Artikel ini membahas pengembangan scaffold komposit berbasis polyvinylpyrrolidone (PVP) dan hydroxyapatite (HA) melalui metode electrospinning untuk aplikasi rekayasa jaringan tulang pada critical-sized bone defects. Penelitian dilakukan dengan variasi rasio PVP:HA sebesar 100:0, 80:20, 60:40, dan 40:60 untuk mengetahui pengaruh kandungan HA terhadap karakteristik scaffold. Hasil karakterisasi menggunakan XRD menunjukkan bahwa peningkatan kandungan HA meningkatkan kristalinitas scaffold, sedangkan analisis SEM memperlihatkan bahwa scaffold dengan rasio 40:60 memiliki serat nanofiber yang lebih halus, seragam, dan menyerupai struktur extracellular matrix. Selain itu, scaffold 40:60 juga menunjukkan porositas tertinggi sebesar 86,03%, yang sangat mendukung difusi nutrisi, pertumbuhan sel, dan regenerasi jaringan tulang.
Pengujian degradasi dalam simulated body fluid (SBF) selama 21 hari menunjukkan bahwa peningkatan kandungan HA mampu memberikan degradasi yang lebih terkontrol dibandingkan scaffold PVP murni. Scaffold PVP/HA 40:60 mengalami degradasi bertahap dari 20,55% pada hari ke-7 hingga 61,06% pada hari ke-21, sehingga dinilai memiliki keseimbangan yang baik antara stabilitas mekanik, bioaktivitas, dan biodegradabilitas. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa penambahan HA secara optimal mampu meningkatkan performa scaffold electrospinning untuk aplikasi bone tissue engineering, terutama pada komposisi PVP/HA 40:60 yang dianggap paling potensial untuk regenerasi tulang pada cacat tulang berukuran kritis.
Penulis: Ersyzario Edo Yunata, Ph.D
Detail penelitian bisa dilihat di: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/original-research-optimizing-hydroxyapatite-loading-in-electrospi/





