Universitas Airlangga Official Website

Sambut Ramadan, Serambi RMA 1447 H Ajak Mahasiswa Bangun Karakter Berintegritas

Serambi Ramadan Mubarak Airlangga (RMA) 1447 H resmi dibuka melalui kajian bertajuk “Dari Ramadhan ke Puncak Peradaban” pada Jumat (13/2/2026)
Serambi Ramadan Mubarak Airlangga (RMA) 1447 H resmi dibuka melalui kajian bertajuk “Dari Ramadhan ke Puncak Peradaban” pada Jumat (13/2/2026) (Foto: Dok. Panitia)

UNAIR NEWS – Serambi Ramadan Mubarak Airlangga (RMA) 1447 H resmi dibuka melalui kajian bertajuk “Dari Ramadan ke Puncak Peradaban” pada Jumat (13/02/2026). Kegiatan ini terselenggara di Masjid Nuruzzaman Universitas Airlangga Kampus B dan dihadiri oleh mahasiswa yang antusias menyambut datangnya bulan suci Ramadan.

Agenda kajian diawali dengan sambutan dari Ketua UKM Kerohanian Islam Muhammad Faqih El Fahmi. Ia menyampaikan apresiasi kepada panitia atas terselenggaranya acara dengan baik, serta kepada peserta yang menunjukkan antusiasme tinggi. Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Abdur Rouuf selaku Ketua Pelaksana RMA 1447 H. “Kami dari RMA siap menemani Ramadan kalian di UNAIR dengan acara yang telah dirancang semenarik dan semenyenangkan mungkin,” ungkap Rouuf.

Kajian grand opening ini merupakan pembuka dari rentetan agenda RMA 1447 H lainnya yang akan dilaksanakan selama bulan Ramadan. Pada kesempatan tersebut, Dio A. Diadon atau yang akrab disapa “Mas Dio” sebagai pembicara. Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa Ramadan bukan hanya momentum ibadah personal, tetapi juga dapat menjadi titik awal lahirnya peradaban Islam yang lebih baik.

Ia menjelaskan bahwa peradaban tidak dibangun oleh satu individu, melainkan oleh sekelompok orang yang memiliki tujuan dan semangat yang sama. Dalam konteks Ramadan, semangat kolektif umat Islam dalam menyambut bulan suci dapat menular secara positif dan melahirkan gelombang kebaikan yang lebih luas. Terlebih, generasi muda saat ini memiliki peran strategis dalam membentuk arah peradaban.

Lebih lanjut, Dio menyoroti pentingnya membangun karakter berintegritas selama bulan Ramadan. Menurutnya, integritas tidak harus diukur dari standar orang lain, melainkan dari kemampuan diri masing-masing dalam mendekatkan diri kepada Allah. Ia mengajak peserta untuk melibatkan Allah dalam setiap aktivitas sehari-hari, sehingga kebiasaan baik dapat terbentuk secara bertahap. “Beragama itu mudah dan menyenangkan. Nikmati masa muda tanpa melupakan ketaatan,” ujarnya.

Selain itu, ia juga menekankan bahwa istiqamah merupakan proses yang harus diperjuangkan, bukan sesuatu yang datang secara instan. Salah satu cara untuk menjaga konsistensi dalam beribadah adalah dengan aktif mengikuti forum-forum keislaman, seperti kajian dan pengajian, serta memilih lingkungan pertemanan yang mendukung.

Dio mengatakan bahwa esensi dakwah itu tidak terletak pada tempat penyampaiannya, melainkan substansi dakwahnya. Menurutnya, dakwah akan memiliki jangkauan yang lebih luas jika disampaikan dengan metode yang inklusif. “Menyampaikan keindahan Islam itu nggak harus di atas mimbar, bahkan di tongkrongan sekalipun bukan masalah kita bahas Allah,” terangnya.

Pada sesi tanya jawab, dibahas pula tantangan menjadi seorang muslim di tengah kondisi zaman yang penuh distraksi. Peserta diajak untuk memperluas wawasan keislaman dan tidak terpaku pada satu sudut pandang, sehingga dapat menjalani kehidupan dengan lebih tenang dan bijaksana.

Menanggapi pertanyaan terkait lingkungan pergaulan, Dio menyampaikan tiga pendekatan yang dapat dilakukan, yaitu bertahan, mengubah, atau menghindar. Ia menegaskan bahwa yang dapat dikendalikan sepenuhnya adalah diri sendiri, termasuk bagaimana merespons lingkungan sekitar.

Melalui kajian ini, diharapkan mahasiswa dapat menjadikan Ramadan sebagai momentum transformasi diri, sekaligus langkah awal dalam membangun peradaban Islam yang lebih baik di masa depan.

Penulis: Salwa Nurmedina Prasanti/ Panitia RMA 1447 H

Editor: Yulia Rohmawati