Hipertensi paru (pulmonary arterial hypertension/PAH) merupakan penyakit progresif yang menyerang pembuluh darah paru dan menimbulkan beban tinggi pada jantung kanan. Meskipun termasuk penyakit langka, PAH sangat berbahaya karena sering kali tidak terdiagnosis dini. Gejala awal seperti sesak napas atau mudah lelah kerap diabaikan, padahal kondisi ini berpotensi menyebabkan gagal jantung kanan dan kematian mendadak. Oleh karena itu, diperlukan metode deteksi dini yang lebih akurat dan sensitif dalam menilai risiko pasien.
Selama ini, dokter menggunakan parameter ekokardiografi seperti TAPSE (tricuspid annular plane systolic excursion) dan RVFAC (right ventricular fractional area change) untuk menilai fungsi jantung kanan. Namun, parameter tersebut memiliki keterbatasan, terutama dalam mendeteksi disfungsi dini yang belum tampak secara klinis. Keterbatasan tersebut mendorong para peneliti untuk mencari biomarker yang lebih sensitif dan dapat mendeteksi gangguan fungsi jantung kanan sejak awal, salah satunya adalah right ventricular free-wall longitudinal strain (RVfwLS).
RVfwLS adalah parameter yang diukur menggunakan teknologi speckle-tracking echocardiography, sebuah metode pencitraan non-invasif yang mampu mengukur regangan otot jantung kanan saat berkontraksi. Nilai RVfwLS yang rendah menandakan bahwa otot jantung kanan mulai melemah. Berbeda dengan parameter konvensional yang hanya menilai pergerakan sebagian dinding jantung, RVfwLS menggambarkan fungsi longitudinal seluruh dinding bebas ventrikel kanan, sehingga memberikan gambaran lebih komprehensif.
Sebuah tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga melakukan meta-analisis terhadap enam studi internasional yang melibatkan total 693 pasien PAH dari berbagai negara. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi apakah RVfwLS dapat menjadi prediktor yang kuat terhadap kematian dan kejadian klinis pada pasien dengan hipertensi paru. Hasilnya menunjukkan bahwa penurunan nilai RVfwLS secara signifikan berhubungan dengan peningkatan risiko kematian. Dengan kata lain, semakin buruk strain otot jantung kanan, semakin tinggi risiko kematian yang dihadapi pasien.
Analisis data menunjukkan bahwa setiap penurunan 1% pada nilai RVfwLS dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian sebesar 10–15%. Temuan ini konsisten di berbagai studi, baik yang menggunakan pendekatan nilai kontinu maupun berdasarkan ambang batas tertentu. Selain itu, meskipun hubungan antara RVfwLS dan kejadian klinis gabungan seperti rawat inap dan kebutuhan terapi lanjutan tidak selalu signifikan secara statistik, arah asosiasi tetap mengarah pada peningkatan risiko bila RVfwLS memburuk.
Penelitian ini menegaskan pentingnya RVfwLS sebagai alat prognostik pada pasien PAH. Keunggulan RVfwLS terletak pada kemampuannya mendeteksi perubahan fungsi jantung kanan sebelum terjadi kerusakan yang lebih parah. Bahkan, beberapa studi menunjukkan bahwa RVfwLS lebih unggul dibandingkan parameter konvensional dalam memprediksi kematian.
Temuan ini membuka peluang besar untuk meningkatkan stratifikasi risiko pasien PAH secara lebih dini dan akurat. Dengan memasukkan RVfwLS ke dalam evaluasi rutin, dokter dapat merencanakan intervensi lebih cepat dan tepat sasaran. Hal ini tentunya sangat penting, mengingat kegagalan jantung kanan merupakan penyebab utama kematian pada pasien dengan hipertensi paru. Namun demikian, masih diperlukan standarisasi teknik pengukuran RVfwLS agar hasilnya dapat diinterpretasikan secara konsisten di berbagai pusat layanan kesehatan.
Dengan memanfaatkan teknologi pencitraan jantung yang lebih canggih seperti speckle-tracking echocardiography, dunia medis kini memiliki peluang baru untuk meningkatkan kualitas hidup pasien PAH. RVfwLS bukan hanya angka dalam laporan echocardiography, melainkan bisa menjadi indikator kehidupan yang menyelamatkan. Dengan deteksi lebih awal, intervensi lebih cepat, dan pemantauan lebih presisi, harapan hidup pasien PAH pun dapat ditingkatkan secara nyata.
Penulis: Dr. I Gde Rurus Suryawan, dr. Sp.JP(K)FIHA.FAPSC.FACC.FSCAI.FAsCC
Sumber:
Artikel ilmiah telah dipublikasikan di Journal of Medicinal and Pharmaceutical Chemistry Research Volume 7, 2025: 2384–2396. DOI: 10.48309/JMPCR.2025.503672.1587





