Universitas Airlangga Official Website

Strategi, Faktor, dan Respons Permintaan Maaf dalam Bahasa Jawa dan Madura: Kajian Pragmatik Lintas Budaya

Permintaan maaf memiliki teknik, faktor, dan nilai yang beragam dalam masyarakat Jawa dan Madura. Kalaupun tidak ada tindakan yang merugikan, orang Jawa cenderung meminta maaf terlebih dahulu, sedangkan orang Madura dianggap memiliki kepribadian yang keras dan jarang meminta maaf. Permintaan maaf merupakan salah satu jenis kontak sosial yang harus mempertimbangkan identitas sosial budaya, topik pembicaraan, konteks situasi, dan norma kesantunan yang sesuai.

Permintaan maaf juga merupakan tindak ilokusi ekspresif yang mana penuturnya menyampaikan penyesalan. Pada masyarakat Jawa dan Madura, penutur lebih bertanggung jawab terhadap kesantunan berbahasa dan harus membujuk penutur untuk menerima permintaan maafnya. Siti Ramlah dan Ni Wayan Sartini telah melakukan penelitian yang membandingkan teknik, faktor, dan respon permintaan maaf dalam bahasa Jawa dan Madura. Temuan penelitian ini diharapkan dapat membantu pengembangan pragmatik lintas budaya dan pemahaman budaya permintaan maaf pada masyarakat Jawa dan Madura.

Ada teknik meminta maaf dalam tindak tutur ekspresif. Taktik ini mencakup permintaan maaf secara langsung, mengklarifikasi alasan kesalahan, mengakui tanggung jawab, melakukan perbaikan, dan bersumpah untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Permintaan maaf dapat dilakukan ketika seseorang yakin bahwa mereka telah melakukan kesalahan atau melanggar aturan sosial, dan permintaan maaf dapat membantu meningkatkan hubungan pembicara-pendengar. Permintaan maaf dapat diungkapkan dengan kata-kata atau ungkapan formula yang mengungkapkan rasa sakit atau penyesalan. Permintaan maaf juga dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung, tergantung pada keadaan dan hubungan pembicara-pendengar. Tanggapan terhadap permintaan maaf memiliki tiga karakteristik penting: (1) mengakui, (2) tidak yakin, dan (3) menolak. Ketiga tanggapan ini menunjukkan bagaimana sebagian besar individu berperilaku ketika mereka dimintai maaf.

Menurut hipotesis Whorfian, bahasa dapat mempengaruhi pandangan dunia dan perilaku anggota kelompok melalui determinisme linguistik atau relativitas linguistik. Komunikasi antarbudaya juga dipengaruhi oleh norma dan nilai budaya, yang dapat dikaji dengan menggunakan pragmatik antarbudaya dan lintas budaya. Pragmatik antar budaya adalah studi tentang interaksi antara penutur bahasa dan budaya yang berbeda, sedangkan pragmatik lintas budaya adalah studi tentang penggunaan bahasa oleh berbagai penutur asli. Pragmatik lintas budaya menyelidiki perbedaan nilai-nilai budaya yang diungkapkan melalui bahasa dan strategi komunikatif. Memahami bagaimana budaya yang berbeda memanfaatkan bahasa sangat penting untuk menghindari kesalahpahaman dan kegagalan pragmatis. Pragmatik lintas budaya menarik perhatian pada kesenjangan komunikasi yang timbul dari konteks, interaksi, dan situasi.

Masyarakat Jawa menggunakan beragam bahasa yang mereka gunakan untuk berinteraksi dengan orang yang lebih tua, teman sebaya, dan orang yang lebih muda. Saat meminta maaf kepada orang yang lebih tua, orang Jawa sering menggunakan strategi penjelasan. Sebanyak 30% responden dalam survei ini menunjukkan kesedihannya dengan memberikan penjelasan. Saat meminta maaf kepada orang lanjut usia, orang Jawa jarang menggunakan teknik perbaikan. Mereka justru akan memberikan penjelasan tegas. Selain itu, ketika meminta maaf kepada orang lain, orang Jawa juga menggunakan taktik penjelasan. Saat berkomunikasi dengan teman sebaya, orang Jawa lebih cenderung menjelaskan kesalahannya dibandingkan langsung meminta maaf. Mereka mengungkapkan kesedihan terlebih dahulu, kemudian menjelaskan keadaan yang menyebabkan kesalahan tersebut. Saat meminta maaf kepada orang yang lebih muda, orang Jawa juga menggunakan taktik penjelasan. Dalam budaya Jawa, permintaan maaf secara langsung merupakan respons yang wajar dan tidak ada pembenaran tambahan atas kesalahan yang sering kali menyertainya.

Orang Madura berbicara dalam berbagai bahasa kepada orang tua dan muda. Mereka juga punya banyak cara untuk meminta maaf kepada orang lain yang lebih muda, lebih tua, atau seumuran dengan mereka. Masyarakat Madura meminta maaf kepada orang yang lebih tua dengan cara yang paling mendasar. Sebaliknya, generasi muda meminta maaf secara singkat dan sering. Mereka sering menggunakan pendekatan penjelasan ketika meminta maaf kepada orang yang lebih tua untuk mengklarifikasi peristiwa atau masalah yang terjadi. Masyarakat Madura dikenal karena rasa hormatnya terhadap orang yang lebih tua dan sopan santun saat berinteraksi dengan mereka. Mereka juga menerapkan pendekatan yang terus terang ketika meminta maaf kepada teman sebayanya dan jarang membuat janji dengan sabar. Mereka juga menggunakan teknik lugas dan penjelasan sambil meminta maaf kepada generasi muda.

Orang Jawa mempunyai tiga alasan utama mengapa mereka meminta maaf kepada orang lain: mereka berbuat salah, menolak, dan terlambat. Hal ini didukung oleh delapan faktor lain yang mempengaruhi permintaan maaf, seperti meminta sesuatu, tidak setuju, dan takut ditegur. Di sisi lain, masyarakat Madura mempunyai alasan yang sama dalam meminta maaf, seperti berbuat salah, menolak, dan terlambat. Namun terdapat perbedaan faktor pelindung perasaan, ketersinggungan, ketidaksopanan, dan etika berbahasa antara masyarakat Madura dan Jawa.

Orang Jawa mempunyai lima cara menanggapi permintaan maaf: langsung, penjelasan, tanggung jawab, perbaikan, dan janji kesabaran. Masyarakat Madura menggunakan enam taktik serupa. Temuan ini menunjukkan bahwa kedua komunitas lebih bersedia menerima permintaan maaf karena menerapkan strategi ini. Namun, sebagian orang masih ragu atau enggan meminta maaf. Respon masyarakat Madura menekankan perlunya penjelasan dan pembenaran dalam permintaan maaf. Reaksi masyarakat Jawa dan Madura terhadap permintaan maaf menunjukkan bahwa mereka pemaaf dan toleran terhadap kesalahan asalkan ada kemauan untuk melakukan perbaikan dan bersumpah untuk tidak mengulanginya.

Menurut penelitian ini, prosedur permintaan maaf orang Madura lebih canggih dibandingkan orang Jawa. Orang Madura lebih lugas saat meminta maaf kepada orang yang lebih tua, namun orang Jawa lebih detail. Sedangkan masyarakat Madura pendekatannya lebih natural saat meminta maaf kepada orang yang lebih muda, sedangkan masyarakat Jawa pendekatannya lebih lugas. Melakukan kesalahan dan terlambat adalah dua penyebab yang sama-sama memicu permintaan maaf antara masyarakat Jawa dan Madura. Namun masyarakat Jawa lebih cenderung meminta maaf dengan penjelasan, sedangkan masyarakat Madura lebih cenderung meminta maaf secara langsung. Selanjutnya masyarakat Jawa dan Madura menerima permintaan maaf berdasarkan metode lima komponen dan menyikapinya secara bertanggung jawab. Terakhir, ketika meminta maaf, masyarakat Jawa dan Madura memiliki norma budaya yang sebanding.

Penulis: Siti Ramlah & Ni Wayan Sartini

Sumber: Siti Ramlah & Ni Wayan Sartini (2023) Strategy, factor, and response of apologies in Javanese and Madurese: A cross-cultural pragmatics study, Cogent Arts & Humanities, 10:2

https://doi.org/10.1080/23311983.2023.2275341