Universitas Airlangga Official Website

Sel Punca dan Sekretom dalam Perbaikan Cedera Pleksus Brakialis

Ilosutrasi Pleksus Brakialis (foto: dok istimewa)

Cedera pleksus brakialis adalah kerusakan pada jaringan saraf yang mengirimkan sinyal dari sumsum tulang belakang ke bahu, lengan, dan tangan. Jaringan saraf ini, yang disebut pleksus brakialis, mengontrol gerakan dan sensasi di ekstremitas atas. Cedera pada pleksus brakialis dapat menyebabkan kelemahan, nyeri, mati rasa, dan hilangnya fungsi pada lengan dan tangan. Salah satu jenis cedera pleksus brakialis yang paling parah adalah cedera total, di mana semua akar saraf pleksus brakialis rusak.

Cedera pleksus brakialis total dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kecelakaan lalu lintas, jatuh, cedera olahraga, dan komplikasi persalinan. Kondisi ini seringkali membutuhkan pembedahan untuk memperbaiki saraf yang rusak. Salah satu prosedur bedah yang umum dilakukan adalah transfer saraf, di mana saraf sehat dari bagian tubuh lain dialihkan untuk menggantikan saraf yang rusak. Namun, tingkat keberhasilan pembedahan bervariasi, dan beberapa pasien mungkin mengalami pemulihan fungsi yang tidak optimal. Faktor-faktor seperti usia pasien, tingkat keparahan cedera, dan waktu yang berlalu sejak cedera dapat memengaruhi hasil pembedahan.

Terapi Regeneratif untuk Cedera Pleksus Brakialis

Dalam beberapa tahun terakhir, para ilmuwan telah meneliti potensi terapi regeneratif untuk meningkatkan penyembuhan saraf pada cedera pleksus brakialis. Terapi regeneratif bertujuan untuk merangsang regenerasi saraf dan meningkatkan fungsi lengan dan tangan. Berbagai pendekatan telah dipelajari, termasuk penggunaan faktor pertumbuhan, terapi gen, dan rekayasa jaringan.

Dua pendekatan terapi regeneratif yang menjanjikan adalah penggunaan sel punca mesenkim (MSCs) dan sekretom. Sel punca mesenkim adalah sel dewasa yang dapat berdiferensiasi menjadi berbagai jenis sel, termasuk sel saraf. MSCs dapat diperoleh dari berbagai sumber, seperti sumsum tulang, jaringan adiposa, dan tali pusat. Sekretom adalah kumpulan faktor pertumbuhan dan molekul bioaktif lainnya yang dilepaskan oleh sel punca. Sekretom diyakini dapat merangsang regenerasi saraf dan mengurangi peradangan.

Studi Baru: Sel Punca vs. Sekretom dalam Perbaikan Saraf

Sebuah studi baru yang diterbitkan dalam European Journal of Orthopaedic Surgery & Traumatology membandingkan efektivitas sel punca dan sekretom dalam meningkatkan hasil operasi transfer saraf interkostal untuk cedera pleksus brakialis total. Transfer saraf interkostal adalah prosedur di mana saraf interkostal, yang mengontrol otot-otot di antara tulang rusuk, dialihkan untuk meremajakan saraf yang mengendalikan gerakan lengan dan tangan.

Studi ini melibatkan 15 pasien dengan cedera pleksus brakialis total yang menjalani operasi transfer saraf interkostal. Selama operasi, pasien secara acak menerima injeksi sel punca mesenkim yang berasal dari tali pusat atau sekretom di sekitar saraf median. Saraf median adalah saraf utama yang mengendalikan gerakan dan sensasi di tangan.

Fungsi lengan dan tangan pasien dievaluasi sebelum operasi dan 8 bulan setelah operasi menggunakan kuesioner SF-36 dan DASH, serta pengukuran kekuatan otot. Kuesioner SF-36 mengukur kualitas hidup yang berhubungan dengan kesehatan, sedangkan kuesioner DASH mengukur disabilitas lengan, bahu, dan tangan. Biopsi jaringan saraf juga diambil untuk menilai peradangan, regenerasi saraf, dan fibrosis (jaringan parut).

Hasil Studi: Perbaikan Klinis yang Signifikan

Hasil studi menunjukkan bahwa baik sel punca maupun sekretom memberikan perbaikan klinis yang signifikan pada pasien dengan cedera pleksus brakialis total.

Pasien di kedua kelompok mengalami peningkatan dalam fungsi fisik, kualitas hidup, dan skala nyeri setelah operasi. Namun, tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelompok sel punca dan sekretom dalam hal perbaikan klinis.

Analisis histologis tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok dalam hal peradangan, regenerasi saraf, dan fibrosis.

Kesimpulan dan Implikasi

Studi ini menunjukkan bahwa baik sel punca maupun sekretom dapat meningkatkan hasil klinis pada pasien dengan cedera pleksus brakialis total yang menjalani operasi transfer saraf interkostal.

Meskipun tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok dalam studi ini, penelitian lebih lanjut dengan jumlah sampel yang lebih besar diperlukan untuk mengkonfirmasi temuan ini dan menentukan pendekatan terapi regeneratif yang optimal untuk cedera pleksus brakialis. Penelitian di masa depan juga harus mengeksplorasi mekanisme di balik efek regeneratif sel punca dan sekretom, serta faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan terapi regeneratif.

Penulis : Wahyu Widodo, Ismail Hadisoebroto Dilogo, Achmad Fauzi Kamal, Radiana Dhewayani Antarianto, Puspita Eka Wuyung, Nurjati Chairani Siregar, Fitri Octaviana, Aria Kekalih, Heri Suroto, Wildan Latief, Witantra Dhamar Hutami

Tautan : https://doi.org/10.1007/s00590-024-04110-6Â