Dalam era digital, gawai telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Remaja kini tumbuh dalam lingkungan yang selalu terhubung dengan layar, entah itu ponsel pintar, laptop, televisi, atau konsol gim. Namun, di balik kemudahan dan hiburan yang ditawarkan teknologi, tersembunyi ancaman serius terhadap kesehatan fisik dan metabolik generasi muda. Penelitian bertujuan mengetahui dampak waktu layar (screen time) terhadap parameter antropometri, kadar insulin, dan HOMA-IR (indikator resistensi insulin) pada remaja usia 12–18 tahun.
Studi ini melibatkan 131 remaja sehat di Surabaya dan Sidoarjo dengan desain cross-sectional, dengan membagi menjadi tiga kelompok berdasarkan durasi screen-time harian: kelompok 1 dengan screen-time sesuai rekomendasi WHO (< 2 jam/hari), kelompok 2 dengan screen-time sedang (3–6 jam/hari), dan kelompok 3 dengan screen-time lama (> 7 jam/hari).
Penelitian ini menemukan bahwa lebih dari 60% remaja menghabiskan waktu layar lebih dari dua jam per hari. Meskipun terlihat wajar dalam konteks kehidupan digital, durasi ini ternyata berhubungan signifikan dengan berbagai indikator kesehatan. Remaja dengan screen time sedang dan berat memiliki risiko lebih tinggi mengalami kelebihan berat badan (overweight), obesitas, resistensi insulin, dan sindrom metabolik. Secara spesifik, screen time sedang meningkatkan risiko overweight 5,6 kali dan obesitas 3,7 kali dibanding kelompok dengan screen time yang direkomendasikan; risiko resistensi insulin (IR) naik 4,1 kali, dan risiko metabolic syndrome (MetS) meningkat hingga 2,2 kali; lebih mencengangkan, screen time berat dikaitkan dengan kenaikan risiko MetS hingga 32 kali lipat.
Selain itu, kadar insulin dan nilai HOMA-IR lebih tinggi pada kelompok dengan screen time panjang, menunjukkan adanya kecenderungan menuju gangguan metabolik seperti diabetes tipe 2 di masa depan. Waktu layar yang berlebihan juga berdampak pada durasi tidur. Remaja dengan screen-time lebih dari tiga jam per hari tidur lebih singkat dibanding kelompok lainnya. Paparan cahaya biru dari layar menghambat produksi hormon melatonin yang mengatur pola tidur. Akibatnya, kualitas dan konsistensi tidur menurun, yang selanjutnya memperburuk keseimbangan metabolik tubuh.
Selain tidur, aktivitas fisik menjadi korban lain. Waktu yang dihabiskan di depan layar mengurangi waktu bergerak, sehingga meningkatkan perilaku sedentari. Kombinasi kurang gerak, pola makan tidak sehat, dan kurang tidur menjadi faktor yang mempercepat penumpukan lemak tubuh dan gangguan regulasi insulin. Menariknya, studi ini juga mengaitkan waktu layar dengan pola konsumsi makanan tidak sehat, seperti camilan tinggi gula dan minuman manis. Paparan iklan makanan cepat saji dan kebiasaan makan sambil menonton memperburuk asupan kalori berlebih. Kebiasaan ini ditemukan juga pada penelitian di Semarang, di mana remaja dengan screen time lebih dari delapan jam per hari mengonsumsi minuman berpemanis rata-rata lima kali seminggu.
Penelitian ini menegaskan bahwa pengawasan orang tua dan regulasi waktu layar sangat penting. Bukan hanya untuk menjaga kesehatan mata atau konsentrasi belajar, tetapi juga untuk mencegah terjadinya sindrom metabolik di usia muda. WHO sendiri merekomendasikan waktu layar tidak lebih dari dua jam per hari bagi anak dan remaja, namun kenyataannya sebagian besar melebihi batas ini. Selain itu, diperlukan edukasi digital parenting yang menekankan keseimbangan antara penggunaan teknologi, aktivitas fisik, dan pola tidur sehat. Program intervensi berbasis sekolah dan keluarga dapat menjadi strategi efektif untuk menurunkan durasi screen time secara bertahap.
Penelitian ini memberi peringatan bahwa screen time lebih dari tiga jam per hari bukan hanya berdampak pada kebiasaan sosial, tetapi juga memicu perubahan biologis berbahaya. Kelebihan waktu layar terbukti berhubungan dengan kenaikan berat badan, resistensi insulin, gangguan tidur, dan risiko sindrom metabolik pada remaja.
Penulis: Nur Aisiyah Widjaja
Detail penelitian bisa diakses di: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/screen-time-anthropometric-parameter-insulin-and-homa-ir-in-adole/





