Universitas Airlangga Official Website

Sidik Bibir: Potensi Parameter Identifikasi Jenis Kelamin yang Unik

Sidik bibir, yang mengacu pada pola kompleks pada mukosa labial eksternal dan internal, memiliki potensi menarik dalam identifikasi individu. Pola sidik bibir, sama halnya dengan sidik jari, sidik telapak tangan, dan sidik kaki, memiliki karakteristik khas yang memungkinkan pengidentifikasian individu. Yang menarik, pola sidik bibir seseorang tidak akan mengalami perubahan selama hidup dan sangat menim terpengaruh oleh faktor-faktor eksternal.

Berbagai penelitian terdahulu telah menunjukkan validitas sidik bibir sebagai parameter untuk identifikasi jenis kelamin. Penentuan jenis kelamin ini dilakukan dengan menganalisis pola sidik bibir yang tampak pada permukaan bibir. Klasifikasi sidik bibir yang diperkenalkan oleh Suzuki dan Tsuchihashi menjadi metode yang paling umum digunakan untuk mempelajari pola sidik bibir di antara berbagai metodologi yang ada. Dalam penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Krishan dkk. (2016) di populasi India, menemukan bahwa pola sidik bibir tipe I dan I’ lebih banyak ditemukan pada perempuan, sementara tipe IV muncul sebagai pola dominan pada laki-laki. Selain itu, penelitian sebelumnya juga mencatat perbedaan pola jejak bibir berdasarkan jenis kelamin dalam populasi Eropa Kaukasia, orang Negro, dan Oriental.

Penelitian yang dilakukan oleh Departemen Odontologi Forensik FKG Unair ini menggunakan sistem klasifikasi Suzuki dan Tsuchihashi untuk mengevaluasi potensi efikasi pola sidik bibir dalam memudahkan proses penentuan jenis kelamin di antara individu dalam masyarakat Indonesia. Studi ini secara komprehensif menguji pola sidik bibir di antara individu laki-laki dan perempuan di Indonesia. Studi ini menggunakan pendekatan visualisasi secara langsung dan skoring.

Hasil penelitian ini secara tegas menunjukkan tidak adanya pola sidik bibir yang identik di antara subyek yang terlibat. Perlu dicatat bahwa dalam kasus di mana dua subjek menunjukkan pola sidik bibir yang identik di dalam kuadran tertentu, dapat dipastikan masih terdapat perbedaan yang mencolok dalam pola alur sidik bibirnya. Temuan yang diperoleh dari penelitian ini memiliki hubungan yang kuat dengan penyelidikan ilmiah yang dilakukan oleh Suzuki dan Tsuchihashi, memberikan lebih banyak bukti bahwa kemunculan pola sidik bibir yang identik di antara individu jarang terjadi. Selain itu, penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Suzuki dan Tsuchihashi menekankan sifat yang unik dari pola sidik bibir ini, sehingga memiliki potensi kegunaannya dalam ranah penyelidikan kriminal. Atribut khas dari alur dan garis silang yang ada di permukaan bibir, yang menunjukkan variasi antarindividu, dapat berfungsi sebagai dasar kritis untuk identifikasi yang tepat.

Hasil yang diperoleh dari teknik visualisasi sidik bibir secara langsung menunjukkan bahwa tipe II adalah kategori yang paling umum terdapat pada laki-laki dan perempuan Indonesia yang menjadi bagian dari studi ini. Prevalensi tertinggi tipe II terlihat pada kuadran kanan atas (UR) pada laki-laki dan kuadran kiri bawah (LL) pada perempuan. Analisis statistik mengungkapkan perbedaan signifikan dalam pola sidik bibir antara laki-laki dan perempuan pada kuadran kiri atas (UL) dan tengah bawah (LM). Temuan di atas memiliki potensi untuk memberikan kontribusi signifikan dalam bidang analisis pola sidik bibir, khususnya dalam hal penyelidikan perbedaan berdasarkan jenis kelamin. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan pada orang-orang dari Malaysia, Nigeria, dan Mangalore.

Analisis pola sidik bibir menggunakan metode skoring tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan secara statistik antara laki-laki dan perempuan. Ketidaksignifikan statistik yang ditunjukkan dalam penelitian ini dapat disebabkan oleh metodologi yang digunakan, yang melibatkan penjumlahan seluruh skor jejak bibir di semua kuadran. Oleh karena itu, skor keseluruhan yang disajikan tidak cukup menangkap variasi subtil dalam pola jejak bibir yang terkait dengan karakteristik yang berkaitan dengan jenis kelamin.

Penelitian ini menyoroti potensi penggunaan jejak bibir sebagai parameter yang berharga dalam identifikasi forensik, dengan penekanan khusus pada aplikasinya dalam menentukan jenis kelamin individu. Kemungkinan dan keandalan penggunaan sidik bibir untuk tujuan identifikasi individu disebabkan oleh spesifikasinya, keunikannya, stabilitasnya, hereditas, dan keragaman serta individualitas luar biasa dari garis bibir. Selain itu, penting untuk diakui bahwa sidik bibir dapat ditemukan pada berbagai objek, seperti foto, puntung rokok, gelas minum, cangkir, surat, dan jendela. Jejak tersebut memiliki kemampuan menguntungkan untuk diperiksa dan diambil gambar melalui fotografi sebelum dimulainya pemeriksaan forensik tambahan.

Pemeriksaan pola sidik bibir tanpa keraguan memiliki arti penting dalam bidang ilmu forensik, namun penting untuk mengakui dan menghadapi batasan inheren yang terkait dengan praktik ini. Penggunaan analisis pola jejak bibir dalam ilmu forensik terkait dengan berbagai batasan, yang mencakup ketersediaan data antemortem, kualitas jejak bibir, dan representasi sampel dalam penelitian.

Oleh: Arofi Kurniawan, drg., Ph.D

Diambil dari artikel jurnal berjudul: Lip Print Patterns in Forensic Investigation: Detectability, Sex Differentiation, and Reliability

Artikel dapat diakses pada: https://wjarr.com/content/lip-print-patterns-forensic-investigation-detectability-sex-differentiation-and-reliability