UNAIR NEWS – Sekolah Pascasarjana UNAIR gelar acara bedah buku kumpulan tulisan KH Hasyim Asy’ari. Kegiatan tersebut mendatangkan narasumber yang merupakan pengurus Pondok Pesantren Tebuireng yaitu KH Abdul Hakim Machfudz. Acara itu terlaksana pada Sabtu (28/10/2023) bertempat di Aula Majapahit, Gedung ASEEC, Universitas Airlangga.
Materi dari kegiatan kali ini mengangkat kisah seputar perjuangan dari KH Hasyim Asy’ari sebagai tokoh Islam dan juga pahlawan nasional dalam menyatukan umat. KH Abdul Hakim Machfudz membawakan materi tersebut untuk merangkum isi dari buku yang berjudul “Kepemimpinan Strategis KH Hasyim Asy’ari Sebagai Pemersatu Umat Islam Indonesia”.
Pemikiran Reflektif Socio-Religius
KH Abdul Hakim membuka materinya dengan menjelaskan terkait proses pembuatan buku tersebut. Ia memaparkan bahwa proses diskusi mengkaji peninggalan tulisan dari KH Hasyim Asy’ari memakan waktu yang cukup panjang. “Setiap Sabtu ada diskusi terkait tulisan peninggalan KH Hasyim Asy’ari dan itu rutin selama 2 tahun,” papar KH Abdul Hakim.
Walaupun begitu, lanjutnya, proses selama 2 tahun tidaklah cukup untuk bisa menyimpulkan garis besar dari tulisan KH Hasyim Asy’ari. KH Abdul Hakim kemudian menjelaskan bahwa beliau dan para santri yang terlibat mengubah arah diskusinya menjadi mengkaji tentang pergerakan oleh KH Hasyim Asy’ari.
“Saya dan para santri yang terlibat kemudian mulai mengkaji soal pergerakan-pergerakan beliau (KH Hasyim Asy’ari, Red) sepulang dari berguru ke Mekkah. Beliau memulai pergerakannya dengan mendirikan Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang. Hal itu termasuk dalam awal pergerakan karena daerah di mana pesantren itu berdiri merupakan daerah yang menjalankan praktik kemaksiatan dan terjadi banyak kemiskinan,” jelas KH Abdul Hakim.

KH Abdul Hakim melanjutkan dengan menceritakan tentang usaha KH Hasyim Asy’ari. Utamanya untuk membimbing masyarakat sekitar pondok pesantren dengan membeli sepetak sawah yang kemudian menjadi sumber kehidupan dari masyarakat. “KH Hasyim Asy’ari adalah sosok pembimbing yang memiliki tekad yang besar untuk merubah kondisi masyarakat demi mencapai kesejahteraan,” ujar KH Abdul Hakim.
Ulama Sekaligus Pahlawan Nasional
Dalam kesempatan tersebut, KH Abdul Hakim juga membagikan kisah pribadi dari KH Hasyim Asy’ari. “Sedari kecil, KH Hasyim Asy’ari sudah membantu ayahnya untuk mengajar di pesantren. Sejak kecil fokus pada bidang keilmuan, sehingga memiliki ilmu dan bekal yang cukup untuk menjadi seorang pejuang,” jelas KH Abdul Hakim.
Selanjutnya, KH Abdul Hakim menyampaikan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari peran KH Hasyim Asy’ari dan golongan islam. Dalam tulisan-tulisannya, sambung KH Abdul Hakim, KH Hasyim Asy’ari menuangkan pemikirannya mengenai peristiwa penting pada era kemerdekaan.
“Kata-kata dalam pancasila yang kental dengan bahasa islami merupakan bukti kontribusi KH Hasyim Asy’ari dalam perjuangan bangsa Indonesia meraih kemerdekaan. Kemudian akhirnya, Indonesia bisa merdeka bersamaan dengan bersatunya umat Islam yang saat itu memiliki populasi mencapai 95 persen,” pungkas KH Abdul Hakim.
Penulis: Adinda Aulia Pratiwi
Editor: Nuri Hermawan
Baca Juga: Sekolah Pascasarjana Langsungkan Seminar Kredit UMKM Penggerak Sektor Ekonomi Daerah





