Infeksi virus saat ini dipandang sebagai masalah kesehatan masyarakat yang utama. Virus Hepatitis C (HCV) merupakan salah satu infeksi virus yang menjadi perhatian besar di beberbagai belahan dunia. HCV disebut sebagai “silent killer” karena infeksi akutnya tidak menunjukkan gejala, dan berkembang menjadi infeksi kronis yang menyebabkan karsinoma hepatoselular dan kerusakan hati. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan antara 130-170 juta orang diperkirakan menderita Hepatitis C kronis. Pengobatan HCV saat ini masih memiliki keterbatasan terkait efek samping dan potensi adanya resistensi virus terhadap obat-obat yang ada.
Tumbuhan memiliki berbagai senyawa fitokimia yang penting dalam memberikan khasiat tertentu terhadap suatu penyakit. Senyawa kimia dalam tanaman sering disebut sebagai senyawa metabolit. Selain senyawa metabolit primer seperti karbohidrat, protein dan lemak, tanaman juga mengandung metabolit sekunder seperti alkaloid, terpenoid dan flavonoid. Beberapa penelitian melaporkan aktivitas antivirus hepatitis C dari tanaman dan senyawa metabolitnya. Senyawa golongan alkaloid dan flavonoid merupakan senyawa yang banyak dilaporkan memiliki efek antivirus, terutama anti-HCV. Informasi tersebut memberikan peluang yang besar dalam pencarian dan pengembangan obat anti-HCV baik untuk pengobatan alternatif maupun komplementer pada infeksi virus hepatitis C.
Sebagai upaya pengembangan obat tradisional, maka perlu untuk mengevaluasi senyawa alkaloid dan flavonoid yang berpotensi dalam melawan HCV dengan melihat klasifikasi dan mekanisme kerjanya. Melalui penelusuran literatur, didapatkan 21 artikel dari tahun 2010 hingga 2022 dari database PUBMED dilaporkan bahwa berbagai senyawa alkaloid dan flavonoid memiliki aktivitas yang potensial terhadap HCV dengan berbagai mekanisme. Sebanyak 21 alkaloid dan 37 flavonoid dinyatakan aktif melawan HCV. Alkaloid termasuk quinoline, quinolizidine dan isoquinoline. Selain itu, flavanon, flavonol, flavon, flavan-3-ol, flavonolignan, anthocyanidin dan proanthocyanidin termasuk bagian dari flavonoid. Alkaloid berberin dan flavonoid eriodictyol 7-O-(6″-caffeoyl)-β-D-glucopyranoside memiliki IC50 terendah dengan nilai 0,49 mM dan 0,041 nM. Data ini sangat bermanfaat dalam memberikan dasar untuk pengembangan obat alternatif dan komplementar pada infeksi virus hepatitis C.
Penulis: Tutik Sri Wahyuni, S.Si., Apt., M.Si., Ph.D
Link artikel: https://www.publichealthinafrica.org/jphia/article/view/2514
Judul Artikel ilmiah: Promising alkaloids and flavonoids compounds as anti-hepatitis C virus agents: a review





