Universitas Airlangga Official Website

Sindrom Rubella Kongenital

Foto by AI Care

Congenital Rubella Syndrome (CRS) adalah suatu kumpulan gejala penyakit terdiri dari katarak (kekeruhan lensa mata), penyakit jantung bawaan, gangguan pendengaran, dan keterlambatan perkembangan, termasuk keterlambatan bicara dan disabilitas intelektual. Sindrom rubella kongenital disebabkan infeksi virus rubella pada janin selama masa kehamilan akibat ibu tidak mempunyai kekebalan terhadap virus rubella. Seorang anak dapat menunjukkan satu atau lebih gejala CRS dengan gejala tersering adalah gangguan pendengaran. Congenital Rubella Syndrome (CRS) adalah penyakit pada bayi oleh karena infeksi maternal dengan rubella virus selama kehamilan. Ketika infeksi rubella terjadi selama awal kehamilan, konsekuensi serius seperti abortus, IUFD dan cacat lahir yang parah pada bayi dapat terjadi. Itu risiko infeksi kongenital dan kecacatan paling tinggi selama 12 minggu pertama kehamilan dan menurun setelah minggu ke 12 kehamilan; cacat jarang terjadi setelah infeksi pada minggu ke-20 (atau sesudahnya) kehamilan.

Virus rubella ditransmisikan melalui pernapasan yaitu melalui droplet yang dikeluarkan oleh seseorang yang terinfeksi rubella, setelah terkena droplet, virus ini akan mengalami replikasi di nasofaring dan di daerah kelenjar getah bening. Viremia terjadi antara hari ke-5 sampai hari ke-7 setelah terpajan virus rubella. Dalam ruangan tertutup, virus rubella dapat menular ke setiap orang yang berada di ruangan yang sama dengan penderita. Masa inkubasi virus rubella berkisar antara 14–21 hari. Masa penularan 1 minggu sebelum dan 4 hari setelah onset ruam (rash). Pada episode ini, Virus rubella sangat menular. Ketika infeksi virus rubella terjadi selama awal kehamilan, maka resiko resiko serius lebih sering terjadi yaitu abortus, lahir mati dan sebagainya. Resiko infeksi kongenital dan defek meningkat selama kehamilan 12 minggu pertama dan menurun setelah kehamilan diatas 12 minggu dengan defek jarang terjadi pada kehamilan 20 minggu.

Rubella merupakan penyakit infeksi diantaranya 20–50% kasus bersifat asimptomatis. Gejala rubella hampir mirip dengan penyakit lain yang disertai ruam. Gejala klinis untuk mendiagnosis infeksi virus rubella pada orang dewasa atau pada kehamilan adalah Infeksi bersifat akut yang ditandai oleh adanya ruam makulopapular, Suhu tubuh >37,20C, Artralgia/artrhitis, limfadenopati, konjungtivitis. CRS yang meliputi 4 defek utama yaitu :

  1. Gangguan pendengaran tipe neurosensorik. Timbul bila infeksi terjadi sebelum umur kehamilan 8 minggu. Gejala ini dapat merupakan satu-satunya gejala yang timbul.
  2. Gangguan jantung meliputi PDA, VSD dan stenosis pulmonal.
  3. Gangguan mata : katarak dan glaukoma. Kelainan ini jarang berdiri sendiri.
  4. Retardasi mental dan beberapa kelainan lain antara lain purpura trombositopeni (Blueberry muffin rash) dan Hepatosplenomegali, meningoensefalitis, pneumonitis, dan lain-lain.

Tidak ada pengobatan untuk penyakit campak dan rubella, namun penyakit ini dapat dicegah. Imunisasi dengan vaksin MR adalah pencegahan terbaik untuk kedua penyakit ini. Satu vaksin mencegah dua penyakit sekaligus. Imunisasi MR diberikan pada anak usia 9 bulan sampai dengan kurang dari 15 tahun selama masa kampanye. Imunisasi MR masuk ke dalam jadwal imunisasi rutin segera setelah masa kampanye berakhir, diberikan pada anak usia 9 bulan, 18 bulan dan anak kelas 1 SD/sederajat tanpa dipungut biaya. Untuk dapat memutuskan mata rantai penularan penyakit campak dan rubella maka diperlukan cakupan imunisasi minimal 95%. Dengan cakupan imunisasi MR yang tinggi pada sasaran usia 9 bulan sampai dengan kurang dari 15 tahun ini juga dapat melindungi kelompok usia yang lebih besar termasuk ibu hamil agar tidak tertular virus Rubella, karena sekitar 80% sirkulasi virus campak dan rubella terjadi pada usia tersebut.

Strategi pencegahan utama yang telah terbukti untuk CRS adalah, dan akan terus berlanjut, vaksinasi pada wanita muda. Beberapa wanita terutama yang tidak divaksinasi, akan terus terkena infeksi rubella pada trimester pertama kehamilan, sehingga janin mereka yang belum lahir akan berisiko terkena CRS. Di banyak negara, ini merupakan indikasi aborsi elektif. Prognosis dari rubella postnatal baik dengan sembuh sempurna sedangkan congenital rubella syndrome prognosisnya buruk dengan disertai kerusakan organ multiple yang berat.

Penulis: Dr. Nyilo Purnami, dr. Sp.THT-KL(K).FICS

Jurnal: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/a-study-prevalence-of-congenital-rubella-syndrome-cases-before-an