Universitas Airlangga Official Website

Srining Hipotiroid Kongenital dan Optimalisasi Pertumbuhan dan Perkembangan Anak

Foto by Mother and Beyond

Orang tua tentu saya sangat mendambakan buah hati yang sehat. Skrining bayi lahir sudah lazim dilakukan di banyak negara maju dan berkembang termasuk di Kawasan Asia. Salah satu deteksi dini yang dilakukan pada bayi baru lahir adalah skrining hipotiroid kongenital(SHK). Baru-baru ini Kementerian Kesehatan meluncurkan ulang (relaunching) program Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK) bayi baru lahir di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia.

Hipotiroid kongenital adalah kelainan yang disebabkan kekurangan hormon tiroid yang terjadi sejak dalam kandungan. Kondisi ini bersifat sporadic dan disandi oleh kelainan pada gen tertentu. Kejadian hipotiroid kongenital mencapai 1: 3000 kelahiran di seluruh dunia. Penelitian di RSCM (2000-2014) melaporkan rasio kejadian hipotiroid kongenital pada bayi baru lahir yang dilakukan skrining mencapai 1: 2135 kelahiran. Bila angka kelahiran anak di Indonesia mencapai 5 juta/tahun, terdapat lebih dari 2000 bayi baru lahir yang menderita hipotiroid kongenital per tahun dan akan terakumulasi setiap tahunnya.

Kelenjar tiroid merupakan kelenjar endokrin yang terletak di leher bagian depan dan terdiri dari 2 bagian (lobus kanan dan lobus kiri) yang menyatu pada bagian tengah seperti kupu-kupu.  Kelenjar ini mengeluarkan hormon tiroid (hormon tiroksin, T4 dan triidotironin, T3) yang diatur melalui mekanisme umpan balik bersama thyroid stimulating hormone (TSH) yang disandi dari hipofise.

Hormon tiroid memiliki peran sangat penting dalam hal metabolisme (metabolisme protein, lemak, karbohidrat) dan aktivitas fisiologik hampir seluruh organ tubuh. Kekurangan hormon tiroid dapat menimbulkan gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anak sejak dalam kandungan, termasuk sistem saraf dan otak. Hipotiroid kongenital adalah kelainan akibat kekurangan hormon tiroid yang terjadi sejak dalam kandungan. Keterlambatan diagnosis dan pengobatan dini dapat meningkatkan risiko terjadinya disabilitas intelektual.

Data penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa sebanyak 70% diagnosis hipotiroid kongenital baru diketahui pada anak usia di atas 1 tahun. Gangguan pada otak terkait HK yang dideteksi terlambat bersifat irreversible. Anak dengan HK yang lahir dari ibu yang normal tiroid tidak menunjukkan gejala saat lahir. Oleh karena itu sangat penting dilakukan skrining HK pada semua bayi baru lahir.

Bila hipotiroid kongenital ini bisa diketahui sedini mungkin, pemberian terapi pengganti hormon dapat segera diberikan. Pemberian terapi yang tepat sebelum anak berusia 1 bulan, dapat mencegah kerusakan yang terjadi sehingga tumbuh kembang anak dapat optimal seperti anak sehat lainnya.

Pemeriksaan hormon tiroid ini dapat dilakukan sejak anak usia 2 hari (lebih dair 2×24 jam )  dengan memeriksakan kadar TSH neonatus melalui program Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK). Program SHK pertama kali dimulai pada tahun 1972 di Amerika Utara. Di Indonesia sendiri, pemerintah sudah memulai program skrining ini pada tahun 2008 di 8 provinsi, yakni Sumbar, DKI Jakarta, Jabar, Jateng, DI Yogyakarta, Jatim, Bali dan Sulsel. Kebijakan Kemenkes untuk perluasan cakupan skinning dilakukan secara bertahap dan diharapkan seluruh provinsi sudah dapat menyelenggarakan SHK pada bayi baru lahir. Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK) adalah skrining/uji saring yang dilakukan pada bayi baru lahir untuk memilah bayi yang menderita Hipotiroid Kongenital (HK) dan bayi yang bukan penderita.

Pada pelaksanaanya, Skrining Hipotiroid Kongenital dilakukan dengan pengambilan sampel darah pada tumit bayi yang berusia minimal 48 sampai 72 jam dan maksimal 2 minggu oleh tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan pemberi layanan Kesehatan Ibu dan Anak (baik FKTP maupun FKRTL), sebagai bagian dari pelayanan neonatal esensial. Dengan adanya pemahaman pentingnya SHK ini diharapkan cakupan skrining hipotiroid kongenital akan semakin meningkat dan lebih banyak anak-anak yang mendapatkan pengobatan optimal sedini mungkin. 

Penulis: Nur Rochmah, Yuni Hisbiyah, Rayi Kurnia P, Muhammad Faizi

Jurnal: https://revistaamplamente.com/index.php/ijfmt/article/view/17604