Studi ini menyelidiki penggunaan sekretom sel induk mesenkim untuk memperbaiki ekspresi berlebih dari tirosin kinase-1 (sFlt-1) seperti fms yang dapat larut dan pembatasan pertumbuhan janin (FGR) pada model SLE hewan. Para peneliti menemukan bahwa pemberian secretome secara signifikan menurunkan ekspresi sFlt-1 plasenta pada model hewan SLE murni, dibandingkan dengan kehamilan tikus normal.
Selain itu, pemberian secretome secara signifikan mencegah pembatasan pertumbuhan janin pada model tikus SLE murni, sebanding dengan kehamilan normal. Penelitian ini juga menunjukkan potensi untuk mencegah tingginya angka keguguran, karena jumlah janin yang diperoleh bisa sama dengan jumlah janin yang diperoleh tikus dalam kelompok hamil normal.
Sel induk di tali pusat manusia memainkan peran penting dalam perkembangan kelainan autoimun, seperti lupus eritematosus sistemik (SLE), yang berhubungan dengan peningkatan pembatasan pertumbuhan janin (FGR), keguguran, dan preeklamsia. Ekspresi sFlt-1 yang berlebihan pada plasenta merupakan prediktor kuat terhadap outcome kehamilan yang merugikan, termasuk FGR dan preeklampsia dengan sindrom antifosfolipid primer. Ekspresi berlebih ini diyakini disebabkan oleh peningkatan sintesis interferon tipe I yang menekan produksi faktor angiogenik, seperti faktor pertumbuhan fibroblas, interleukin-8, dan VEGF. Ekspresi sFlt-1 yang tinggi merupakan salah satu penanda yang paling berpengaruh dalam mempelajari kondisi tersebut.
Terapi sel induk, khususnya sel induk mesenkim (MSC) dan metabolitnya, telah menunjukkan potensi dalam mendorong angiogenesis, menekan faktor anti-angiogenik, mengurangi peradangan, dan mendukung proliferasi sel. Namun, kekhawatiran mengenai gangguan sel pada diferensiasi organ dalam perkembangan janin masih ada. Ide terbaru adalah terapi sel induk bebas sel hanya dengan menggunakan metabolitnya, sekretom, yang mengandung berbagai hormon pertumbuhan dan molekul imunomodulator.
Rahasia sel induk mesenkim bisa lebih bermanfaat daripada sel induk karena muatan spesifiknya mengandung mRNA, miRNA, dan protein yang dapat ditransfer secara biologis ke sel penerima tanpa mengkhawatirkan sikap negatif sel yang tidak terkendali setelah chimerisme sel dengan inang. Secretome juga memiliki keunggulan dalam kemudahan penyimpanan, transfer, dan produksi, serta administrasinya tidak terlalu mengkhawatirkan dibandingkan injeksi MSC.
Dalam penelitian ini, pemberian pristane menyebabkan plasentasi buruk dengan ekspresi sFlt-1 berlebih yang signifikan dan hambatan pertumbuhan janin pada tikus hamil SLE. Suntikan sekretom menghasilkan perbaikan ekspresi berlebih sFlt-1 plasenta secara signifikan dan peningkatan pertumbuhan janin.
Sekretom hUC-MSCs telah menunjukkan efek positif dalam menormalkan sFlt-1 dan mencegah hambatan pertumbuhan janin pada pasien SLE. Hal ini disebabkan kemudahan administrasi dan potensinya sebagai modalitas terapi baru di masa depan. Sekretomnya mengandung VEGF tingkat tinggi dan faktor penting lainnya yang mendukung angiogenesis, yang memainkan peran penting dalam perkembangan plasenta.
Produksi berlebihan faktor anti-angiogenik pada model hewan atau manusia dapat menyebabkan preeklamsia dan hambatan pertumbuhan janin, terutama pada timbulnya SLE dini. Pemberian sekretom juga dapat secara langsung “menyelamatkan” proses plasentasi dan endotelium ibu dengan banyaknya faktor pertumbuhan lainnya, seperti faktor pertumbuhan hepatosit.
Dibandingkan dengan sel induk, secretome memiliki banyak keunggulan, seperti lebih murah, lebih stabil, serta lebih mudah ditangani dan disimpan. Hal ini menjadikannya pengobatan yang potensial bagi pasien SLE, karena bebas sel, aman, dan memiliki lebih sedikit kekhawatiran mengenai tumorigenisitas, karsinogenesis, dan kemungkinan efek pada organogenesis.
Pemberian secretome sel induk telah terbukti menurunkan ekspresi sFlt-1 di plasenta, meningkatkan pertumbuhan janin, dan mencegah keguguran pada model SLE tikus. Temuan yang menjanjikan ini mewakili potensi keuntungan penggunaan secretome untuk mencegah kerusakan plasenta akibat patologi SLE dan sindrom antifosfolipid.
Namun, penelitian ekstensif diperlukan sebelum penatalaksanaan baru di masa depan untuk kerusakan plasenta terkait FGR ini dapat digunakan di klinik. Studi ini juga menyoroti pentingnya mengatasi potensi gangguan sekretom yang berbahaya selama perkembangan embrio dan janin. Persalinan tepat waktu tetap menjadi pilihan klinis terbaik untuk FGR secara umum.
Terapi sel induk menjanjikan dalam mengobati berbagai penyakit, termasuk lupus eritematosus sistemik, preeklampsia, dan preeklampsia. Rahasia sel induk mesenkim, termasuk sFlt-1, telah dieksplorasi potensi penerapannya dalam mendorong angiogenesis pada penyakit kardiovaskular iskemik. Sekretom sel induk juga dapat digunakan untuk perbaikan luka dan pengobatan regeneratif. Namun, sekresi sel induk mesenkim dapat memicu perkembangan kanker melalui fusi sel. Pedoman ARRIVE untuk melaporkan penelitian pada hewan sangat penting untuk memastikan hasil penelitian pada hewan yang akurat dan dapat diandalkan.
Penelitian sel induk telah menunjukkan potensi sekretom sel stroma mesenkim dalam regenerasi bebas sel, khususnya dalam pengobatan hambatan pertumbuhan janin. Gen sFlt-1, suatu reseptor tirosin kinase-1 yang mirip fms, memainkan peran penting dalam hambatan pertumbuhan janin, dengan peningkatan kadar plasma ibu pada preeklamsia yang mengindikasikan asal usul rahim.
Sekretom sel induk mesenkim telah terbukti mempengaruhi potensi terapeutik dengan pra-pengkondisian seluler. Kapasitas diagnostik rasio sFlt-1/PlGF pada hambatan pertumbuhan janin merupakan tinjauan sistematis dan meta-analisis. Peran aspirin dalam pembatasan pertumbuhan janin juga dieksplorasi.
Penulis: Muhammad Ilham Aldika Akbar, dr.,Sp.OG
Sumber: https://doi.org/10.1080/14767058.2023.2279931





