi umat muslim. Kemerdekaan berarti terbebas dari belenggu dan menjadi pribadi yang baru dan lebih baik. Prof Nasih juga mengungkapkan bahwa Idul fitri adalah rasa kebahagiaan bersama.
“Harapan kita satu-satunya adalah Allah, belenggu yang selama ini kita rasakan tentu akan menjadikan kita pribadi baru dan dapat memaknai kebahagiaan. Tentunya, kebahagiaan yang hakiki adalah bertemu dengan Idul fitri setelah menjalani 30 hari di bulan ramadan. Selain itu, sebagai manusia kita harus menjadi Al-Insan, dimana manusia tidak hanya jasmani dan rohani yang utuh, tapi juga terdapat intelektualitas. Ketiga potensi tersebut akan menggambarkan bagaimana kesempurnaan seorang manusia,” ungkapnya.
“Kemampuan seseorang untuk me-manage kapasitas potensi jasmani, rohani, dan intelektualitas adalah sesuatu yang penting untuk menjadikannya orang yang berbahagia ketika bertemu dengan Allah Swt,” tambahnya.
Rezeki untuk Kemaslahatan Umat
Prof Nasih juga berpesan agar selalu memanfaatkan rezeki dengan baik dan untuk kemaslahatan umat. Rektor UNAIR tersebut mengungkapkan bahwa rezeki yang bermanfaat adalah rezeki yang pemanfaatannya berada di jalur Allah Swt.
“Jika Allah Swt. memberikan rezeki berupa kekuasaan atau jabatan, maka amanah itu harus kita jalankan dengan sebaik-baiknya. Amanah itu bukan untuk menumpuk kekayaan, tapi untuk melayani dan bahkan bisa mengurangi fakir miskin. Rezeki berupa amanah jabatan tersebut adalah kesempatan dan media kita agar bisa memegang kunci surga. Salah satu cara agar mampu memegang kunci surga itu adalah mencintai fakir miskin,” katanya.
“Oleh karena itu, apapun rezeki maupun amanah yang telah diberikan Allah Swt, kita harus memanfaatkannya untuk kemaslahatan umat. Tentu, dengan berbagi maka juga ada kebahagiaan yang menyelimutinya,” katanya.
Pada akhir, Prof Nasih berpesan agar selalu mempertahankan hal positif pada bulan ramadan. kebiasaan-kebiasaan baik seperti berbagi harus berlangsung konsisten. Apabila kebiasaan baik itu terus berlangsung, maka kita adalah termasuk orang yang berbahagia atas nikmat yang Allah berikan.
“Mari terus menyebarkan kasih sayang dan kebahagiaan di dunia ini, niscaya kita termasuk orang-orang yang beruntung dan bisa berbahagia bertemu Allah Swt di surga nanti. Dan tentu saja, teruslah berbuat baik dan meneladani Rasulullah.”
Penulis: Ragil Kukuh Imanto





