Universitas Airlangga Official Website

Skala Ketakutan akan COVID-19: Struktur dan Invariansi Pengukurannya di 48 Negara

Foto by waseda jp

Skala ketakutan terhadap COVID-19 (FCV-19S; Ahorsu et al., 2020) menjadi satu instrumen yang populer digunakan untuk mengukur ketakutan di masa pandemi ini. Jika pengukuran dari instrumen ini valid maka akan dapat mengidentifikasi variabel-variabel prediktor serta konsekuensi ketakutan terhadap COVID-19 secara global sehingga bermanfaat dalam membentuk kebijakan nasional dan internasional untuk mencegah efek psikologis yang merusak dari pandemi. Namun demikian, Popularitas dari skala tersebut membutuhkan evaluasi sifat psikometrik secara lintas budaya. Pengukuran invariansi dan validasi instrument FCV-19S di 48 negara pada riset ini juga dilakukan dengan memeriksa hubungannya dengan jenis kelamin, tingkat pendidikan, kecemasan dan stress.

Ketakutan adalah respons adaptif terhadap ancaman (Ramikie & Ressler, 2018), biasanya diikuti dengan penghindaran. Jika ancaman sulit untuk dihindari, seperti halnya dengan pandemi, ancaman tersebut dapat berubah menjadi kecemasan dan stres umum (Gross & Jazaieri, 2014). Literatur menunjukkan adanya hubungan positif antara ketakutan akan COVID-19 di satu sisi, dan kecemasan umum serta stres di sisi lain (Ahorsu et al., 2020; Bitan et al., 2020; Mertens et al., 2021 ; Satici dkk., 2020; Tsipropoulou dkk., 2020). Namun demikian, penting untuk memeriksa besarnya tumpang tindih antara ukuran FCV-19S dan kecemasan, serta ukuran FCV-19S dan stres. Korelasi yang tinggi akan menunjukkan tumpang tindih yang cukup besar antara konstruksi yang diukur (Vatcheva et al., 2016).

Dalam riset ini, kami memeriksa struktur faktor dan invariansi pengukuran FCV-19S di 48 budaya, dan lintas gender dan pendidikan dengan menggunakan analisis faktor konfirmatori multi-kelompok (MGCFA). Untuk tujuan ini, kami mengumpulkan data dari 48 negara dengan menggunakan survei daring yang identik di semua negara. Selain itu, kami juga melakukan pengecekan invariansi atas faktor laten (invarian) bahwa tingkat ketakutan atas COVID-19 akan berkorelasi positif dengan kecemasan dan stres. Pengukuran kecemasan dan stres dilakukan dengan menggunakan skala yang sudah mapan dan banyak digunakan secara lintas budaya yaitu Ini adalah State-Trait Anxiety Inventory 6 (STAI-6; Tluczek et al., 2009) dan Perceived Stress Scale 4 (PSS-4; Cohen et al., 1983).

Pengambilan data dilakukan secara daring di 48 negara (yaitu Austria, Indonesia, Ghana, Polandia, India, Brazil, dst) di antara 24 April dan 20 November 2020. Partisipan diundang melalui email atau pengumuman di forum daring yang menyertakan tautan survei. Di sana, partisipan melaporkan kebangsaan dan negara tempat tinggal mereka, dan memilih versi bahasa pilihan mereka (tersedia pilihan 35 bahasa). Penelitian ini hanya memasukkan partisipan berusia di atas 18 tahun. Sampel terdiri dari 14.558 partisipan (65,64% wanita, 33,76% pria, 0,60% “lainnya” atau tidak dilaporkan). Dari keseluruhan partisipan, 1,15% menyelesaikan level Sekolah Dasar, 4,32% menyelesaikan SMP, 28,75% menyelesaikan pada level SMA, 37,52% memiliki gelar Sarjana (atau setara), 22,94% bergelar Master (atau setara), dan 5,33% bergelar doktor.

Hasil penelitian

Skala FCV-19S (Ahorsu et al., 2020) menunjukkan isyarat yang bersifat unifaktor ketika digunakan secara lintas budaya. Namun demikian, perlu pula dilakukan investigasi lanjutan karena adanya heterogenitas dalam model pengukuran. Terdapat dua aspek ketakutan atas COVID-19 yang direpresentasikan oleh skala ini, yaitu psikologis dan fisiologis. Namun demikian, item yang mengukur aspek psikologis lebih sering menunjukkan adanya non-invariansi daripada item yang mengukur aspek fisiologis. Aspek fisiologis ketakutan juga terlihat kurang begitu menonjol.

Hasil riset juga menunjukkan bahwa wanita lebih memiliki ketakutan terhadap COVID-19 daripada pria. Partisipan dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah menunjukkan ketakutan yang lebih tinggi terhadap COVID-19. Selain itu, ketakutan akan COVID-19 berhubungan positif dengan kecemasan dan stres di sebagian besar negara (kecuali Jepang dan Uruguay), baik pada pria maupun wanita dan pada tingkat pendidikan yang berbeda.

Meskipun skala ini cocok digunakan untuk penelitian lintas budaya, skala ini juga memiliki keterbatasan terutama ketika memeriksa hubungan korelasional dan variabel-variabel prediktor ketakutan terhadap COVID-19 (seperti yang ditunjukkan oleh tingkat metrik invarian). Namun, mengingat jumlah penyesuaian yang diperlukan dalam model, penggunaan skor laten (variabel laten) lebih direkomendasikan.

Terlepas dari itu, bukti yang lebih konklusif tentang struktur faktor yang mendasari instrument hanya dapat diperoleh dengan data longitudinal, karena data cross-sectional dapat mengaburkannya.

Penulis: Dr. Rahkman Ardi

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

http://dx.doi.org/10.1037/pas0001102

Sawicki, A. J., Żemojtel-Piotrowska, M., Balcerowska, J. M., Sawicka, M. J., Piotrowski, J., Sedikides, C., Jonason, P.K., Maltby, J., Adamovic, M., Agada, A.M.D., Ahmed, O., Al-Shawaf, L., Appaih, S.C., Ardi, R… Zand, S. (2022). The fear of COVID-19 scale: Its structure and measurement invariance across 48 countries. Psychological Assessment, 34(3), 294-310.