n

Universitas Airlangga Official Website

Sastra Indonesia UNAIR, Kuatkan Keilmuan Lokal dan Kerja Sama Internasional

Sastra Indonesia UNAIR
Ilustrasi UNAIR NEWS

UNAIR NEWS  – Perjalanan Program Studi (Prodi) Sastra Indonesia Universitas Airlangga terus menunjukan nilai yang positif.  Peminat prodi yang berada dalam lingkungan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNAIR tersebut terus meningkat tiap tahunnya. Oleh karena itu, pihak prodi juga meningkatkan kuota untuk calon mahasiswa. Tercatat, dari kuota 100 mahasiswa di awal tahun 2000, terus meningkat hingga saat seleksi tahun 2016 lalu menjadi 160 mahasiswa. Dra. Dwi Handayani, M.Hum., selaku Ketua Prodi Sastra Indonesia UNAIR mengatakan bahwa salah satu keunggulan dari prodi memang bisa dilihat dari peminat dan kuota yang tersedia.

“Kuota ini kami naikkan karena melihat peminat Sastra Indonesia dari tahunnya terus meningkat, bahkan 50% calon mahasiswa menempatkan prodi kita ini dipilihan pertama,” jelasnya.

Ketua prodi terbaik UNAIR tahun 2016 tersebut juga menuturkan keunggulan lain yang dimiliki prodi yang dipimpinnya untuk kali kedua ini. Salah satunya adalah adanya peminatan studi filologi. Menurutnya, beberapa prodi Sastra Indonesia di lain universitas sudah mulai menggeser studi filologi.

“Kebanyakan peminatan di kampus lain hanya sastra, linguistik, dan budaya. Kami tetap mempertahankan filologi meski peminantnya sedikit. Untuk itu, kami terus mendorong agar mahasiswa mulai tertarik, dan hasilnya alhamdulillah dari tahun ke tahun peminatnya terus meningkat,” papar perempuan yang akrab disapa Handa.

Mengenai peminatan studi filologi, Handa juga menjelaskan bahwa tahun depan salah satu mata kuliah yang terkait studi filologi yakni folklor atau tradisi lisan akan menjadi mata kuliah wajib. Hal itu diharpakan bisa semakin meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai studi yang mengkaji tentang naskah-naskah lama dan tradisi lisan di masyarakat.

“Solusi yang kami angkat yakni dengan menjadikan mata kuliah folklor yang dulunya pilihan menjadi wajib. Karena kami sekarang sudah punya laboratorium di FIB ini dan di Blitar,” jelasnya.

Kerja sama Internasional

Belajar dari pengalaman mendapatkan akreditasi A yang baru saja diraih tahun lalu. Handa menyatakan bahwa kelayakan sebuah prodi juga diukur dari kerja sama internasional. Hal tersebut mendorongnya untuk menggandeng  Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA) Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) dalam pengamalan tri dharma yang meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Di bidang pendidikan, Handa menjelaskan bahwa ke depan ia ingin ada staf pengajar, baik dari Sastra Indonesia UNAIR maupun ATMA UKM, bisa memberikan kuliah umum atapun pengajaran kepada mahasiswa kedua pihak.  Selain itu, Handa juga berharap selain dosen nantinya juga ada pertukaran mahasiswa.

“Ke depan kami harap dosen UKM bisa mengajar di sini, begitu juga sebaliknya. Selain itu, perihal riset, kami sudah komitmen bahwa salah satu anggota dari tim kami adalah dosen UKM, jadi ada semacam kolaborasi riset,” jelasnya.

Perihal pengabdian masyarakat, Handa menjelaskan mengenai desa binaan yang ada di Desa Kemloko, Blitar. Menurut Handa, pihak ATMA UKM sangat tertarik dengan program pengabdian yang sudah berjalan empat tahun tersebut. Nantinya, pihak ATMA UKM juga ingin mengirimkan mahasiswanya untuk mengikuti kuliah lapangan yang diselenggarakan tiap tahunnya di desa binaan tersebut.

“Kami juga sampaikan, bahwa mahasiswa atau dosen ATMA UKM yang nantinya belajar di UNAIR bisa kami ajak ke desa binaan dan mereka sangat tertarik untuk hal itu,”  pungkas Handa. (*)

Penulis: Nuri Hermawan
Editor:  Faridah Hari